KETIK, MALANG – Kasus bunuh diri yang dilakukan seorang siswi SMA di Kota Malang memicu keprihatinan mendalam dari para pakar kesehatan mental. Untuk mencegah kejadian serupa terulang, sinergi antara keluarga, sekolah, dan teman sebaya perlu diperkuat secara masif.

Ketua Indonesia Sehat Jiwa Yayasan Mahargijono Schützenberger Indonesia, Sofia Ambarini, mengatakan, gangguan kesehatan mental yang dialami oleh para remaja disebabkan berbagai faktor.  Di antaranya, tekanan akademik yang tinggi serta kompetisi atau persaingan yang ketat

"Kompetisi di antara anak-anak sekarang sangat tinggi, lalu tuntutan akademik mereka juga tinggi ditambah tuntutan dari orang tua misalnya harus masuk sekolah ternama atau tuntutan dari guru. Hal ini mengakibatkan anak-anak mengalami burnout (kelelahan mental), yang jika dibiarkan tanpa penanganan akan menjadi depresi," ujarnya kepada Ketik.com, Jumat, 5 Juni 2026.

Apabila depresi ini tidak ditangani dengan baik, maka bisa berujung perilaku menyakiti diri sendiri hingga mengakhiri hidup. Mayoritas, kasus bunuh diri yang dilakukan oleh pelajar jarang sekali disebabkan karena satu faktor, melainkan akumulasi dari berbagai masalah yang menumpuk.

"Biasanya ada akumulasi dari faktor lain seperti masalah yang menumpuk, tidak ada yang mengerti, merasa sendirian hingga akhirnya merasa menjadi beban bagi orang lain. Jadi, pemicunya jarang sekali karena satu faktor tunggal melainkan akumulasi. Sehingga dalam kasus yang terjadi di Kota Malang, kemungkinan dia merasa seperti itu," ungkapnya.

Baca Juga:
Pojok Curhat Hadir di MCC Malang, Indonesia Sehat Jiwa Siapkan Ruang Aman dan Hotline Konseling

Lebih lanjut, ia juga menyoroti karakteristik generasi muda saat ini yang sering disebut sebagai generasi stroberi. Kemudahan teknologi dan paparan media sosial yang masif, membuat anak-anak terbiasa dengan hal-hal yang instan.

Akibatnya, mereka menjadi lebih rentan, mudah terpicu, gampang membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di dunia maya, serta memiliki daya juang yang cenderung kurang dalam menghadapi tantangan hidup yang nyata.

"Terbentuknya karakter generasi stroberi ini, salah satunya karena paparan dunia digital yang tidak diawasi dengan baik. Mereka dihadapkan banyak pilihan yang serba instan, sehingga menjadi kurang terbiasa untuk mendalami suatu pilihan atau mempelajari sesuatu secara lebih mendalam," terangnya.

Untuk mengantisipasi hal ini, pihak sekolah didorong tidak lagi menjadi tempat yang menakutkan bagi siswa. Sehingga, pihak sekolah dalam hal ini staf pengajar termasuk guru non Bimbingan Konseling (BK) harus mampu memposisikan diri sebagai tempat aman bagi anak untuk berkonsultasi.

Baca Juga:
Siswi SMA di Malang Ditemukan Meninggal di Kamar Mandi, Ini Kronologinya

Solusi konkret yang telah dilakukan oleh Indonesia Sehat Jiwa, adalah penerapan program pendampingan berbasis teman sebaya (Peer Buddy). Lewat program ini, para pelajar diedukasi agar lebih peka terhadap kondisi psikologis temannya.

"Kami memiliki jaringan Peer Buddy yang telah tersebar di sebanyak 40 sekolah dengan merangkul sekitar 200 anak. Jika mereka menemukan adanya indikasi perubahan perilaku yang tidak biasa pada temannya seperti murung atau melamun, mereka diharapkan dapat langsung melaporkannya ke kami," bebernya.

Di samping peran sekolah, keluarga dalam hal ini orang tua juga memegang andil yang sangat vital. Mereka harus memiliki perhatian dan kepekaan yang tinggi terhadap kebiasaan sang anak.

"Apabila terjadi perubahan perilaku secara mendadak, seperti tidak pernah tidur siang lalu tiba-tiba tidur lama atau malah tidak bisa tidur sama sekali, dan yang tadinya suka makanan apa mendadak tidak suka. Kalau mengetahui seperti itu, dekati dan berikan perhatian untuk ditemani," tambahnya.

Oleh karenanya, Sofia menegaskan bahwa penyelesaian masalah ini tidak bisa dilakukan secara parsial atau hanya fokus pada satu sudut pandang saja. Edukasi dan pembenahan harus berjalan beriringan, untuk membentuk sebuah ekosistem pelindung yang utuh.

"Semuanya harus menjadi satu kesatuan ekosistem yang berjalan beriringan dalam membangun lingkungan aman. Dengan begitu, anak-anak bisa berbicara dengan leluasa dan tidak mengalami keputusasaan saat mereka menghadapi suatu kendala atau permasalahan hidup," tandasnya. (*)