Investasi Asing Padat Modal Belum Tentu Menyerap Banyak Pekerja, Mengapa?

18 Oktober 2026 06:15 18 Okt 2026 06:15

Thumbnail Investasi Asing Padat Modal Belum Tentu Menyerap Banyak Pekerja, Mengapa?

Ilustrasi tenaga kerja di industri padat karya. (Pixabay)

KETIK, JAKARTA – Besarnya investasi yang masuk ke Indonesia tidak selalu sejalan dengan jumlah lapangan kerja yang tercipta. Investasi yang mengandalkan modal, mesin, dan teknologi dapat menghasilkan kegiatan ekonomi berskala besar, tetapi belum tentu membutuhkan banyak pekerja setelah perusahaan mulai beroperasi.

Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), R. Agus Sartono, menyoroti karakter investasi asing yang masuk ke Indonesia. Menurutnya, sebagian investasi tersebut bersifat padat modal atau capital-intensive, sehingga kemampuan menyerap tenaga kerja perlu menjadi perhatian dalam kebijakan pembangunan ekonomi.

“Jadi sebenarnya begini, investasi dari luar negeri yang masuk itu kebanyakan dari capital intensive,” ungkapnya.

Investasi padat modal dapat melibatkan pembangunan proyek berskala besar yang membutuhkan tenaga kerja pada tahap konstruksi. Namun, kebutuhan pekerja bisa berbeda ketika proyek memasuki tahap operasional, terutama apabila perusahaan mengandalkan mesin dan teknologi untuk menjalankan proses produksi.

Karena itu, besarnya nilai investasi tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah juga perlu memperhatikan jumlah pekerja yang terserap dan manfaat kegiatan usaha bagi masyarakat.

 

Penyerapan Tenaga Kerja Berkaitan dengan Daya Beli

Agus menilai, kemampuan industri menyerap pekerja memiliki kaitan erat dengan pendapatan dan daya beli masyarakat. Ketika masyarakat tidak memperoleh pekerjaan, mereka kehilangan sumber penghasilan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan membeli produk industri.

“Kalau industri itu tidak mampu menyerap besar tenaga kerja, terus orang-orang ini tidak bekerja. Kalau dia tidak kerja, dia tidak punya penghasilan. Kalau dia tidak punya penghasilan, dia tidak punya daya beli, siapa yang akan membeli produk-produk industri?” paparnya.

Pernyataan tersebut menegaskan hubungan antara kesempatan kerja dan keberlangsungan kegiatan ekonomi. Industri membutuhkan konsumen untuk menyerap barang dan jasa yang dihasilkan. Sementara itu, masyarakat membutuhkan pekerjaan dan pendapatan agar dapat membeli produk tersebut.

Jika daya beli melemah, permintaan terhadap barang dan jasa berpotensi ikut tertekan. Perusahaan kemudian dapat menghadapi kesulitan dalam memasarkan produk dan mengembangkan usahanya. Dengan demikian, penciptaan lapangan kerja bukan hanya persoalan kesejahteraan pekerja, melainkan juga berkaitan dengan kekuatan pasar domestik.

 

Investasi Perlu Memberi Manfaat Lebih Luas

Menurut Agus, Indonesia perlu memperhatikan kontribusi investasi terhadap penciptaan pekerjaan dan penghasilan masyarakat. Kebijakan investasi tidak cukup hanya mendorong masuknya modal, tetapi juga perlu mempertimbangkan kemampuan kegiatan usaha dalam menyerap tenaga kerja.

Pertimbangan tersebut penting di tengah pertambahan jumlah pencari kerja setiap tahun. Pasar kerja harus menampung lulusan baru, penganggur yang belum memperoleh pekerjaan, serta pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja. Jika investasi tidak menghasilkan kesempatan kerja yang memadai, pertumbuhan jumlah pencari kerja dapat semakin memperketat persaingan.

Persoalan penyerapan tenaga kerja juga berkaitan dengan perkembangan industri secara keseluruhan. Otomatisasi dan perlambatan industrialisasi dapat membatasi pertambahan pekerjaan, terutama jika sektor yang mampu menyerap banyak pekerja tidak tumbuh cukup kuat.

Selain itu, pengembangan usaha di daerah dan penguatan pasar domestik dapat menjadi bagian dari upaya memperluas sumber pekerjaan. Pada saat yang sama, perguruan tinggi perlu menyiapkan lulusan dengan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah agar mampu menghadapi perubahan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja. (*)

Tombol Google News

Tags:

Investasi Asing Investasi Padat Modal Lapangan Kerja Penyerapan tenaga kerja Daya Beli Masyarakat Ekonomi Indonesia Agus Sartono