KETIK, SURABAYA – Dunia teknologi keuangan kini tengah bersiap menghadapi pergeseran besar menuju masa depan sistem pembayaran yang sepenuhnya terintegrasi dengan aktivitas manusia.
Transformasi ini diprediksi akan menghapus ketergantungan masyarakat pada uang tunai maupun kartu fisik dalam waktu dekat.
Hal ini disampaikan oleh Didin Noor Ali, Group CEO dan Founder Infesta Corp pada acara buka bersama Surabaya Friendship Community (SFC) bertajuk Growing Together, Connecting Hearts, di Resto Nine Surabaya pada 6 Maret 2026
Menurut dia, Intervensi Financial Technology (fintech) telah berhasil meningkatkan literasi keuangan Indonesia secara drastis, dari hanya 30 persen pemilik rekening bank menjadi 90% pengguna layanan keuangan digital.
Kehadiran dompet digital seperti GoPay, Shopeepay, dan OVO menjadi kunci utama yang memangkas kerumitan birokrasi perbankan konvensional.
“Sekitar 20 tahun lalu, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hanya 30% masyarakat yang memiliki rekening bank. Namun dengan hadirnya fintech, rasio tersebut mengecil dan sekarang sudah mencapai sekitar 90%,” ujar alumni Universitas Indonesia tersebut.
Fenomena penutupan ratusan kantor cabang bank setiap tahunnya menjadi sinyal kuat bahwa era perbankan fisik mulai berakhir. Sebaliknya, bank digital dan embedded payment, sebuah sistem fitur transaksi ditanamkan langsung ke dalam berbagai platform informasi digital, kini tumbuh pesat karena menawarkan efisiensi transaksi yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Salah satu inovasi yang segera hadir adalah QRIS Tap yang memanfaatkan teknologi Near Field Communication (NFC) untuk mempermudah akses transportasi publik dan retail.
Teknologi ini diprediksi akan membuat penggunaan kartu fisik seperti e-toll menjadi tidak relevan lagi dalam beberapa tahun ke depan.
“Jadi cukup tempelkan ponsel menggunakan teknologi NFC untuk pembayaran, kami sudah mengujinya dalam sandbox (lingkungan uji coba) dan hasilnya luar biasa. Misalnya saya menggunakan kartu Bank Jatim sebagai sumber dana, lalu saya tempelkan di gerbang MRT, gerbangnya langsung terbuka,” ucapnya.
Penerima penghargaan CEO of The Year 2023 ini menambahkan bahwa sistem pembayaran lintas negara juga semakin efisien dengan biaya transfer internasional yang kini jauh lebih murah berkat standarisasi QRIS.
Transaksi di luar negeri seperti di Thailand kini bisa dilakukan semudah memindai kode di warung tetangga dengan biaya yang sangat minim.
“Hebatnya lagi, QRIS sekarang sudah cross-border (lintas negara), saya sempat kaget saat di Thailand, saya menggunakan saldo GoPay untuk membeli kelapa muda dan transaksinya sukses, ternyata dompet digital kita seperti GoPay atau OVO sudah bisa digunakan disana,” ungkap penerima penghargaan Best Fintech Company 2023 tersebut.
Visi masa depan juga mendorong pelaku usaha, khususnya di Jawa Timur, untuk mulai menerapkan sistem embedded payment pada setiap portal informasi produk.
Dengan fitur ini, kata dia, situs web tidak lagi hanya menampilkan katalog barang, tetapi bisa langsung memproses transaksi dan pengiriman secara otomatis.
“Visi yang paling krusial bagi kita di Jawa Timur adalah Embedded Payment. Ini adalah terobosan di mana infrastruktur pembayaran bisa langsung ditempelkan (embed) ke dalam platform apa pun. Jika anda memiliki situs web atau portal, anda tinggal menempelkan fitur embedded payment tersebut, dan transaksi bisa langsung dilakukan di sana," ujarnya penerima penghargaan Forbes Indonesia 30 Under 30 tahun 2022 tersebut.
Selain itu, ia berharap digitalisasi ini mampu memperkuat ketahanan pangan daerah melalui konektivitas data stok komoditas yang terintegrasi dengan sistem pembayaran.
Jika sistem ini berjalan, laniut dia, distribusi komoditas antarwilayah dapat dilakukan secara instan tanpa hambatan prosedur pembayaran yang manual.
Setelah era cashless (tanpa uang tunai) dan cardless (tanpa kartu) mapan, masyarakat diprediksi akan segera memasuki fase baru yang disebut sebagai biometric payment. Sistem ini memungkinkan seseorang melakukan pembayaran hanya dengan identitas fisik yang melekat pada tubuh mereka tanpa alat bantu apapun.
Teknologi pemindaian wajah, retina mata, hingga sidik jari nantinya akan terintegrasi langsung dengan data kependudukan (Dukcapil) untuk otentikasi transaksi. Di masa depan, seseorang bisa berbelanja di minimarket atau naik MRT hanya dengan "membawa diri" tanpa perlu pusing mencari ponsel atau dompet.
“Nanti, untuk naik MRT atau berbelanja di minimarket, kita tidak perlu lagi membawa kartu, dompet, bahkan ponsel. Cukup dengan pemindaian biometrik yang melekat pada tubuh kita, seperti sidik jari, suara, retina mata, cukup pindai, dan transaksi selesai,” jelasnya.
Perubahan cepat ini menuntut semua pihak untuk segera beradaptasi agar tidak tertinggal oleh kemajuan zaman yang bersifat mendisrupsi.
Mereka yang mampu mengadopsi teknologi pembayaran terbaru inilah yang akan keluar sebagai pemenang dalam ekosistem ekonomi digital masa depan.
“Dunia berubah dengan sangat cepat, suka atau tidak. Jika tidak beradaptasi, kita akan bernasib seperti dinosaurus yang punah atau seperti raksasa teknologi masa lalu seperti BlackBerry, Nokia, dan Motorola,” pungkasnya (*)
