KETIK, SIDOARJO – Ratusan genting ambrol berserakan. Kayu-kayu keropos, lapuk bergantungan. Bertahun- tahun rusak, telantar, dan mangkrak, ruang kelas SDN Waung, Kecamatan Krembung, akhirnya ambruk berkeping-keping pada Selasa (23 Juni 2026). Murid-murid belajar umpel-umpelan di perpus, ruang UKS, dan mushola. 

Satu pesan video masuk ke ponsel Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori pada Rabu malam (24 Juni 2026). Durasinya 11 detik. Tapi, isinya bikin mengelus dada anggota DPRD Sidoarjo asal Tulangan tersebut.

Sebuah bangunan gedung ambruk berkeping-keping. Gentingnya ambrok ke lantai. Kayu blandar, usuk, dan reng saling silang sengkarut. Berserakan di lantai kelas dan teras. 

"Waduh bagaimana ini kok sampai ambruk," ungkap Dhamroni Chudlori saat melihat langsung bangunan sekolah itu pada Kamis (25 Juni 2026). 

Dia terheran-heran. Sebab, menurut informasi, gedung itu telah rusak parah bertahun-tahun yang lalu. Bahkan, ruang kelas itu sudah tidak digunakan sejak 3 tahun lalu. Khususnya ruang kelas IV dan V. Murid-murid diungsikan ke ruang lain. Ada yang di mushola, ruang UKS, maupun perpustakaan. 

Baca Juga:
Dinas Pendidikan Sidoarjo Jawab Tudingan Berita tanpa Konfirmasi di Medsos soal SMPB

"Ada satu kelas lain yang temboknya retak. Batu-batanya sudah pecah," tambah Dhamroni Chudori yang juga ketua Fraksi PKB DPRD Sidoarjo tersebut. 

"Mengapa tidak dilaporkan?" ujarnya.

Dengan ragu-ragu, beberapa guru akhirnya buka suara. Mereka sebenarnya sudah menyampaikan kerusakan itu kepada kepala sekolah. Kerusakan direkam video. Para guru mengira laporan itu bakal segera ditindaklanjuti. Faktanya tidak. Laporan entah berhenti di mana.

Puing-puing atap bangunan SDN Waung, Kecamatan Krembung, berserakan. Kayu-kayunya keropos dimakan rayap. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

Baca Juga:
Komisi D DPRD Sidoarjo Tolong Remaja Putri Penderita Cerebral Palsy di Tanggulangin

Sampai Plt Kepala SDN Waung berganti beberapa kali, laporan ternyata belum sampai ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sidoarjo. Mereka pun pasrah. Siswa-siswi belajar dalam ruang seadanya. Yang tersisa cuma tiga ruang kelas. Karena jumlah rombongan belajar (rombel) di SDN Waung mencapai 6 rombel, akhirnya murid tiga kelas belajar di ruang seadanya. Perpus, UKS, dan mushola.

"Kalau waktunya sholat dhuha berjamaah, kami beber terpal di lapangan," keluh seorang guru.

Sebagai anggota DPRD Sidoarjo yang membidangi kesejahteraan rakyat, Dhamroni Chudori geleng- geleng kepala. Kondisi seperti ini pasti berdampak pendidikan iman dan taqwa anak-anak tidak maksimal. Sholat berjamaah susah karena mushola dipakai untuk belajar. Kasihan anak-anak bangsa ini. 

Legislator DPRD Sidoarjo itu pun segera menelepon pejabat-pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sidoarjo. Para pejabat Disdikbud Sidoarjo didesak segera turun tangan. 

"Ini harus segera ditangani. Tidak bisa ditunda-tunda lagi. Masak sampai 3 tahun tidak ada penanganan," ujarnya. (*)