Pengrajin Batu Nisan di Pacitan Bertahan Lebih dari Satu Dekade Walau Sepi Orderan

Jurnalis: Al Ahmadi
Editor: Hetty Hapsari

7 Des 2025 16:31

Thumbnail Pengrajin Batu Nisan di Pacitan Bertahan Lebih dari Satu Dekade Walau Sepi Orderan
Deretan batu nisan berbagai jenis yang dipajang siap dipasarkan ke seluruh wilayah kecamatan di Pacitan, Minggu, 7 Desember 2025. (Foto: Al Ahmadi/Ketik)

KETIK, PACITAN – Pendapatan tak menentu menjadi hal lumrah bagi Tri Wahyudi (35), pengusaha batu nisan yang terletak di Jalan K.A. Buono Keling No 52, Lingkungan Ngemplak, Desa Sirnoboyo, Pacitan. 

Meski demikian, Tri tetap bertahan melanjutkan usaha warisan keluarganya, UD. Karya Indah yang telah berjalan lebih dari satu dekade.

Empat tahun terakhir, Tri memproduksi berbagai jenis batu nisan berbahan marmer, granit, dan semen dengan beragam motif.

Harga jualnya berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp1,15 juta, menyesuaikan kualitas. 

Baca Juga:
Harga Kambing Turun, Tapi Seporsi Sate di Pacitan Tetap Stabil: Pedagang Ungkap Alasannya

Produk dari UD Karya Indah telah dibeli hampir dari seluruh wilayah kecamatan di Pacitan, bahkan yang paling jauh berasal dari Kecamatan Punung-Donorojo.

"Kalau yang jauh akan diantarkan sampai lokasi," ungkapnya saat disambangi ketik.com, Minggu, 7 Desember 2025.

 

Foto Tri Wahyudi, pengusaha batu nisan UD Karya Indah di Ngemplak, Sirnoboyo, Pacitan, saat menunjukkan hasil produksinya, Minggu, 7 Desember 2025. (Foto: Al Ahmadi/Ketik)Tri Wahyudi, pengusaha batu nisan UD Karya Indah di Ngemplak, Sirnoboyo, Pacitan, saat menunjukkan hasil produksinya, Minggu, 7 Desember 2025. (Foto: Al Ahmadi/Ketik)

Baca Juga:
Tunggakan Sewa Lapak Pasar Minulyo Pacitan Baru Terbayar 42 Persen, Kurang Rp119 Juta

Namun luasnya jangkauan itu tidak serta-merta membuat pendapatannya stabil.

Tri menyebutkan bahwa dalam satu bulan terakhir, jumlah order hanya berkisar dua hingga tujuh unit.

Sebagian besar hasil penjualan langsung ia gunakan kembali sebagai modal membeli bahan baku. 

“Ya tidak menentu karena misal dapat omzet Rp3 juta uangnya langsung saya putar buat modal. Ya labanya sedikit-sedikit ada,” ujarnya.

Tri memahami, fluktuasi permintaan ini terjadi karena batu nisan bukan termasuk kebutuhan primer. 

Dan penjualannya sangat dipengaruhi situasi tertentu, terutama saat ada kematian dalam keluarga pembeli. 

“Karena bukan kebutuhan utama. Jadi ya sudah biasa,” kata Tri.

Ia mengungkapkan bahwa masa peningkatan penjualannya hanya muncul setahun sekali, yakni pada momen menjelang bulan Ramadan.

"Ramainya hanya pas mau puasa, sama saat dilanda pandemi Covid-19 itu," jelasnya.

Di luar itu, ia juga harus menyesuaikan ritme produksi. Jika stok mulai menumpuk, pekerjanya diliburkan sementara.

Meski pendapatan tidak stabil, Tri enggan meninggalkan usaha ini. Alasannya, karena di Pacitan masih minim pengusaha batu nisan.

“Banyak atau tidak banyak disukuri saja. Tetap optimis, karena di Pacitan bisnis batu nisan bisa jadi satu-satunya hanya disini," ungkapnya menutup.(*)

Baca Sebelumnya

Pemkab Asahan Tingkatkan Kapasitas Pengurus Masjid Lewat Pelatihan Manajemen

Baca Selanjutnya

Pemkab Asahan Sosialisasi Mekanisme BLTS ke Kepala Dusun

Tags:

UD Karya Abadi pengusaha batu nisan Pacitan pendapatan UMKM ekonomi lokal pacitan usaha kecil Pacitan kerajinan Pacitan

Berita lainnya oleh Al Ahmadi

Dilaporkan Warga, Penjual Ciu di Pacitan Diciduk Polisi: Kedapatan Simpan 41 Botol

16 April 2026 18:18

Dilaporkan Warga, Penjual Ciu di Pacitan Diciduk Polisi: Kedapatan Simpan 41 Botol

22 Pasien Rawat Inap MBG di Tegalombo Pulih, Dinkes Pacitan Lanjutkan Penanganan

16 April 2026 17:47

22 Pasien Rawat Inap MBG di Tegalombo Pulih, Dinkes Pacitan Lanjutkan Penanganan

Begini Nasib Relawan SPPG Kebondalem Pacitan Usai Program MBG Disuspend

16 April 2026 16:14

Begini Nasib Relawan SPPG Kebondalem Pacitan Usai Program MBG Disuspend

Korban Dugaan Keracunan Dipastikan Tertangani, Satgas MBG Pacitan: Dinas Gerak Cepat

15 April 2026 18:37

Korban Dugaan Keracunan Dipastikan Tertangani, Satgas MBG Pacitan: Dinas Gerak Cepat

Ini Update Satgas MBG Pacitan soal Siapa yang Bertanggungjawab Dugaan Keracunan

15 April 2026 17:47

Ini Update Satgas MBG Pacitan soal Siapa yang Bertanggungjawab Dugaan Keracunan

Pacitan Catat 8 Kasus Kekerasan Anak, Usia 11-13 Tahun Jadi Korban Terbanyak

15 April 2026 16:20

Pacitan Catat 8 Kasus Kekerasan Anak, Usia 11-13 Tahun Jadi Korban Terbanyak

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H