KETIK, JAKARTA – Jutaan orang Indonesia bisa jadi sedang mengidap penyakit hati tanpa menyadarinya. Itulah mengapa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus mendorong masyarakat untuk rajin memeriksakan diri sejak dini.

Dalam laman resmi Kemenkes, estimasinya mengejutkan, sekitar 70 juta penduduk Indonesia mengalami penyakit hati kronis. 

Secara global, penyakit ini merenggut sekitar 2 juta nyawa setiap tahun. Lebih dari setengahnya dipicu oleh infeksi Hepatitis B dan Hepatitis C yang kerap tidak terdeteksi hingga sudah parah.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan, penyakit hati adalah ancaman diam-diam yang berbahaya. Hal tersebut disampaikan dalam forum Healthy Liver Awareness for Indonesia bertajuk 'Bicara Tentang Hati: Solid Habit, Strong Liver' di Aula Siwabessy, Gedung Prof. Dr. Sujudi, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.

Ia menekankan, pencegahan jauh lebih efisien daripada pengobatan di tahap lanjut—baik dari sisi biaya maupun kualitas hidup. 

Baca Juga:
Wamenkes Soroti Lonjakan Diabetes Remaja, Gaya Hidup Disebut Jadi Pemicu Utama

Angka skrining hepatitis di Indonesia masih jauh dari ideal. Saat ini cakupannya diperkirakan baru sekitar 10 persen, sementara WHO menargetkan 90 persen kasus terdeteksi dan 80 persen mendapat pengobatan.

“Jangan merasa sehat lalu tidak mau diperiksa. Banyak penyakit kronis, termasuk penyakit hati, berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun. Ketika gejala muncul, sering kali penyakit sudah berada pada tahap lanjut,” tegas Menkes Budi.

Untuk mendongkrak angka itu, skrining penyakit hati kini sudah diintegrasikan ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pemeriksaannya mencakup deteksi Hepatitis B lewat tes HBsAg dan penilaian fibrosis hati menggunakan metode APRI berbasis pemeriksaan darah.

Selain meningkatkan deteksi dini, pemerintah juga terus memperkuat upaya pencegahan melalui imunisasi tenaga kesehatan dengan Hepatitis B, pemberian profilaksis antivirus kepada ibu hamil untuk mencegah penularan Hepatitis B ke bayi, dan penerapan kebijakan Nutri-Level mulai 2026 untuk membantu masyarakat mengontrol konsumsi gula, garam, dan lemak, yang meningkatkan risiko penyakit hati akibat gangguan metabolik. (*)

Baca Juga:
Sleman Perkuat Benteng Kesehatan! Dinkes Masifkan Program Aksi Sehat hingga Kawal Standar Gizi Sekolah