KETIK, SURABAYA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum sejumlah kejadian bencana dan penanganannya di beberapa wilayah Indonesia dalam periode Kamis, 24 September 2026 pukul 07.00 WIB hingga Jumat, 25 September 2026 pukul 07.00 WIB. Kejadian yang terpantau meliputi cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kebakaran di fasilitas pengelolaan sampah. Kondisi kering, angin kencang, suhu udara panas, dan keterbatasan sumber air di sejumlah wilayah perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko dan memperluas dampak kebakaran.
Di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, cuaca ekstrem berupa angin kencang terjadi pada Kamis, 24 September 2026 pukul 18.06 WIB. Kejadian di Gampong Kayu Beringin dan Gampong Uring, Kecamatan Bukit, tersebut berdampak pada sekitar 22 kepala keluarga (KK). Sebanyak dua kepala keluarga mengungsi sementara ke rumah kerabat. Hasil pendataan menunjukkan empat unit rumah rusak berat, empat unit rusak sedang, dan 14 unit rusak ringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bener Meriah bersama masyarakat melakukan pembersihan material secara gotong royong dan menyalurkan bantuan masa panik.
Di Jawa Timur, karhutla terjadi di Kabupaten Ponorogo, Kota Malang, dan Kabupaten Bojonegoro. Di Kabupaten Ponorogo, kebakaran terjadi pada Rabu, 23 September 2026 malam di Desa Tanjungsari dan merambat ke lahan tebu di Desa Paringan, Kecamatan Jenangan. Luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar tujuh hektare dan api telah berhasil dipadamkan. Sementara itu, di Kota Malang, kebakaran terjadi di kawasan hutan produksi pinus di Desa Gunung Sari, Kecamatan Bumiaji, dengan luas sekitar 2,29 hektare. Kebakaran diduga berasal dari sisa pembakaran serasah yang ditinggalkan tanpa pengawasan. Namun, penyebabnya masih dalam proses penyelidikan. Api telah berhasil dipadamkan dan tidak meluas ke area lainnya.
Di Kabupaten Bojonegoro, kebakaran lahan dan rumpun bambu terjadi pada Rabu, 23 September 2026 sekitar pukul 09.00 WIB di wilayah Kecamatan Bojonegoro. Kebakaran berdampak pada sekitar satu hektare lahan. BPBD bersama Damkarmat melakukan asesmen, berkoordinasi dengan unsur terkait, dan melakukan pemadaman. Api telah berhasil dipadamkan.
Karhutla juga terjadi di Taman Nasional Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, sejak Selasa, 22 September 2026. Kebakaran di kawasan RPTN Cabang SPTN Wilayah II Bungur tersebut berdampak pada sekitar 600 hektare lahan. Penanganan hingga Kamis, 24 September 2026, menghadapi kendala berupa akses menuju lokasi yang sulit, keterbatasan sumber air, dan jarak titik api yang cukup jauh dari sumber air. Tim gabungan melakukan pemadaman menggunakan peralatan tangan dan jet shooter. Penanganan kemudian diperkuat dengan pemadaman langsung menggunakan pompa portable dan jet shooter, serta pemadaman tidak langsung melalui pembuatan ilaran api.
Baca Juga:
Tekan Risiko Karhutla BPBD Jatim Tebar 3.200 NaCL, Gubernur Khofifah: Alhamdulillah Mulai Turun HujanDi Jawa Tengah, kebakaran hutan dan lahan terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, Kabupaten Magelang. Kebakaran mulai terjadi pada Selasa, 22 September 2026 dan membakar vegetasi berupa rumput serta pohon pinus. Hasil pemantauan menggunakan drone Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menunjukkan luas kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merapi yang terbakar selama periode 22–24 September mencapai sekitar 59,5 hektare. Sebagian besar area telah berhasil dipadamkan hingga Kamis, 24 September 2026 malam. Tim gabungan masih melakukan pemantauan dan patroli untuk memastikan tidak terdapat titik api baru karena masih terdapat bara di sejumlah lokasi.
Kebakaran lahan juga terjadi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada Kamis, 24 September 2026, tepatnya di Desa Sambiduwur, Kecamatan Tanon. Kejadian bermula ketika api membakar rumpun bambu dan kemudian merambat ke lahan jati. Berdasarkan laporan lapangan, kebakaran dipicu aktivitas pembakaran sampah. Sekitar tiga hektare lahan jati dan lima rumpun bambu terbakar. BPBD dan Damkar Kabupaten Sragen melakukan asesmen dan penanganan serta memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pencegahan karhutla. Api telah berhasil dipadamkan.
Sementara itu, kebakaran kembali terjadi di TPA Putri Cempo, Kota Surakarta, Jawa Tengah, pada Kamis, 24 September 2026 sekitar pukul 11.32 WIB. Kebakaran terjadi pada tumpukan sampah di Blok B, C, dan D1 dengan total area terbakar sekitar 1,36 hektare. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Tim gabungan melakukan pemadaman dan suplai air, sementara Dinas Kesehatan Kota Surakarta membuka pos kesehatan dan membagikan masker kepada masyarakat sekitar. Penanganan melibatkan unsur pemadam kebakaran, TNI, Polri, serta unsur terkait lainnya. Kondisi di lokasi turut dipengaruhi suhu udara yang mencapai 36 derajat Celsius dan angin yang cukup kencang.
Di Sulawesi Utara, karhutla terjadi di Kabupaten Minahasa dan Kabupaten Minahasa Utara. Di Kabupaten Minahasa, kebakaran terjadi pada Kamis, 24 September 2026 sekitar pukul 18.30 WITA di Kelurahan Kinali, Kecamatan Kawangkoan, dengan luas sekitar dua hektare. Api berhasil dipadamkan setelah BPBD berkoordinasi dengan Damkar dan unsur terkait untuk melakukan penanganan di lokasi. Laporan awal menyebut kebakaran diduga berasal dari aktivitas pembakaran sampah, tetapi informasi tersebut masih berupa dugaan sementara.
Baca Juga:
Lima Gunung di Jatim Berkobar Dilanda Karhutla, Semeru Terbakar 1.888 HektareSementara itu, di Kabupaten Minahasa Utara, kebakaran di kawasan kaki Gunung Klabat, Desa Klabat, Kecamatan Airmadidi, berdampak pada sekitar 280 hektare lahan berdasarkan pendataan. Laporan menyebut angin kencang turut memicu penyebaran api. Penanganan dilakukan secara gabungan oleh BPBD, TNI, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, KPH, relawan, serta masyarakat. Sejumlah titik api berhasil dilokalisasi dan pemadaman masih diperkuat di lapangan.
Di Sulawesi Selatan, karhutla terjadi di Kota Palopo, Kabupaten Pinrang, dan Kabupaten Sidenreng Rappang. Di Kota Palopo, kebakaran terjadi di sekitar kawasan Battang dan Battang Barat, Kecamatan Wara Barat. Terdapat tiga titik api yang kemudian merambat ke vegetasi pakis hutan dan membakar sekitar lima hektare lahan. Api telah berhasil dipadamkan pada Kamis, 24 September 2026.
Di Kabupaten Pinrang, kebakaran lahan terjadi di Desa Padang Loang, Kecamatan Patampanua, pada Kamis, 24 September 2026 sekitar pukul 17.15 WITA. Kebakaran berdampak pada sekitar 10 hektare lahan. BPBD Kabupaten Pinrang berkoordinasi dengan unsur terkait untuk melakukan pendataan dan penanganan. Api telah berhasil dipadamkan. Sementara itu, di Kabupaten Sidenreng Rappang, kebakaran lahan terjadi di Desa Mainungan, Desa Mattirotasi, dan Kelurahan Arawa, Kecamatan Watang Pulu, dengan luas sekitar 10 hektare. Penanganan dilakukan BPBD bersama Damkar dan unsur terkait, dan api telah berhasil dipadamkan.
Di Nusa Tenggara Barat, karhutla terjadi di Desa Loloan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, dengan luas lahan terbakar sekitar 127 hektare. Hingga Kamis, 24 September 2026, masih terdapat satu titik api dengan luasan sekitar 127 hektare. Lokasi cukup jauh dengan waktu tempuh sekitar enam jam dan berada di kawasan tebing. Kondisi berkabut serta angin kencang turut menjadi kendala dalam penanganan. Penambahan personel dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Masyarakat Peduli Api, Manggala Agni, dan petugas Taman Nasional Gunung Rinjani dilakukan untuk memperkuat pemadaman.
BNPB mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi kondisi cuaca. Di wilayah yang mengalami kondisi kering, masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar. Aktivitas pembakaran yang tidak diawasi dapat dengan cepat merambat ketika vegetasi kering, terutama apabila disertai angin kencang. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sejak dini.
Kesiapsiagaan juga perlu ditingkatkan untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem. Masyarakat diimbau memantau informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG serta mengikuti arahan pemerintah daerah. Saat terjadi angin kencang, masyarakat dapat menghindari aktivitas di sekitar pohon, papan reklame, bangunan, atau benda yang berpotensi roboh, mengamankan benda-benda yang mudah terbawa angin, serta memastikan saluran air dan lingkungan sekitar rumah tetap bersih untuk mengantisipasi hujan lebat.
BNPB bersama pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, pemadam kebakaran, Manggala Agni, pengelola kawasan, relawan, dan masyarakat terus melakukan pemantauan serta penanganan di wilayah terdampak. Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, dan segera menghubungi aparat atau layanan kebencanaan setempat apabila menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan.