KETIK, BATU – Pemerintah Kota Batu mendorong pemanfaatan produk lokal dalam pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diharapkan mengutamakan bahan pangan asal Kota Batu, seperti buah, sayuran, hingga produk olahan UMKM.
Wali Kota Batu, Nurochman, bersama Wakil Wali Kota Heli Suyanto menegaskan bahwa potensi pertanian lokal, khususnya buah apel dan sayuran, dinilai mampu memenuhi kebutuhan program tersebut.
“Kami berharap SPPG memanfaatkan produk lokal Kota Batu, mulai dari buah hingga sayur. Tujuannya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menggerakkan perekonomian daerah,” ujar Nurochman, Jumat, 17 April 2026.
Baca Juga:
Pemkot Batu Pastikan Sektor Pariwisata Masuk Skala Prioritas Musrenbang Jatim 2027Menindaklanjuti arahan tersebut, Kepala SPPG Syair Beji, Achmad Jalaludin, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengutamakan penggunaan bahan pangan lokal sejak awal operasional dapur MBG.
“Untuk memenuhi standar gizi MBG, kami memilih bahan berkualitas dan sebagian besar berasal dari hasil pertanian Kota Batu, seperti apel dan jeruk,” jelasnya.
Selain komoditas hortikultura, SPPG juga melibatkan produk olahan lokal. Salah satunya adalah tempe khas Desa Beji yang dikenal sebagai sentra produksi tempe skala mikro dan kecil.
“Sebagai sumber protein nabati, kami menggunakan tempe dari Desa Beji. Ini juga sejalan dengan arahan untuk melibatkan UMKM di sekitar dapur MBG,” tambahnya.
Baca Juga:
Koordinator Pedagang Diperiksa 3 Jam, Kejari Batu Kejar Aktor Kasus Pasar Among TaniKeberadaan Kampung Tempe di Desa Beji sendiri terus berkembang sebagai pusat kuliner sekaligus eduwisata berbasis potensi lokal.
Industri tempe yang tersebar di sejumlah dusun menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat setempat, dengan ratusan perajin aktif memproduksi tempe dan berbagai olahannya.
Jalal berharap, pemanfaatan produk lokal dalam program MBG tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi siswa, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dari tingkat bawah.
“Kami ingin kehadiran SPPG Syair memberikan dampak nyata bagi warga. Tidak hanya dari sisi penyerapan produk, tetapi juga tenaga kerja yang sebagian besar berasal dari masyarakat sekitar, mencapai sekitar 85 persen dari total 47 pekerja,” pungkasnya. (*)