KETIK, GRESIK – Perempuan Penghayat Kepercayaan (Puan Hayati) Indonesia punya cara tersendiri untuk merayakan hari ulang tahunnya. Carannya dengan mengajak anggota berziarah dan belajar sejarah di Makam Kyai Tumenggung Poesponegoro, Minggu, 31 Mei 2026.

Mereka diajak untuk mendoakan Kyai Tumenggung Poesponegoro sebelum mendengarkan perwakilan Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro yang bercerita bagaimana sosok dan sejarahnya menjadi Bupati Pertama Gresik. 

Puan Hayati Kabupaten Gresik merayakan hari ulang tahun ke-9 dengan tema "Niti Lampah Leluhur" memiliki makna positif yang mengartikan bahwa manusia yang masih hidup harus mengingat leluhur yang telah tiada. 

Niti Lampah Leluhur ini dihadiri oleh belasan ibu-ibu Puan Hayati, perwakilan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), Formagam, dan Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro.

Ketua Puan Hayati Gresik, Suparni, Memberikan Simbolis Tumpeng Ulang Tahun Kepada Perwakilan Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro (Foto: Daniel Andayawan/Ketik.com)

Baca Juga:
Angka Laka Tinggi! Senkom Kabupaten Malang Bersama Polisi Gelar Keselamatan Berlalu Lintas

K.T. Poesponegoro sendiri lahir di Gresik (Tandes) tahun 1651 (1062 Hijriyah) dengan nama lahir Bagus Lanang Poespodiwongso, dua bersaudara (Kakaknya, Nyai Ajeng Ajoe Sutodirono) dari pasangan Ki Kemis (Kyai Ageng Setra II) Lurah Gresik dengan Nyimas Ajoe (Kakak kandung Umbul Gresik, K.T. Naladika). Tedak ke 10 dari Prabhoe Kertawidjaja Widjajaparakrama Wardhana (Bhre Toemapel, bergelar-Prabhoe Brawidjaja V, Maharaja Madjapahit, 1448-1451). 

K.Ng. Bagus Lanang Poespodiwongso setelah dewasa menjadi Lurah Gresik menggantikan ayahnya, ia menikah dengan Raden Rara Teleng putri Umbul Gresik, K.T. Naladika (1660-1675). Pada saat K.T. Naladika wafat, kedudukan diganti putranya Bagus Dana (bergelar R.T. Harya Naladika, 1675-1688), sedang menantunya K.Ng Bagus Lanang Poespodiwongso diangkat menjadi Mantri Nayaka Gresik (1675-1688).

Pada saat itu terjadi kerusuhan di Keraton Surakarta denga Raja Sunan Amangkurat II (Amangkurat Amral). Sunan Amangkurat Amral (Raja Mataram Islam) mengutus R.T. Harya Naladika untuk memadamkan pemberontakan, tetapi R.T. Harya meninggal dan dimakamkan di Pasuruan. Kedudukan R.T. Harya diganti iparnya K.Ng. Bagus Lanang Poespodiwongso yang diberi gelar K.T. Poesponegoro sebagai Bupati Gresik (Tandes) yang pertama (1688-1696/1100-1108 H.)

Baca Juga:
Ketua PBNU Sesalkan Pernyataan Sisca Farisa Dona, Minta Jangan Generalisasi Pesantren di Malang

Dibawa kepemimpinan Bupati K.T. Poesponegoro, kerusuhan di Gresik dapat dipadamkan. Menurut Cerita K.T. Poesponegoro dapat mengatasi kerusuhan karena dibantu khadam dari Negeri Ngabesah yang bernama Ki Buyut Klingsi.

Ketua Puan Hayati Kabupaten Gresik, Suparni, menyampaikan bahwa sebagai penghayat juga harus menguri-uri budaya yang ada di Kabupaten Gresik. 

"Salah satunya yaitu dengan mengenal sejarah dan perjalanan bupati pertama Gresik yaitu Kyai Tumenggung Poesponegoro. Nantinya, ketika berada di luar Gresik bisa cerita bagaimana sejarah di Gresik ini kepada orang lain dan nantinya untuk anak cucu kita nanti," tandasnya.

Suparni mengaku merasa tersentuh dengan suasana di lingkungan makam Kyai Tumenggung Poesponegoro. Hal ini juga membuat semangat dari masyarakat minoritas untuk menyelenggarakan kegiatan positif di tengah mayoritas. 

"Jujur, suasana disini sangat menyentuh dan bisa mendoakan leluhur adalah kewajiban kita sebagai orang yang masih hidup. Selain itu, kami sebagai Puan Hayati juga ingin menunjukkan bahwa kami bisa menyelenggarakan kegiatan positif kepada masyarakat, sudah waktunya tampil," ungkapnya. 

Perwakilan Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro, Raden Ngabehi Ahmad Rifai, mengatakan bahwa ini merupakan kunjungan pertama masyarakat dan Yayasan menyambut di makam Kyai Tumenggung Poesponegoro. 

"Memang dari Bupati Gresik pertama dulunya sebagai penguasa pastinya mengayomi rakyatnya, apapun kepercayaannya. Tentunya kami sebagai trah keturunan Kyai Tumenggung Poesponegoro, pastinya menyambut dengan baik kedatangan Puan Hayati belajar sejarah Bupati Gresik Pertama ini," jelasnya. 

Ia mengungkapkan bahwa makam Kyai Tumenggung Poesponegoro terbuka bagi siapapun masyarakat yang ingin belajar sejarah dan asal muasalnya. 

"Sebenarnya masih banyak masyarakat Gresik yang belum tau asal usul dan sejarah mengenai Bupati Gresik Pertama yaitu Kyai Tumenggung Poesponegoro. Oleh karena itu, monggo untuk masyarakat boleh datang langsung dan menyelenggarakan kegiatan dengan izin dan sekaligus belajar sejarahnya," tuturnya. 

Ketua Forum Masyarakat Gresik Pecinta Keberagaman, Djoko Pratomo, mendorong Puan Hayati yang berulang tahun ke-9 ini untuk mengingat bahwa ada sesuatu yang luar biasa di sekitarnya yang jarang orang lain perhatikan. 

"Salah satunya yaitu melakukan Niti Lampah Leluluh yang merupakan kearifan lokal ke Cagar budaya seperti makan Kyai Tumenggung Poesponegoro. Di jaman sekarang sangat perlu ditonjolkan kembali kepada generasi muda agar tidak dilupakan," bebernya.

Djoko menyambut baik langkah diantara kedua pihak untuk bekerjasama untuk terselenggaranya kegiatan positif ini. 

"Terimakasih kepada Yayasan Kyai Tumenggung Poesponegoro yang menyambut baik kegiatan positif Puan Hayati yang berkunjung untuk belajar sejarah. Sehingga kegiatan ini bisa bermanfaat bukan hanya untuk anggota tetapi juga untuk masyarakat luas," ujarnya. 

Di hari ulang tahun ini, Djoko berharap Puan Hayati bisa berperan aktif untuk menyelenggarakan kegiatan positif untuk aspek keberagaman umat beragama di Gresik. 

"Semoga kedepannya, Puan Hayati bukan hanya menjadi komunitas, tetapi juga berperan aktif berkegiatan positif untuk masyarakat dan mencerminkan salah satu keberagaman beragama yang ada di Indonesia khususnya di Gresik walaupun kelompok minoritas," pungkasnya. (*)