KETIK, GRESIK – Pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Di Desa Watuagung, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, perubahan justru tumbuh dari usaha sederhana para perempuan di rumah, mulai dari lapak kecil hingga olahan hasil laut.

​Hal itu disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, Muhaimin Iskandar, saat mengunjungi kawasan Pulau Mengare di Desa Watuagung, Gresik, Sabtu 8 Agustus 2026. 

Di tengah warga yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan tambak, Menko PM melihat langsung bagaimana akses pembiayaan serta pemberdayaan PNM membantu usaha ultra mikro berkembang dan memperkuat ekonomi keluarga.

​Kawasan Mengare sendiri memiliki potensi ekonomi yang besar. Masyarakatnya selama ini mengandalkan sektor perikanan, pertambakan, perdagangan hasil laut, serta produk olahan. Berdasarkan data tahun 2023, Desa Watuagung dihuni oleh 3.048 jiwa dalam 1.022 kepala keluarga, dengan jumlah perempuan sebanyak 1.492 jiwa. Sementara itu, PNM mencatat ada sekitar 2.000 nasabah di Mengare, di mana 878 nasabah di antaranya berada di Desa Watuagung.

​Bagi PNM, pembiayaan menjadi pintu masuk awal. Namun, proses pemberdayaan menjadi kunci penting untuk memastikan usaha nasabah tidak berhenti pada kucuran modal, melainkan terus berkembang dan memiliki nilai tambah.

Baca Juga:
BAZNAS Salurkan Rp871 Juta untuk Penguatan Ekonomi Pesantren dan Masjid di Gresik

​Salah satu contohnya adalah Lisminah, perempuan yang mempertahankan usaha pembuatan terasi secara turun-temurun. Lewat dukungan PNM Mekaar, usahanya berkembang dari sisi kapasitas produksi, kualitas produk, hingga jangkauan pemasaran. Usaha yang dulunya sekadar penopang ekonomi keluarga kini menjadi sumber penghasilan utama sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

​Kisah Lisminah menjadi gambaran bahwa arti "naik kelas" bagi nasabah PNM Mekaar bukan sekadar peningkatan plafon pinjaman. Namun, nasabah mampu meningkatkan produksi, memperluas pasar, memperbaiki kualitas, memiliki izin legalitas, membangun merek (branding), hingga menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas.

​Karena itu, PNM mendorong pendekatan pemberdayaan melalui sistem klasterisasi usaha. Di Mengare, potensi hasil laut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah. Pendampingan mencakup proses produksi, sertifikasi halal, legalitas usaha, pengemasan, hingga branding agar produk lokal memiliki daya saing pasar yang lebih luas.

​Pendekatan ini turut mendapat perhatian dari Menko PM. Dalam kunjungannya, Muhaimin menilai penguatan masyarakat tidak cukup hanya dengan membuka akses pembiayaan, tetapi perlu dilanjutkan dengan pendampingan agar usaha warga semakin produktif.

Baca Juga:
Prabowo Sebut Cak Imin, Dasco, dan Bahlil Pemimpin Kancil di Indonesia: Kalau Tiga Berkumpul Repot

​“Pemberdayaan harus membuat masyarakat tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu berkembang dan naik kelas. Apa yang dilakukan PNM melalui pembiayaan, pendampingan, klasterisasi usaha, hingga penguatan kapasitas masyarakat merupakan bagian penting untuk memastikan potensi yang ada di desa dapat menjadi sumber kesejahteraan bagi keluarga dan masyarakat,” ujar Muhaimin.

​Pendekatan tersebut sangat relevan bagi masyarakat pesisir seperti Mengare karena potensi ekonomi sudah tersedia di sekitar mereka. Tantangannya adalah bagaimana mengolah potensi itu menjadi kegiatan usaha yang berkelanjutan.

​Selain ekonomi, program pemberdayaan PNM juga merambah sektor pendidikan anak melalui fasilitas 'Ruang Pintar'. Sarana ini hadir sebagai tempat belajar gratis dan pengembangan kapasitas bagi anak-anak nasabah PNM Mekaar yang memiliki keterbatasan akses pembelajaran tambahan.

​Kehadiran Ruang Pintar menunjukkan bahwa dampak pemberdayaan berjangka panjang. Ketika seorang ibu diperkuat lewat usaha, manfaatnya tidak berhenti pada pendapatan keluarga saat ini, tetapi juga memberikan kesempatan belajar yang lebih baik bagi generasi penerus.

​Direktur Utama PNM, Kindaris, meyakini bahwa ukuran keberhasilan pemberdayaan bukan hanya seberapa banyak pembiayaan yang disalurkan, melainkan sejauh mana pembiayaan itu mampu menciptakan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.

​“Perubahan itu hadir dalam bentuk yang sederhana namun nyata, usaha yang tumbuh, pendapatan keluarga yang menguat, lapangan kerja yang terbuka, dan anak-anak yang mendapatkan kesempatan belajar lebih baik,” jelas Kindaris.

​Di tengah potensi besar Pulau Mengare, kisah ini memperlihatkan bahwa dengan akses dan pendampingan yang tepat, usaha ultra mikro dapat menjadi titik awal bagi keluarga untuk tumbuh dan bagi desa untuk menggerakkan perekonomiannya.(*)