Saat mengajar, sering penulis berkeluh-kesah, sambat kepada anak-anak didik (mahasiswa). Keluh-kesah serta sambat ini, penulis curhatkan mengenai situasi dan kondisi negeri ini. Selama menjadi Warga Negara Indonesia, belum pernah penulis merasa aman dan nyaman. 

Mungkin kedua rasa ini, bukan hanya penulis yang mengalami. Penulis yakin, banyak penghuni republik ini merasakan hal yang sama. Selama delapan puluh tahun lebih negeri ini merdeka, kemakmuran dan kesejahteraan belum bisa dirasakan oleh seluruh warganya.

Ironi memang, negeri yang katanya berlimpah sumber daya alam, sejak merdeka masih masuk dalam kategori negara berkembang. Tragis! Sampai tulisan ini ditulis, masih banyak penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. 

Yang kata Sukarno dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi, beliau menyebut, “Bangsa Kokoro, bangsa yang makannya hanya sebenggol sehari” Penulis pun berimajinasi, “Kapan ya, kita punya negara yang bisa memberikan rasa aman dan nyaman?”

Di belahan bumi utara, khususnya di Eropa terdapat sebuah negara kecil, Norwegia. Meskipun negara kecil dan berpenduduk sedikit, ia memiliki budaya dan tradisi yang patut dicontoh bagi negara lain.

Baca Juga:
Lahirnya PP 16 Tahun 2026 Semakin Menguatkan Eksistensi Pendamping Desa

Selain itu, ia adalah negara yang memiliki pemerintahan yang transparan dan akuntabel, kebijakan publik mengarah ke masa depan serta sumber daya alam (SDA) yang unik. 

Kesemuanya ini mampu membawa rakyatnya ke dalam kemakmuran, kesejahteraan. Bahkan dapat pula dikatakan sebagai negara yang memiliki stabilitas sosial terbaik di dunia.

Untuk itu perlu kiranya, Indonesia patut belajar dari negera tersebut. Belajar darinya berarti memahami bagaimana nilai-nilai dasar dapat diadopsi untuk negeri kita menjadi Indonesia Raya.

Norwegia punya nama resmi, Kerajaan Norwegia. Adalah sebuah negara Nordik di semenanjung Skandinavia. Negeri ini berbagi perbatasan di timur dengan Swedia. Sementara di timur laut berbatasan dengan Finlandia dan Rusia. 

Baca Juga:
Ketika AI Membuat Siswa Cepat Menjawab tetapi Lambat Memahami

Norwegia memiliki garis pantai yang panjang dan luas. Menjadikannya negara yang memiliki garis pantai terpanjang dan terluas di benua biru. Topografi pantainya bukan seperti pada umumnya. Konturnya adalah fjord-fjord, adalah teluk laut yang panjang dan sempit dengan tebing yang curam, yang terbentuk oleh gletser.

Diselimuti empat musim dengan musim dingin adalah musim yang terpanjang, membuat sebagian besar wilayahnya berselimut salju. Dugaan penulis, karena topografi alam dan kondisi iklimnya yang demikian, penduduknya berkarakter ulet, kreatif, tangguh, serta berempati tinggi. 

Karakter ini merupakan nilai-nilai yang menjadi ciri budaya mereka. Bentang alam yang menantang ini, menurut penulis adalah anugerah bagi mereka. Berski, naik gunung, dan gowes bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari. 

Janteloven (atau hukum Jante) adalah hukum yang menjadi pijakan bagi warganya. Sebuah hukum kehidupan yang menjadi budaya di mana menekankan equality, humble, dan solidaritas. 

Hukum tersebut dijunjung tinggi dan menjadi pedoman hidup. Dengan menjalankan hukum yang diwariskan leluhurnya itu, terciptalah lingkungan sosial yang harmonis sehingga terciptalah kehidupan sosial yang demokratis dan berkeadilan.

Negara-negara di dunia pun tahu, Norwegia adalah salah satu negara yang paling sukses mengelola sumber daya alamnya, terutama minyak dan gas. Kesuksesan ini menjadi modal dasar untuknya dalam melakukan pembangunan nasional.

Pemerintahnya berhasil mengelola hasil sumber daya alamnya dengan optimal dan bijak. Bijak dengan tidak menghabiskan pendapatan minyak secara cepat. Hasil dari olah minyak dan gas ini diinvestasikan ke dalam sebuah investasi keuangan: The Government Pension Fund Global (GPFG) – dikenal juga sebagai Oil Fund. 

Tercatat Norwegia pada tahun 2024, memiliki kekayaan sebesar sekitar 20 triliun Norwegian Kroner (sekitar USD 1,8 triliun). Ini menjadikan dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) terbesar di dunia. Jika dibanding dengan produk domestik brutonya adalah hampir empat kali besarnya.

Kekayaan tersebut diperoleh dari nilai Oil Fund. Sebuah taktik jitu di mana hasil dari minyak dan gas tidak langsung digunakan dalam belanja pemerintah. Hasil dari kedua sumber daya alam ini lebih dulu disimpan dan diinvestasikan. Hal tersebut untuk jaminan stabilitas keuangan dalam jangka panjang. 

Selain itu, tiap tahun negeri ini hanya menggunakan sekitar 3% dari nilai dana itu dalam anggaran negara. Perlu dilakukan karena untuk menghindari efek ekonomi cepat panas berlebih dan menjaga dana itu tetap tersedia untuk generasi mendatang.

Ini menunjukkan bahwa negara tersebut cerdik dalam memanfaatkan SDA. Tidak hanya memikirkan kebutuhan yang bersifat sesaat saja, tetapi juga masa depan generasi penerus.

Selain minyak dan gas bumi, negeri ini juga mengembangkan sektor lain seperti perikanan, teknologi maritim dan energi terbarukan (air dan angin). Termasuk pula sektor jasa serta teknologi digital. 

Justru pengelolaan di beberapa sektor inilah yang membuat perekonomiannya lebih tahan terhadap perubahan harga minyak dunia yang dinamis. Nilai lebih lainnya, Norwegia juga memiliki inflasi dan pengangguran yang relatif rendah. Suatu indikasi bahwa Norwegia memiliki ekonomi yang sehat dan stabil.

Ditilik dari indeks pembangunan manusia (Human Development Index), Norwegia secara konsisten berada di nomor satu di antara negara-negara Nordik. Memiliki sistem layanan kesehatan yang optimal di mana semua warga negara dapat mengakses layanan medis dengan kualitas terbaik tanpa takut-cemas memikirkan ongkos.

Faktor pendidikan pun tersedia secara luas dan relatif terjangkau dari pendidikan dasar sampai tinggi. Kebijakan ini menjadikan Norwegia, negara dengan kesetaraan sosial dan kualitas hidup tinggi, serta rasa aman yang kuat. 

Skor indeks persepsi korupsi Norwegia juga tergolong sangat rendah (tingkat korupsi kecil). Menggambarkan sistem pemerintahan yang bersih dan bisa dipercaya.

Kepercayaan ini merupakan modal pemerintah untuk menjalankan semua kebijakannya dengan dukungan penuh dari rakyatnya. Merupakan modal sosial yang tak ternilai untuk terbentuknya stabilitas nasional.

Kenyataan bahwa keputusan dan kebijakan investasi Oil Fund, melalui proses evaluasi etika. Menegaskan, negara tidak hanya mengejar keuntungan finansial semata, namun mempertimbangkan pula dampak (moral dan sosial) dari keputusan dan kebijakan yang telah diambil (investasi).

Tentu bukan tanpa tantangan. Melalui perdebatan sengit dan alot, akhirnya diputuskan untuk menjalankan program Oil Fund. Menunjukkan sistem demokrasi telah berjalan – bukan monopoli kekuasaan yang tertutup dan kaku.

Lalu, dari negeri Skandinavia ini, apa yang bisa dipelajari oleh Indonesia? Dengan sumber daya alam yang berlimpah, tentunya Indonesia ada persamaan dengan Norwegia. Faktor-faktor apa saja yang membuat Norwegia sukses dan berhasil dapat menjadi dasar inspirasi untuk Indonesia. 

Berkaca dari Norwegia, maka menurut penulis, Indonesia (baca: pemerintah) wajib melakukan:

1) Pengelolaan SDA untuk jangka panjang. 

SDA yang kita miliki haruslah dimanfaatkan dengan bijak dengan strategi berpikir untuk generasi penerus.

2) Tata kelola publik yang baik dan transparansi. 

Kepercayaan publik yang telah terbentuk merupakan modal sosial untuk pengambilan keputusan dan kebijakan yang pro rakyat

3) Investasi pro rakyat. 

Semua investasi haruslah bisa membuat rakyat makmur dan sejahtera.

4) Kesejahteraan universal

Layanan publik haruslah bisa membuat rakyat lebih aman, nyaman dan bebas dari rasa takut-cemas.

5) Etika dalam kebijakan publik. 

Dalam membuat keputusan dan kebijakan haruslah berdasarkan keseimbangan etika dan ekonomi. Artinya, bukan hanya sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi tetapi juga pemerataan.

Akhirnya, negeri di belahan Eropa Utara itu mengajarkan kepada kita (Indonesia) bahwa kekayaan bukan sekadar milik segelintir orang atau kelompok tertentu (Oligarki). Kekayaan adalah modal bersama yang harus dikelola dengan bijak. 

Bahwa keberhasilan Norwegia lebih kepada keputusan dan kebijakan yang tepat. Ditambah lagi nilai budaya yang melekat kuat, serta komitmen pada masa depan bersama. Jika Indonesia bersedia mengadopsi nilai-nilai tersebut, visi-misi menjadikan Indonesia seperti Norwegia bukan sekadar impian dan bukan harapan palsu. 

Piye jal, mantap enggak? Nah, loh, gas pol!

*) Erry Himawan merupakan Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)