KETIK, JOMBANG – Pemanfaatan teknologi robotik dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia medis terus berkembang, termasuk pada tindakan bedah ortopedi dan tulang belakang. Namun, di balik kecanggihan teknologi tersebut, keberhasilan operasi tetap sangat ditentukan oleh kompetensi dan pengalaman dokter yang menggunakannya.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan edukasi kesehatan bertajuk “Mobilitas Aktif di Usia Emas” yang menghadirkan dua pakar ortopedi dari KPJ Kuching Specialist Hospital Malaysia, yakni dr. Lee Woo Guan dan dr. Wong Chung Chek, di Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.

Menurut dr. Lee Woo Guan, masyarakat perlu memahami bahwa robot bedah bukanlah pengganti dokter, melainkan alat bantu yang dirancang untuk meningkatkan akurasi tindakan medis.

“Teknologi robotik dan AI dapat membantu proses operasi menjadi lebih presisi, tetapi keputusan klinis, pengalaman, dan keterampilan dokter tetap menjadi faktor utama yang menentukan hasil pengobatan,” ujar dr. Lee.

Ia menjelaskan, kemajuan teknologi memungkinkan dokter memperoleh data dan visualisasi yang lebih akurat saat operasi. Namun, tanpa kemampuan yang memadai dalam mengoperasikan teknologi tersebut, risiko kesalahan maupun komplikasi tetap dapat terjadi.

Baca Juga:
Industri Makanan dan Minuman Jatim Tumbuh 11,6 Persen, PDRB Tembus Rp451 Triliun

“Peralatan canggih bisa dibeli siapa saja, tetapi yang paling penting adalah kualitas tenaga medis yang menggunakannya. Teknologi terbaik harus didukung oleh dokter yang terlatih dan berpengalaman,” katanya.

Edukasi Pasien Penting Sebelum Memilih Operasi Robotik

Dr. Lee menilai meningkatnya tren operasi berbasis robotik perlu diimbangi dengan edukasi kepada masyarakat. Pasien tidak hanya perlu mempertimbangkan teknologi yang digunakan rumah sakit, tetapi juga rekam jejak dokter yang akan melakukan tindakan.

Menurutnya, banyak pasien saat ini tertarik pada istilah “operasi robotik” karena dianggap lebih modern. Padahal, keberhasilan operasi merupakan kombinasi antara teknologi, standar rumah sakit, serta keahlian tim medis.

Baca Juga:
BP Batam dan Koarmada I Bahas Pemanfaatan AI untuk Perkuat Keamanan Pelabuhan

“Yang perlu ditanyakan pasien bukan hanya apakah rumah sakit memiliki robot, tetapi juga siapa dokter yang mengoperasikan dan seberapa banyak pengalaman yang dimiliki,” jelasnya.

Teknologi Navigasi Robotik Tingkatkan Akurasi Bedah Tulang Belakang

Sementara itu, Konsultan Ahli Bedah Ortopedi dan Tulang Belakang, dr. Wong Chung Chek, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi navigasi robotik telah membawa perubahan signifikan dalam prosedur bedah tulang belakang.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah sistem navigasi berbasis visualisasi tiga dimensi yang memungkinkan dokter melihat anatomi pasien secara lebih detail selama tindakan berlangsung.

“Teknologi navigasi robotik membantu ahli bedah menempatkan implan atau skrup dengan tingkat presisi yang sangat tinggi, sehingga dapat meminimalkan risiko cedera pada jaringan saraf dan meningkatkan keamanan prosedur,” kata dr. Wong.

Menurutnya, penggunaan teknologi tersebut juga berpotensi mengurangi komplikasi, mempercepat proses pemulihan pasien, dan meningkatkan hasil klinis jangka panjang.

Ia mencontohkan kasus skoliosis atau kelainan lengkung tulang belakang yang kini dapat ditangani dengan perencanaan dan akurasi lebih baik berkat dukungan sistem navigasi modern.

Kolaborasi Edukasi Kesehatan Indonesia-Malaysia

Acara yang merupakan kolaborasi antara KPJ Kuching Specialist Hospital dan Bhinneka Life Indonesia itu dihadiri sekitar 100 peserta yang sebagian besar merupakan masyarakat umum dan nasabah.

Regional Chief Executive Officer KPJ Healthcare Wilayah Malaysia Timur, dr. Kenny Yeap Kim Pey, menegaskan pentingnya kegiatan edukasi lintas negara untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perkembangan layanan kesehatan modern.

“Kami berharap kegiatan edukasi seperti ini dapat terus berlanjut sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai pilihan pengobatan dan teknologi kesehatan terkini,” ujarnya.

Senada dengan itu, CEO Bhinneka Life, Benny Indra, mengatakan bahwa literasi kesehatan menjadi kebutuhan penting di tengah meningkatnya angka harapan hidup masyarakat.

“Kesehatan adalah investasi jangka panjang. Melalui kegiatan edukasi seperti ini, masyarakat dapat memahami bagaimana menjaga kualitas hidup dan memilih layanan kesehatan yang tepat ketika dibutuhkan,” katanya. (*)