KETIK, BATU – Taman Rekreasi Selecta, Kota Batu, menerapkan gerakan zero waste atau nol sampah sebagai solusi pengelolaan limbah mandiri sejak polemik penumpukan sampah melanda Kota Batu pada akhir 2023.
Melalui sistem pemilahan dan pengolahan manual, seluruh sampah di kawasan wisata tersebut kini dapat dikelola tanpa harus dibuang keluar area, kecuali limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
Direktur Utama PT Selecta, Sujud Hariadi, mengatakan langkah itu bermula saat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung mengalami kelebihan kapasitas dan sempat kesulitan menerima sampah dari Kota Batu.
“Awalnya kami masih tenang karena pada Januari masih ada vendor yang bisa membantu membuang sampah. Namun memasuki Februari, pembuangan sampah semakin sulit. Dari situlah kami mulai belajar memilah dan mengelola sendiri,” ujarnya, Sabtu, 25 April 2026.
Baca Juga:
136 Kendaraan Diperiksa dalam Operasi Panderman 2026 Kota Batu, 22 DitindakDalam proses awal, Selecta menggandeng lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan, yakni Indonesia Menuju Hijau.
Pendampingan tersebut membantu manajemen memahami sistem pemilahan sampah secara sederhana namun efektif.
Menurut Sujud, pengelolaan dilakukan secara manual tanpa teknologi modern. Meski demikian, sejak Maret 2024 sistem tersebut mulai berjalan dan menunjukkan hasil positif.
“Kami benar-benar memulai dengan cara tradisional. Tidak menggunakan alat canggih, semua dikerjakan manual. Alhamdulillah, ternyata bisa berjalan,” katanya.
Baca Juga:
Kejari Batu Buru Aktor Dugaan Jual Beli Kios Pasar Among Tani, 50 Saksi DiperiksaSampah yang dihasilkan dipisahkan berdasarkan jenisnya. Limbah B3 diserahkan kepada pihak ketiga yang memiliki izin khusus. Sementara sampah lainnya dibagi menjadi organik dan non-organik.
Sampah non-organik kembali dipilah menjadi plastik, kertas, serta material campuran lain yang masih memiliki nilai jual. Sedangkan sampah organik dimanfaatkan kembali menjadi pupuk dan pakan ternak.
“Kami punya ikan dan unggas, sehingga sisa makanan bisa dimanfaatkan menjadi pakan. Untuk daun dan sisa organik lainnya diolah menjadi pupuk yang digunakan kembali untuk taman bunga di Selecta,” jelasnya.
Ia menambahkan, sampah plastik dan kertas juga memberikan nilai ekonomi tambahan karena dapat dijual kembali.
Meski nilainya tidak besar, hasil tersebut mampu membantu menekan biaya operasional pengelolaan sampah.
Tidak hanya itu, sejumlah limbah residu juga diolah menjadi produk kreatif seperti paving block, bata, asbak, hingga kerajinan lainnya.
“Alhamdulillah sekarang benar-benar tidak ada sampah keluar dari Selecta, kecuali limbah B3 yang memang harus ditangani khusus,” tegas Sujud.
Dalam operasional sehari-hari, Selecta mengolah sekitar dua hingga tiga kuintal sampah per hari.
Saat musim liburan, volume sampah bisa meningkat hingga enam sampai tujuh kuintal per hari.
Pengelolaan tersebut ditangani enam pekerja khusus yang bertugas memilah sampah, di luar petugas pengumpul sampah dari area wisata.
“Semua masih mengandalkan tenaga manusia. Peralatan kami juga sederhana, hanya mesin press plastik dan alat pencacah sampah organik,” ujarnya.
Keberhasilan program ini membuat Selecta mendapat pengakuan sebagai pelopor taman rekreasi, hotel, dan restoran berkonsep zero waste.
Program tersebut juga pernah diresmikan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.
Sementara itu, Operasional Manager Selecta, Yusuf, menambahkan bahwa gerakan zero waste juga dikembangkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat dan pelajar.
Menurutnya, Selecta rutin menerima kunjungan sekolah mulai tingkat TK hingga SMA untuk belajar mengenai pengelolaan sampah dan pemanfaatan hasil daur ulang.
“Kami menyediakan paket edukasi tersendiri. Anak-anak bisa belajar pengolahan kardus, plastik, pakan ternak, briket, pupuk cair, kompos, hingga produk kreatif seperti pot bunga, paving, dan papan kenangan,” katanya. (*)