KETIK, LEBAK – Kabupaten Lebak, Banten, menjadi salah satu dari enam daerah di Indonesia yang ditetapkan sebagai lokasi intervensi penuh Program STRIDES-GHS (Strengthening Infectious Disease Detection Systems – Global Health Security).
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kewaspadaan, kesiapsiagaan, serta kemampuan daerah dalam mendeteksi dan merespons secara cepat ancaman zoonosis dan penyakit infeksius baru yang berpotensi menimbulkan pandemi.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bapperida Kabupaten Lebak, Widy Ferdian, kepada wartawan usai mengikuti Sosialisasi Pelaksanaan Program STRIDES-GHS yang digelar di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Widy mengatakan, kegiatan sosialisasi yang berlangsung pada 26–27 Agustus 2026 tersebut menjadi momentum penting bagi Kabupaten Lebak untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi potensi ancaman penyakit menular, khususnya penyakit zoonosis yang dapat ditularkan dari hewan kepada manusia.
“Program STRIDES-GHS ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan daerah, sekaligus memperkuat kapasitas dalam melakukan penilaian risiko, deteksi, hingga respons cepat terhadap ancaman zoonosis dan penyakit infeksius baru yang berpotensi menjadi pandemi. Ini menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan kesehatan nasional,” ujar Widy Ferdian.
Baca Juga:
Disnaker Lebak Buka Suara Soal Persoalan Ketenagakerjaan di IndomaretMenurutnya, Kabupaten Lebak bersama lima kabupaten lainnya, yakni Kabupaten Tangerang, Kabupaten Bogor, Kabupaten Subang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Sukoharjo, mendapatkan cakupan intervensi penuh dalam pelaksanaan program tersebut.
Program STRIDES-GHS akan dilaksanakan pada periode September hingga Desember 2026. Pelaksanaan program didukung oleh sumber pendanaan Pemerintah Amerika Serikat melalui U.S. Department of State, dengan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sebagai pelaksana utama.
Widy menjelaskan, salah satu fokus utama program adalah meningkatkan kapasitas deteksi dan rujukan laboratorium veteriner. Penguatan tersebut mencakup pelatihan biosafety dan biosecurity, peningkatan kemampuan diagnostik molekuler, serta penguatan kapasitas sekuensing genomik untuk mendeteksi dan mengidentifikasi ancaman penyakit secara lebih cepat dan akurat.
“Penguatan laboratorium menjadi sangat penting karena deteksi dini merupakan kunci dalam mencegah meluasnya suatu penyakit. Selain peningkatan kapasitas sumber daya manusia, program ini juga mencakup dukungan peralatan dan perbekalan pengujian laboratorium serta penguatan sistem rujukan spesimen,” katanya.
Baca Juga:
Dukung Dakwah Pedalaman, UPZDK Permata Bank Syariah-DDII Kirim Dai dan Bangun Infrastruktur di Daerah 3 TSelain aspek laboratorium, STRIDES-GHS juga akan memperkuat sistem informasi dan pelaporan penyakit zoonosis. Salah satunya melalui penguatan IV Lab serta interoperabilitas pelaporan zoonosis melalui iSIKHNAS.
Pemanfaatan data secara terpadu menjadi bagian penting dari pendekatan One Health, yakni pendekatan yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam menghadapi ancaman penyakit menular.
“Kita ingin sistem informasi dan data tidak hanya menjadi laporan administratif, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Pelaporan yang cepat dan terintegrasi akan membantu pemerintah melakukan respons secara lebih tepat ketika ditemukan indikasi kejadian penyakit atau outbreak,” tutur Widy.
Program tersebut juga mencakup penguatan surveilans dan deteksi outbreak serta pembentukan atau penguatan Tim Koordinasi Daerah (TIKORDA) di tingkat kabupaten. Tim ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi kejadian luar biasa maupun ancaman penyakit yang berpotensi berkembang menjadi epidemi dan pandemi.
Menurut Widy, kesiapsiagaan daerah tidak cukup hanya dengan membangun sistem deteksi, tetapi juga harus diikuti dengan kemampuan melakukan respons secara cepat dan terkoordinasi.
“Kesiapsiagaan harus dibangun sebelum terjadi wabah. Karena itu, kita perlu menyiapkan sistem, sumber daya, fasilitas, dan koordinasi yang mampu bergerak cepat ketika ada ancaman. Termasuk melalui Simulation Exercise atau SimEx untuk menguji kesiapan menghadapi epidemi maupun pandemi influenza,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan Kabupaten Lebak dalam intervensi penuh Program STRIDES-GHS menjadi kesempatan strategis untuk memperkuat kapasitas daerah, khususnya dalam menghadapi ancaman zoonosis yang berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
“Kami tentu berharap pelaksanaan program ini memberikan manfaat nyata bagi Kabupaten Lebak. Penguatan kapasitas deteksi, surveilans, laboratorium, sistem informasi, serta koordinasi lintas sektor akan menjadi modal penting bagi daerah dalam meningkatkan ketahanan kesehatan dan melindungi masyarakat dari ancaman penyakit infeksius,” pungkas Widy Ferdian.
Dengan pelaksanaan STRIDES-GHS, Kabupaten Lebak diharapkan semakin siap dalam melakukan deteksi dini, penilaian risiko, serta respons cepat terhadap ancaman penyakit zoonosis dan penyakit infeksius baru, sehingga potensi penyebaran penyakit dapat ditekan sedini mungkin.(")