KETIK, BATU – Memperingati Hari Sungai Sedunia 2026, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Malang (BEM UM) bersama Pemerintah dan masyarakat Kota Batu menyelenggarakan aksi Radar Pelan (Lentera Aksi Peduli Lingkungan) pada 3 hingga 4 Oktober 2026.
Kegiatan ini berkolaborasi dengan komunitas peduli lingkungan Sabers Pungli (Sapu Bersih Sampah Nyemplung Kali) serta melibatkan kurang lebih 150 mahasiswa BEM UM, sejumlah tenaga kependidikan UM, dan masyarakat Kota Batu.
Aksi ramah lingkungan ini bertujuan menjaga kebersihan sungai, mencegah pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya sungai sebagai bagian dari ekosistem dan sumber kehidupan masyarakat.
Kegiatan bersih sungai ini dilakukan dengan membersihkan berbagai jenis sampah yang ditemukan di badan dan bantaran sungai. Para mahasiswa, tenaga kependidikan, dan masyarakat bergandeng tangan bersama-sama mengumpulkan sampah dari sejumlah titik yang menjadi lokasi penumpukan.
Sampah yang terkumpul kemudian dibawa ke titik pengumpulan untuk dipilah dan dikelola lebih lanjut. Peserta juga membersihkan area di sekitar sungai guna mengurangi potensi masuknya sampah kembali ke aliran air.
Baca Juga:
Keren! Semeru Team UM Borong Dua Gelar Juara di KMHE 2026Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan dampak langsung terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian dan tanggung jawab bersama terhadap keberlanjutan ekosistem sungai.
Pengurangan sampah di badan dan bantaran sungai juga dapat membantu menjaga kelancaran aliran air sekaligus mengurangi risiko pencemaran ekosistem perairan.
Dari sisi sosial, kegiatan ini memperkuat semangat gotong royong dan menunjukkan peran mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat yang turut berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.
Aksi Radar Pelan secara langsung mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 6, yang mana Air Bersih dan Sanitasi Layak, terutama melalui upaya menjaga kebersihan sungai, mencegah pencemaran, dan mendukung kualitas sumber daya air.
Baca Juga:
Bedah Buku “Irian Barat”, UM Bahas Sejarah Papua dalam Pusaran Politik GlobalKegiatan ini juga berkontribusi pada SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui keterlibatan masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan perkotaan.
Selain itu, kolaborasi antara UM, mahasiswa, pemerintah, komunitas peduli lingkungan, dan masyarakat memperkuat SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, karena persoalan lingkungan membutuhkan kerja sama lintas sektor dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
Ketua Pelaksana Radar Pelan BEM UM, Akbar, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan kepedulian lingkungan melalui aksi nyata. Menurutnya, mahasiswa UM tidak boleh hanya memahami secara teori terkait lingkungan tetapi juga harus turun langsung bersama masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Kegiatan ini bukan hanya tentang membersihkan sungai dari sampah, tetapi juga tentang membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan membutuhkan aksi nyata dan keterlibatan bersama. Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami persoalan lingkungan secara teori, tetapi juga hadir dan berkontribusi langsung bersama masyarakat dalam mencari solusi,” ujar Akbar.
Kepala Subdit Sarana Prasarana UM, Faul Hidayatunnafiq, M.M., turut mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dan masyarakat dalam kegiatan tersebut. Ia berharap kegiatan ini menjadi program berkelanjutan yang bisa bermanfaat bagi lingkungan.
“Lingkungan yang baik membutuhkan kepedulian dan partisipasi dari semua pihak. Aksi bersih sungai seperti ini merupakan bentuk nyata bagaimana mahasiswa dan masyarakat dapat bersama-sama menjaga lingkungan. Harapannya, kepedulian tersebut tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi menjadi kebiasaan yang terus dilakukan secara berkelanjutan,” tuturnya.
Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
Aksi bersih sungai diharapkan dapat dilakukan secara konsisten dengan memperkuat edukasi lingkungan, pemantauan kondisi sungai, pengelolaan sampah dari sumbernya, serta memperluas kolaborasi antara UM, komunitas Sabers Pungli, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Dengan demikian, kepedulian terhadap sungai tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.(*)