KETIK, BANDUNG – Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) melalui Center for Policy and Public Management (CPPM) menggelar Grand Final Net Zero Steel Pathways Cohort 2026 bertema “Bridging the Landscape: Readiness & Viability in Indonesia’s Net Zero Steel Ecosystem”, Kamis (7/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi puncak program executive education selama tiga bulan yang membahas transformasi industri baja menuju ekosistem baja rendah karbon atau net zero steel di Indonesia.

Dalam pemaparannya, dosen Teknik Metalurgi ITB, Prof. Zulfiadi Zulhan, menjelaskan industri baja saat ini menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Produksi satu ton baja disebut dapat menghasilkan sekitar 2,4 ton emisi CO2.

Menurutnya, tantangan utama industri baja hijau saat ini masih berkaitan dengan biaya produksi yang lebih mahal dibandingkan teknologi konvensional.

“Implementasi teknologi berbasis hidrogen penuh saat ini masih belum kompetitif secara ekonomi, terutama karena biaya energi yang tinggi,” ujar Prof. Zulfiadi.

Baca Juga:
Persaingan Masuk SMP Negeri di Sleman Bakal Ketat, Daya Tampung Hanya Separuh dari Total Lulusan

Meski demikian, Indonesia dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan industri baja rendah karbon. Salah satunya melalui teknologi green iron and steelmaking berbasis hidrogen yang disebut telah dimiliki Krakatau Steel sejak era 1980-an.

Dalam forum tersebut juga dibahas berbagai teknologi transisi industri baja rendah karbon yang tengah dikembangkan sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan hingga Eropa.

Sementara itu, Kepala CPPM SBM ITB, Yudo Anggoro, Ph.D., menilai keberhasilan transisi menuju industri baja hijau tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesiapan pasar, kebijakan pemerintah, hingga infrastruktur energi nasional.

Menurutnya, tanpa dukungan insentif pasar terhadap produk ramah lingkungan, pengembangan industri baja rendah karbon akan sulit berkembang secara masif di Indonesia.

Baca Juga:
Hadir di Forum FSLDK Nasional, Delegasi Papua Raya Suarakan Pesan Persaudaraan dan Growth Mindset