KETIK, PACITAN – Turnamen Voli di Nawangan Pacitan Ricuh, Begini Kronologinya
Turnamen bola voli antardesa di Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, diwarnai kericuhan.
Perselisihan bermula dari protes administrasi pemain pada laga semifinal putra antara Desa Tokawi dan Desa Jetis Lor, kemudian merembet hingga pertandingan lainnya.
Kronologi
Berdasarkan informasi yang dihimpun, persoalan bermula saat semifinal putra antara Desa Tokawi dan Desa Jetis Lor pada Jumat malam, 7 Agustus 2026.
Baca Juga:
Cegah Risiko Kontaminasi, 50 Ahli Gizi hingga Pramusaji RSUD dr. Darsono Pacitan DilatihTim Desa Tokawi memprotes administrasi salah seorang pemain Desa Jetis Lor yang diduga tidak sesuai dengan desa asal sebagaimana ketentuan yang telah disepakati dalam technical meeting.
Protes tersebut kemudian disampaikan kepada panitia.
Sebelum pertandingan dimulai, panitia memfasilitasi mediasi tertutup antara kedua tim.
Desa Tokawi diwakili official Slamet dan Ketua Tim Agus Wiyono alias Goseng.
Baca Juga:
Proyek Jalan Lingkungan Pacitan Terancam Molor, 292 Paket Baru 99 yang BerjalanSementara Desa Jetis Lor diwakili official Totok Siswoko dan ketua tim.
Dalam mediasi tersebut, kedua pihak akhirnya menyepakati bahwa pemain yang administrasinya tidak sesuai dengan ketentuan tidak diperbolehkan bermain.
Namun, pemain Desa Jetis Lor yang dipersoalkan kemudian memilih meninggalkan lokasi pertandingan.
Panitia selanjutnya menyatakan Desa Jetis Lor kalah walkover (WO), sehingga Desa Tokawi dinyatakan lolos ke final.
“Setelah dimediasi, sudah ada kesepakatan pemain yang tidak sesuai administrasi tidak dimainkan. Tapi kemudian pemain Jetis Lor memilih pulang sehingga akhirnya dinyatakan WO,” ujar Warga setempat, Wahyu Nugroho (23), Rabu, 12 Agustus 2026.
Pihak Jetis Lor vs Tokawi
Keputusan tersebut kemudian memicu ketegangan di antara pendukung kedua desa.
Pendukung Desa Tokawi mengaku mendapat informasi adanya ancaman terhadap pemain mereka dalam perjalanan pulang.
Atas pertimbangan keamanan, rombongan Desa Tokawi memilih tidak melewati jalur yang melintasi wilayah Desa Jetis Lor dan mengambil jalur lain melalui Arjosari.
Ketegangan kembali muncul pada semifinal putri yang mempertemukan Desa Tokawi dengan Desa Gondang pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026.
Sebelum pertandingan, pihak Desa Tokawi meminta jaminan keamanan kepada panitia dan Kecamatan Nawangan.
Persoalan tersebut kemudian dibahas melalui musyawarah di tingkat kecamatan.
Pertandingan akhirnya diputuskan tetap berlangsung dengan jaminan pengamanan dari masing-masing desa.
Sekitar pukul 19.00 WIB, tim putri Desa Tokawi berangkat menuju lokasi pertandingan dengan didampingi tiga anggota Linmas.
Namun, setelah rombongan tiba, sejumlah suporter yang disebut berasal dari Desa Jetis Lor datang dan menduduki lapangan.
Situasi kemudian memanas setelah muncul seruan yang dinilai provokatif.
Dalam situasi tersebut, official Desa Tokawi, Slamet dan Agus Wiyono alias Goseng, diminta oleh sejumlah suporter Desa Jetis Lor untuk meminta maaf dan menyatakan tidak akan terlibat dalam kegiatan bola voli di wilayah Kecamatan Nawangan.
Setelah dilakukan koordinasi dengan panitia dan aparat, kedua official tersebut kemudian dijemput polisi dan dibawa ke lokasi pertandingan untuk memberikan klarifikasi.
Namun, pihak Desa Tokawi menyatakan keberatan atas langkah tersebut.
Persoalan desakan permintaan maaf itu kemudian dibalas oleh pemuda bersama Pemerintah Desa Tokawi dengan menyampaikan surat tuntutan kepada panitia.
Mereka meminta klarifikasi mengenai kejadian tersebut, menghadirkan pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam dugaan provokasi.
Setelah dua hari belum memperoleh respons, pemuda Desa Tokawi kembali menggelar pertemuan pada Senin malam, 10 Agustus 2026.
Pertemuan yang difasilitasi Karang Taruna Desa Tokawi tersebut menghasilkan pembentukan Aliansi Solidaritas Tokawi.
Aliansi menyatakan siap menggelar aksi damai ke Kecamatan Nawangan apabila tuntutan klarifikasi tidak segera ditindaklanjuti.
Mediasi
Mediasi akhirnya digelar pada Selasa siang, 11 Agustus 2026, dengan melibatkan Camat Nawangan, panitia turnamen, kepolisian, TNI, serta sejumlah perwakilan masyarakat.
Pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam dugaan provokasi dihadirkan dalam pertemuan. Massa dari kedua kelompok diarahkan menyampaikan tuntutan secara tertib.
Mediasi berlangsung cukup alot karena terdapat perbedaan pandangan mengenai rangkaian kejadian sebelumnya.
Namun, pertemuan tersebut akhirnya menghasilkan permintaan maaf dari setiap pihak, termasuk panitia turnamen Kecamatan Nawangan.
Kedua belah pihak disebut menyampaikan permintaan maaf dan mengakui adanya kesalahan dalam rangkaian persoalan tersebut.
Hasil mediasi tersebut dituangkan dalam surat pernyataan.
Seluruh pihak diminta berkomitmen agar persoalan serupa tidak kembali terjadi serta adanya konsekuensi sesuai ketentuan apabila kejadian serupa kembali terulang.(*)