Trauma Berkepanjangan dan Risiko Reviktimisasi, Dampak Psikologis Korban Eksploitasi Seksual Anak

24 Februari 2026 10:40 24 Feb 2026 10:40

Thumbnail Trauma Berkepanjangan dan Risiko Reviktimisasi, Dampak Psikologis Korban Eksploitasi Seksual Anak

‎Ilustrasi kekerasan seksual (Grafis: Rihad Humala/Ketik)

KETIK, YOGYAKARTA – Kasus eksploitasi seksual anak yang terungkap dalam penyelidikan terhadap Jeffrey Epstein menyoroti dampak psikologis jangka panjang yang dialami korban. Di balik proses hukum yang berjalan, para korban menghadapi beban trauma yang kerap berlangsung bertahun-tahun.

Dr. Indria Laksmi Gamayanti, psikolog klinis dari Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa banyak korban baru berani berbicara setelah waktu yang sangat lama. Tekanan psikologis yang terus-menerus membuat mereka kehilangan rasa percaya diri, meragukan identitas diri, bahkan merasa tidak memiliki hak untuk bersuara.

“Korban baru berani berbicara setelah bertahun-tahun karena mereka terlalu lama berada dalam tekanan psikologis, kehilangan harga diri, bahkan meragukan identitas dan hak untuk bersuara. Pelaku juga sering membangun ketergantungan emosional dan kelekatan tanpa disadari, sehingga korban takut kehilangan figur tersebut. Dalam banyak kasus, mereka baru menyadari bahwa itu adalah perlakuan yang salah ketika mulai memahami kembali identitas dirinya,” katanya.

Ia menambahkan, trauma yang tidak tertangani dengan baik dapat membentuk dinamika psikologis yang kompleks. Pengalaman buruk yang ditekan ke alam bawah sadar dapat memunculkan dorongan perilaku tertentu ketika korban beranjak dewasa. “Kalau mereka tidak segera mendapatkan penanganan psikologis yang baik dan perilaku itu terulang, bisa saja nanti ketika dewasa justru menjadi pelaku. Itu yang paling dikhawatirkan,” ungkapnya.

Gamayanti menegaskan bahwa dinamika tersebut bukan sekadar meniru perilaku pelaku, melainkan hasil konflik batin yang terinternalisasi. “Dinamikanya bukan mencontoh, tetapi justru perlakuan yang tidak menyenangkan itu membuat konflik di dalam dirinya dan masuk ke alam bawah sadarnya. Di satu sisi dia tidak menyukainya, tetapi ternyata hal itu menjadi sesuatu dorongan yang tidak disadari, sehingga itu muncul kembali,” jelasnya.

Selain trauma jangka panjang, korban juga menghadapi risiko reviktimisasi ketika kasus kembali diangkat ke publik. Sorotan media dan diskusi terbuka dapat memicu rasa malu, tekanan sosial, bahkan luka lama yang belum sepenuhnya pulih. “Bisa saja mereka malu, tidak semua orang kuat untuk menyatakan dirinya,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai pengungkapan kasus tetap memiliki urgensi. Tanpa transparansi dan penegakan hukum yang tegas—seperti yang dilakukan oleh Federal Bureau of Investigation dan Departemen Kehakiman Amerika Serikat—jaringan kejahatan seksual sistemik berpotensi terus berkembang dan menjebak korban baru.

Karena itu, penanganan kasus eksploitasi seksual anak harus berjalan beriringan: penegakan hukum yang kuat terhadap pelaku dan pendampingan psikologis yang komprehensif bagi korban. Tanpa upaya tersebut, luka psikologis tidak hanya akan membekas pada individu, tetapi juga berisiko menciptakan siklus trauma yang terus berulang di masyarakat. (*)

Tombol Google News

Tags:

Kasus Jeffrey Epstein jeffrey epstein Dokumen Kejahatan Seksual Kejahatan Seksual Sistemik Eksploitasi Seksual Anak Perdagangan Seksual Anak Skandal Seksual Amerika Serikat