KETIK, JAKARTA – Sebanyak 58 persen responden mengaku mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Harga bahan kebutuhan pokok menjadi persoalan yang paling banyak disoroti, di tengah penilaian positif sebagian responden terhadap kondisi perekonomian nasional.

Temuan tersebut berasal dari survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang dipaparkan dalam diskusi daring pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Hasil survei ini menunjukkan adanya kesenjangan antara persepsi masyarakat terhadap ekonomi secara makro dan kondisi keuangan yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan, tekanan ekonomi rumah tangga masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian pemerintah. Menurut dia, penilaian positif terhadap perekonomian nasional tidak serta-merta mencerminkan kemudahan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di satu sisi, sebanyak 67 persen responden menilai kondisi perekonomian nasional secara positif. Rinciannya, 62 persen menyatakan kondisi ekonomi baik dan 5 persen menilainya sangat baik.

Namun, hasil survei yang sama mencatat 41 persen responden tidak puas terhadap kondisi ekonomi, sedangkan 29 persen menyatakan puas. Data tersebut memperlihatkan bahwa penilaian masyarakat terhadap perekonomian tidak sepenuhnya sejalan dengan pengalaman mereka dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Baca Juga:
Prabowo Targetkan Penyaluran Kredit Rakyat Rp400 Triliun pada 2027, Sasar Petani hingga Nelayan

 

Harga Sembako Menjadi Perhatian Utama

Harga kebutuhan pokok menjadi salah satu persoalan mendesak yang perlu ditangani pemerintah. Sebanyak 28 persen responden menyebut harga bahan kebutuhan pokok sebagai masalah yang paling membutuhkan perhatian.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan harga masih menjadi perhatian masyarakat. Meski demikian, angka 28 persen merujuk pada responden yang menempatkan harga kebutuhan pokok sebagai persoalan paling mendesak, bukan persentase warga yang kesulitan membeli sembako.

Baca Juga:
Investasi Asing Padat Modal Belum Tentu Menyerap Banyak Pekerja, Mengapa?

Dedi menilai pemerintah perlu menjaga faktor-faktor yang mendukung persepsi positif masyarakat terhadap ekonomi sekaligus memperkuat kebijakan yang berdampak langsung pada daya beli.

“Dengan demikian, pemerintah perlu mempertahankan faktor-faktor yang mendukung persepsi positif sekaligus memperkuat kebijakan yang berdampak langsung pada daya beli, stabilitas harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Dedi, seperti dikutip dari Suara.com, jejaring media Ketik.com pada Sabtu, 24 Oktober 2026. 

Ia juga menekankan pentingnya pengendalian harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok agar tekanan ekonomi yang dirasakan rumah tangga dapat diatasi secara lebih konkret.

“Kondisi tersebut menjadi sinyal penting pemerintah memperkuat kebijakan pengendalian harga bahan pokok, menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat, serta memastikan bantuan sosial tepat sasaran bagi kelompok rentan,” ujarnya.

IPO melakukan survei terhadap 1.200 responden dengan metode multistage random sampling. Survei tersebut memiliki margin of error sekitar 2,9 persen.

Hasil survei ini memberikan gambaran mengenai persepsi responden terhadap perekonomian nasional sekaligus kesulitan yang mereka rasakan dalam memenuhi kebutuhan pokok. Namun, data tersebut perlu dibaca sesuai cakupannya sebagai hasil survei, bukan sebagai penghitungan langsung terhadap seluruh rumah tangga di Indonesia.

Temuan mengenai kesulitan memenuhi kebutuhan pokok dan keluhan harga sembako menegaskan pentingnya kebijakan ekonomi yang tidak hanya tercermin dalam indikator makro, tetapi juga dirasakan masyarakat melalui daya beli, ketersediaan barang, kesempatan kerja, dan pendapatan rumah tangga. (*)