PHK Kian Marak dan Pekerja Informal Meluas, Pemerintah Diminta Beri Respon Serius

Editor: Muhammad Faizin

14 Feb 2026 09:40

Thumbnail PHK Kian Marak dan Pekerja Informal Meluas, Pemerintah Diminta Beri Respon Serius
Ilustrasi para pencari kerja di Kota Malang saat job fair Oktober 2025 lalu, upaya mengatasi jumlah pengangguran. (Foto: Lutfia/Ketik)

KETIK, YOGYAKARTA – Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat sepanjang Januari–Desember 2025 sebanyak 88.519 pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dan masuk dalam program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Risiko PHK pada 2026 diperkirakan meningkat seiring tertahannya rekrutmen di sejumlah sektor.

Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena struktur ketenagakerjaan Indonesia didominasi sektor informal. Badan Pusat Statistik (BPS) 2026 mencatat 57,70 persen atau sekitar 85 juta dari total 147,91 juta pekerja berstatus informal. Dari sisi pelaku usaha, lebih dari 90 persen merupakan UMKM. Ketika lapangan kerja menyempit dan PHK meluas, masyarakat tidak hanya kehilangan pendapatan, tetapi juga menghadapi ancaman kerentanan sosial.

Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan UGM, Dr. Hempri Suyatna, menilai gelombang PHK tidak lepas dari tekanan ekonomi global. Namun, ia menegaskan dampaknya akan jauh lebih serius jika negara gagal mengantisipasi konsekuensi sosialnya.

“PHK bukan hanya perkara kehilangan pekerjaan, tetapi juga hilangnya aksesibilitas masyarakat kepada kebutuhan mendasar, seperti makanan, pendidikan, dan kesehatan. Apabila dibiarkan secara terus-menerus, maka akan timbul frustasi sosial dan pola-pola negatif di masyarakat,” ujarnya. 

Baca Juga:
WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

Hempri mengkritik arah pembangunan nasional yang dinilai terlalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, tetapi kurang memperhitungkan dampak sosial. Ia menilai model pembangunan tersebut cenderung menguntungkan kelompok elite, sementara masyarakat kecil semakin terpinggirkan akibat alih fungsi lahan produktif dan ekspansi properti.

Di sisi perlindungan sosial, ia melihat negara belum optimal melindungi korban PHK, terutama pekerja informal seperti petani, nelayan, dan pekerja lepas. Skema jaminan ketenagakerjaan masih berbasis logika formalitas kerja sehingga tidak menjangkau mayoritas tenaga kerja yang justru berada di sektor informal. “Ini menunjukkan bahwa kebijakan sosial kita masih eksklusif dan belum menjawab realitas struktur tenaga kerja Indonesia,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan dampak PHK tidak berhenti pada aspek ekonomi. Tekanan sosial dan gangguan kesehatan mental berpotensi meningkat, termasuk risiko kriminalitas dan bunuh diri, jika negara tidak segera menghadirkan solusi konkret. Menurutnya, ini adalah krisis sosial, bukan sekadar persoalan industri.

Hempri mendorong pemerintah melakukan realokasi anggaran secara berpihak. Ia menilai pemerintah perlu meninjau ulang kebijakan dan belanja yang kurang efektif, lalu mengalihkannya untuk perlindungan sosial dan penciptaan lapangan kerja yang lebih adil.

Baca Juga:
Serap Lulusan SMK, Pemalang Bidik Investasi Pabrik Otomotif

Ia menutup dengan penegasan bahwa PHK tidak boleh dipandang semata sebagai isu efisiensi industri. Dampaknya menyentuh dimensi sosial dan kemanusiaan. Karena itu, pembangunan harus dijalankan dengan pendekatan yang inklusif dan berpihak pada kelompok rentan. (*)

Baca Sebelumnya

Wabup Brebes Wurja Tinjau Lokasi Banjir, Instruksikan Perbaikan Tanggul Kritis

Baca Selanjutnya

Penelitian Ungkap Potensi Senyawa Kopi Terkait Diabetes, Dosen UGM Ingatkan Bukan Obat

Tags:

phk Lapangan Kerja Kemenaker pengangguran ekonomi lesu UGM

Berita lainnya oleh Muhammad Faizin

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

12 April 2026 11:40

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

12 April 2026 11:00

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

Mahasiswa UNEJ Ciptakan Insinerator Pengolah Sampah Jadi Listrik, Solusi Limbah dan Energi Terbarukan

12 April 2026 09:40

Mahasiswa UNEJ Ciptakan Insinerator Pengolah Sampah Jadi Listrik, Solusi Limbah dan Energi Terbarukan

Adik Bupati Tulungagung Ikut Terjaring OTT KPK, Lolos Status Tersangka

12 April 2026 08:21

Adik Bupati Tulungagung Ikut Terjaring OTT KPK, Lolos Status Tersangka

Sosok Ahmad Baharudin, Wabup yang Pernah Konflik Terbuka dengan Bupati Tulungagung

11 April 2026 07:30

Sosok Ahmad Baharudin, Wabup yang Pernah Konflik Terbuka dengan Bupati Tulungagung

BRIN Ungkap Objek Langit di Lampung-Banten Bekas Roket China, Pakar: Pengawasan Sampah Antariksa Harus Diperkuat

10 April 2026 06:40

BRIN Ungkap Objek Langit di Lampung-Banten Bekas Roket China, Pakar: Pengawasan Sampah Antariksa Harus Diperkuat

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar