KETIK, BATU – Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, mengembangkan wisata edukasi berbasis budidaya jamur melalui program Mikutopia Mushroom Edu Experience. Program yang diinisiasi Sahabat Mikutopia bersama masyarakat setempat itu memanfaatkan potensi komoditas jamur sebagai sarana edukasi sekaligus penguatan ekonomi warga.

Direktur Sahabat Mikutopia, Achmad Arthur Julio Tampi, mengatakan program tersebut dirancang untuk mengenalkan beragam jenis jamur kepada wisatawan, mulai dari jamur konsumsi, jamur berkhasiat obat, hingga jenis jamur yang tidak dapat dikonsumsi.

Pria yang akrab disapa Rambing itu menuturkan, keberadaan komoditas jamur di Desa Tulungrejo menjadi modal besar untuk menghadirkan wisata edukasi yang tidak hanya menarik, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

“Desa Tulungrejo memiliki potensi jamur yang sangat besar. Karena itu, kami ingin mengenalkan berbagai jenis jamur kepada wisatawan, mulai dari jamur obat, jamur konsumsi, hingga jenis jamur yang tidak bisa dikonsumsi. Harapannya, masyarakat dan pengunjung bisa lebih mengenal manfaat serta keanekaragaman jamur,” ujarnya, Jumat, 12 Juni 2026. 

Program edukasi tersebut melibatkan kelompok masyarakat yang tergabung dalam Sahabat Mikutopia sebagai bagian dari upaya pemberdayaan warga sekaligus penguatan ekosistem wisata berbasis komunitas.

Baca Juga:
Bahaya Narkoba Mengintai Anak-anak, Polres Batu Gelar Edukasi di Sekolah Dasar

Selain menghadirkan wisata edukasi, pihaknya juga mengembangkan rumah produksi dan pusat riset jamur yang berlokasi di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo.

Fasilitas tersebut digunakan untuk meneliti berbagai jenis jamur sekaligus mendukung pengembangan produk berbasis jamur yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

“Kami juga memiliki rumah produksi di Dusun Junggo yang digunakan untuk melakukan riset berbagai jenis jamur. Dari sana, kami terus mengembangkan inovasi agar jamur tidak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi juga memiliki nilai edukasi dan ekonomi yang lebih luas,” katanya.

Salah satu produk unggulan yang saat ini dikembangkan adalah jamur tiram estetik. Berbeda dengan jamur tiram pada umumnya, jenis ini memiliki warna-warna cerah dan menarik secara visual, tetapi tetap aman dikonsumsi serta memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi kesehatan.

Baca Juga:
Persikoba Tak Gentar Hadapi Juara Liga 4 Jatim, Mas Heli: Mental Harus Juara

Rambing menjelaskan, jamur tiram estetik terdiri atas berbagai varian warna, seperti putih, abu-abu, cokelat, merah muda (pink), hingga hijau.

Keberagaman warna tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, terutama sebagai media pembelajaran dan wisata keluarga.

“Jamur tiram estetik memiliki tampilan yang unik dan menarik, tetapi tetap aman dikonsumsi. Selain menjadi objek wisata dan edukasi, jamur ini juga memiliki manfaat kesehatan yang sama dengan jamur tiram pada umumnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, setiap jenis jamur memiliki karakteristik dan manfaat kesehatan yang berbeda.

Jamur tiram putih dikenal kaya protein, serat, dan vitamin B yang bermanfaat membantu menjaga daya tahan tubuh, mengontrol kadar gula darah, serta menurunkan kolesterol.

Sementara itu, jamur tiram abu-abu mengandung beta-glukan yang baik untuk kesehatan jantung dan memiliki sifat antioksidan.

Jamur tiram cokelat memiliki kandungan antioksidan yang lebih tinggi sehingga berpotensi membantu menangkal radikal bebas dan menjaga kesehatan pencernaan.

Adapun jamur tiram pink mengandung likopen yang baik untuk kesehatan kulit dan mata, sedangkan jamur tiram hijau memiliki kandungan klorofil alami yang berpotensi membantu proses detoksifikasi tubuh.

“Secara umum, seluruh varian jamur tiram yang kami kembangkan memiliki manfaat kesehatan, mulai dari membantu menurunkan kolesterol, memiliki sifat antidiabetes, antiinflamasi, hingga berpotensi mendukung proses pemulihan kesehatan,” ungkapnya.

Melalui pengembangan wisata edukasi tersebut, Rambing berharap manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pengunjung, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.

“Kami ingin wisata ini tidak sekadar menjadi tempat berkunjung, tetapi juga memberikan manfaat nyata. Anak-anak bisa belajar, wisatawan mendapatkan pengalaman baru, dan masyarakat ikut berkembang dari sisi ekonomi maupun keterampilan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Tulungrejo, Suliono, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan wisata edukasi jamur yang dilakukan Sahabat Mikutopia.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan inovasi yang mampu mengangkat komoditas lokal menjadi produk wisata bernilai ekonomi tinggi.

Ia menegaskan bahwa apel masih menjadi ikon utama Desa Tulungrejo. Namun, jamur merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.

“Kalau ikon desa tentu tetap apel. Namun, jamur merupakan salah satu komoditas unggulan yang dimiliki Tulungrejo. Potensinya sangat besar karena tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan dan nilai ekonomi yang terus meningkat,” ujarnya.

Menurut Suliono, pengembangan wisata edukasi berbasis jamur juga dapat membuka peluang usaha baru, meningkatkan keterampilan masyarakat, serta memperkuat posisi Tulungrejo sebagai salah satu desa wisata unggulan di Kota Batu.

“Kami menyambut baik inovasi ini. Kehadiran jamur tiram estetik dan wisata edukasi jamur menjadi terobosan yang mampu mengangkat potensi desa menjadi produk bernilai jual tinggi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” pungkasnya.