KETIK, MALANG – Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dilakukan oleh tentara reguler. Kalangan pelajar juga turut mengangkat senjata melawan pasukan Sekutu dan Belanda pada masa Revolusi Kemerdekaan.
Dari semangat perjuangan itu lahir dua organisasi yang memiliki peran penting, yakni Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dan Tentara Genie Pelajar (TGP). Meski sama-sama beranggotakan pelajar dan memiliki tujuan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, keduanya memiliki tugas, latar belakang anggota, hingga keahlian yang berbeda.
Lantas, apa saja perbedaan antara TRIP dan TGP? Simak selengkapnya di bawah ini.
TRIP Pasukan Tempur, TGP Ahli Demolisi dan Konstruksi
TRIP merupakan singkatan dari Tentara Republik Indonesia Pelajar, yaitu kesatuan yang beranggotakan para pelajar dari berbagai sekolah menengah. Organisasi ini berkembang di sejumlah daerah, terutama di Jawa Timur, seperti Surabaya, Malang, dan beberapa kota lainnya.
Baca Juga:
Sekarang Dipajang di Halaman Museum Brawijaya Malang, Kendaraan Lapis Baja Ini Pernah Jadi Mimpi Buruk Pasukan TRIPSebagai pasukan tempur, anggota TRIP diterjunkan langsung ke medan perang untuk menghadapi pasukan Sekutu maupun Belanda (NICA). Mereka menjalankan tugas layaknya prajurit infanteri dalam berbagai operasi mempertahankan wilayah Republik Indonesia.
Berbeda dengan TRIP, Tentara Genie Pelajar (TGP) merupakan satuan khusus yang lahir di Malang pada 2 Februari 1947. Anggotanya dibekali kemampuan teknik militer atau zeni yang sangat dibutuhkan dalam peperangan.
Para personel TGP dikenal memiliki kemampuan membuat jebakan, merakit bahan peledak, memasang ranjau, hingga melakukan demolisi terhadap sasaran strategis. Bahkan, mereka juga mampu memanfaatkan bom-bom Belanda yang gagal meledak untuk diolah kembali menjadi granat maupun senjata sederhana guna mendukung perjuangan.
Anggota TGP Berasal dari Sekolah Teknik
Baca Juga:
Mengenang Pertempuran 31 Juli 1947, Saat Tentara Pelajar TRIP Adang Tentara Belanda di Jantung Kota MalangPerbedaan lainnya terletak pada latar belakang pendidikan para anggotanya.
TRIP merekrut pelajar tingkat sekolah menengah atas atau sederajat dari berbagai jurusan. Karena itu, organisasi ini lebih berorientasi sebagai pasukan tempur umum yang siap diterjunkan ke berbagai wilayah pertempuran.
Sementara itu, anggota TGP sebagian besar berasal dari sekolah teknik, seperti Sekolah Menengah Teknik Tinggi (SMTT), Sekolah Teknik (ST), hingga Sekolah Radio. Bekal pendidikan teknik tersebut menjadi modal utama dalam menjalankan berbagai pekerjaan zeni di lapangan.
Peran Berbeda, Tujuan Sama
Meski memiliki spesialisasi yang berbeda, TRIP dan TGP sama-sama menjadi bagian penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
TRIP berperan sebagai ujung tombak di garis depan pertempuran, sedangkan TGP menjadi kekuatan pendukung melalui kemampuan teknik militer yang tidak dimiliki satuan tempur biasa.
Kolaborasi kedua organisasi tersebut menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya membutuhkan keberanian mengangkat senjata, tetapi juga keterampilan teknis untuk mendukung strategi perang.
Hingga kini, kiprah TRIP dan TGP tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa. Keberadaan keduanya menjadi bukti bahwa para pelajar pada masa itu tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga rela mempertaruhkan jiwa demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.