KETIK, PALEMBANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Selatan baru saja merilis laporan terbaru mengenai pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut, yang menunjukkan angka pertumbuhan mencapai 5,06 persen secara year-on-year.

Kepala BPS Sumatra Selatan M Wahyu Yulianto menjelaskan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh hampir seluruh lapangan usaha yang mengalami peningkatan positif.

Menurutnya, tiga sektor utama yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sektor pertanian, pertambangan, dan industri pengelolaan.

"Jika kita fokus menjaga pertumbuhan di ketiga sektor ini, maka akumulasi pertumbuhan ekonomi secara umum akan terjaga," ujarnya.

Selain itu, BPS Provinsi Sumatra Selatan juga mencatat bahwa sektor jasa kesehatan, administrasi pemerintahan, dan telekomunikasi mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.

Baca Juga:
Harga Beras di Palembang Terus Naik Sejak Agustus, Warga Mulai Beralih ke Eceran

"Kenaikan aktivitas di rumah sakit akibat kabut asap dan peningkatan penggunaan pulsa untuk pendidikan jarak jauh turut berkontribusi pada pertumbuhan ini," tambahnya.

Dalam konteks Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Palembang tercatat memiliki IPM tertinggi di provinsi ini. "Hal ini disebabkan oleh banyaknya fasilitas kesehatan dan pendidikan yang tersedia di ibu kota provinsi," kata kepala BPS. 

Sementara itu, Empat Lawang memiliki IPM terendah, meskipun masih dalam kategori tinggi dengan nilai 71. "Fasilitas kesehatan dan pendidikan di daerah baru seperti Empat Lawang masih terbatas, yang mungkin mempengaruhi angka IPM-nya," jelasnya.

Kepala BPS juga membandingkan Pali dan Empat Lawang, dua kabupaten baru di Sumatra Selatan. "Meskipun keduanya memiliki angka IPM yang hampir sama, Pali sedikit lebih tinggi berkat program pemerintah yang lebih baik dalam pendidikan," katanya.

Baca Juga:
Beyond GDP, Jangan Lagi Mengukur Kemajuan Bangsa dengan Penggaris yang Salah

Ia menambahkan bahwa rata-rata lama sekolah di usia 25 tahun di Sumatra Selatan adalah sekitar 6 tahun, yang menjadi salah satu indikator penting dalam perhitungan IPM. "Program pemerintah untuk menekan angka putus sekolah juga perlu diperhatikan," ujarnya.

BPS mencatat bahwa indikator IPM merupakan investasi jangka panjang. "Kebermanfaatan program-program pemerintah saat ini mungkin baru akan terlihat di masa depan," ungkapnya.

Selanjutnya, kepala BPS menjelaskan bahwa pengangguran di Sumatra Selatan mengalami penurunan. "Kami menggunakan standar internasional ILO dalam menghitung angka pengangguran, di mana seseorang dianggap bekerja jika telah melakukan aktivitas produktif minimal satu jam dalam seminggu," katanya.

Dalam hal penyerapan tenaga kerja, sektor pertanian menjadi yang tertinggi. "Meskipun sektor pertanian menyerap banyak tenaga kerja, produktivitasnya masih rendah dan gaji yang diterima juga tidak maksimal," tutupnya.

Data statistik terkini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Sumatera Selatan tahun 2026 mencapai 75,28, meningkat 0,52 poin atau 0,70 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,45 persen, menurun dibandingkan tahun sebelumnya.(*)