KETIK, MALANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan wisata Gunung Bromo. Kobaran api pertama kali diketahui pada Kamis, 10 September 2026, sekitar pukul 16.30 WIB di kawasan Savana Pengol, kemudian meluas ke arah Gunung Kursi.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha, mengatakan upaya pemadaman telah dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur untuk mencegah kebakaran semakin meluas.
"Api terdeteksi pertama kali di kawasan Pengol, kemudian meluas dan menyebar ke dua arah, yaitu Pengol dan Gunung Kursi. Kemudian, pada 11 September malam, kebakaran di kawasan Pengol berhasil dipadamkan. Namun, kobaran api yang mengarah ke Gunung Kursi belum dapat dipadamkan sepenuhnya, tetapi sudah terkendali," jelasnya, Senin, 14 September 2026.
Akan tetapi, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Pada keesokan harinya, tepatnya 12 September, kembali muncul titik api di kawasan Pengol. Kondisi tersebut diperparah dengan angin kencang sehingga kebakaran kembali membesar dan bergerak hingga mencapai Pos Jemplang yang masuk wilayah Kabupaten Malang.
"Hingga saat ini, api masih belum berhasil dipadamkan dan penanganan terus dilakukan oleh petugas bersama seluruh unsur yang terlibat. Kondisi di lapangan masih dinamis sehingga pemantauan dan upaya pemadaman terus dilakukan secara intensif," terangnya.
Baca Juga:
Kebakaran, Wisata Gunung Bromo Ditutup Total per 12 SeptemberGuna mengendalikan kebakaran yang kian meluas, ratusan personel dari berbagai unsur telah diterjunkan. Meliputi personel dari Balai Besar TNBTS, Manggala Agni TNBTS, Masyarakat Peduli Api, dan Masyarakat Mitra Polhut yang berjumlah 56 personel.
Kemudian, mendapat dukungan tambahan dari Manggala Agni BKSDA Bali sebanyak 8 personel, Manggala Agni Taman Nasional Bali Barat sebanyak 8 personel, Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan (Brigdalkarhut) Jabalnusra sebanyak 15 personel, dan Balai Penegakan Hukum Kehutanan sebanyak 15 personel, ditambah dukungan dari unsur BPBD serta TNI-Polri.
"Untuk armada pemadaman, dikerahkan dua unit mobil tangki, termasuk dua mobil patroli, serta dua pikap dan satu truk air untuk mendukung ketersediaan suplai air. Kami juga melakukan pemadaman secara manual dan mekanis menggunakan gepyok, jet shooter, dan engine blower, menyesuaikan dengan kondisi dan karakteristik lokasi kebakaran," bebernya.
Selain pelibatan personel darat, upaya pemadaman juga dilakukan melalui udara, yaitu dengan dukungan water bombing dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Baca Juga:
Karhutla Kembali Melanda, Akses Masuk Bromo Via Jemplang DitutupRudijanta menerangkan, kondisi musim kemarau menyebabkan vegetasi, khususnya rerumputan, berada dalam kondisi kering, ditambah adanya potensi angin kencang. Kondisi tersebut dapat mempercepat penyebaran kobaran api.
Kondisi asap yang semakin tebal di sekitar kawasan terdampak juga berpotensi mengganggu jarak pandang dan mobilitas. Sekaligus, dapat menghambat proses penanganan dan upaya pemadaman.
"Dengan mempertimbangkan kondisi yang ada serta aspek keamanan dan keselamatan, kunjungan wisata Gunung Bromo dari seluruh pintu masuk ditutup total mulai 12 September 2026 sampai dengan batas waktu yang akan disampaikan lebih lanjut. Penutupan dilakukan untuk mendukung efektivitas penanganan dan agar pemadaman kebakaran dapat berlangsung secara optimal," tandasnya.