KETIK, BONDOWOSO – Proses rekrutmen tenaga kesehatan non-ASN di BLUD RSUD dr. Koesnadi Bondowoso menjadi sorotan publik. Seleksi yang seharusnya berjalan terbuka justru memunculkan polemik setelah hasil tes formasi perawat diumumkan tanpa disertai rincian nilai maupun skoring peserta.
Kondisi tersebut memicu pertanyaan dari banyak peserta, terutama karena formasi perawat menjadi formasi dengan jumlah pelamar terbanyak. Tidak adanya publikasi nilai dianggap menutup akses peserta untuk mengetahui dasar penentuan kelulusan.
Sorotan tajam datang dari dokter spesialis RSUD dr. Koesnadi, dr. Yusdeny Lana Sakti. Melalui unggahan video di akun media sosial pribadinya, ia mengungkap banyak menerima keluhan dari peserta seleksi yang mempertanyakan transparansi proses rekrutmen.
Menurutnya, sistem seleksi tanpa keterbukaan nilai berpotensi melanggar prinsip merit system yang selama ini menjadi dasar rekrutmen di lingkungan pelayanan publik.
“Bagaimana asas transparansinya,” ujar dr. Yusdeny dalam video yang diunggah pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Baca Juga:
24 Jemaah Haji asal Indonesia Dilaporkan Wafat, 132 Ribu Tiba di Arab SaudiIa menegaskan bahwa merit system seharusnya menjunjung transparansi, akuntabilitas, profesionalisme, serta bebas dari diskriminasi maupun nepotisme. Karena itu, absennya publikasi hasil skoring dinilai dapat menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat.
Tak hanya itu, dr. Yusdeny juga mengaku menerima informasi terkait dugaan adanya nomor ujian peserta yang diberi tanda warna tertentu. Dugaan tersebut kemudian memunculkan spekulasi adanya peserta “titipan” dalam proses seleksi.
“Berwarna, kenapa itu berwarna. Itu dicurigai titipan,” ungkapnya.
Ia menyebut keberaniannya menyuarakan persoalan itu semata demi mendorong keadilan bagi seluruh peserta seleksi, khususnya mereka yang berharap mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkarier di rumah sakit milik pemerintah tersebut.
Baca Juga:
GKJW Mojowarno Lestarikan Budaya Jawa Lewat Tradisi Riyaya Unduh-UnduMenurutnya, profesi perawat merupakan garda depan pelayanan kesehatan sehingga proses perekrutannya harus benar-benar bersih dan profesional.
Unggahan dr. Yusdeny pun ramai mendapat perhatian publik. Video tersebut ditonton puluhan ribu kali dan dibanjiri komentar warganet yang meminta proses rekrutmen dilakukan secara transparan dan adil.
Desakan keterbukaan juga datang dari DPRD Bondowoso. Ketua Fraksi PKB DPRD Bondowoso, H. Tohari, meminta panitia pelaksana dan manajemen RSUD dr. Koesnadi segera memberikan penjelasan resmi kepada masyarakat terkait dugaan kejanggalan yang berkembang.
Ia menilai transparansi menjadi hal mutlak dalam proses rekrutmen di institusi pelayanan publik agar tidak menimbulkan polemik maupun hilangnya kepercayaan masyarakat.
“Saya mendukung penuh proses rekrutmen yang menjunjung asas keterbukaan dan transparansi, sebagaimana yang disuarakan dr. Yusdeny,” ujarnya.
Ketua Komisi II DPRD Bondowoso itu juga menegaskan klarifikasi terbuka dari pihak rumah sakit penting dilakukan untuk menghindari spekulasi liar di tengah masyarakat.
“Saya mendesak panitia dan manajemen RSUD untuk memberikan penjelasan terbuka kepada publik terkait dugaan kejanggalan ini,” tegasnya.
Ia berharap pihak rumah sakit segera memberikan penjelasan transparan terkait mekanisme penilaian dan proses seleksi agar kepercayaan publik terhadap RSUD dr. Koesnadi tetap terjaga.(*)