KETIK, SURABAYA – Surabaya Friendship Community (SFC) menggelar acara buka puasa bersama sebagai agenda rutin tahunan untuk mempererat tali silaturahmi antaranggota. Pertemuan yang berlangsung hangat ini diselenggarakan pada Jumat, 6 Maret 2026, bertempat di Resto Nine, Jalan Mayjen Sungkono Surabaya.
Acara ini menjadi momentum penting bagi komunitas yang sebelumnya bernama Surabaya Friendship Club tersebut untuk mengukuhkan persaudaraan lintas latar belakang. Meski para anggotanya berasal dari beragam suku, agama, dan profesi, semangat kebersamaan tetap menjadi fondasi utama yang menyatukan mereka selama hampir enam tahun berdiri.
Dendy T. Sean, direktur MPM Honda sekaligus pemimpin SFC, menyatakan rasa bangganya terhadap konsistensi komunitas ini sebagai representasi nyata Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, SFC adalah wadah di mana perbedaan tidak pernah menjadi pemicu konflik, melainkan menjadi kekuatan untuk tetap "guyub" dan saling mendukung satu sama lain.
“Seperti yang saya bilang tadi di awal, di komunitas ini semua suku ada, semua agama ada, tapi semuanya bersikap toleransi, itu kan Bhineka Tunggal Ika, kita ubah yang tadinya komunitas ini Bernama Surabaya Friendsip Club menjadi Surabaya Friendship Community agar menjadi lebih besar, intinya komunitas ini dari kita, untuk kita dan teman-teman yang sedang berproses,” ucapnya.
Senada dengan hal tersebut, Arie Rukmantara, Chief Field Office (CFO) UNICEF, menekankan bahwa SFC memiliki keunikan tersendiri dibandingkan organisasi bisnis lainnya karena strukturnya yang cair tanpa keanggotaan kaku.
Baginya, komunitas ini bukan sekadar tempat bertukar kartu nama, melainkan sebuah paguyuban yang menonjolkan sisi kemanusiaan melalui berbagai kontribusi sosial nyata.
“Jadi, tidak hanya kumpul-kumpul lalu makan-makan, tukar kartu nama, lalu membuat network bisnis, tapi kita juga mengumpulkan dana untuk kemudian diberikan kepada masyarakat langsung,” ucapnya.
Kontribusi sosial tersebut diwujudkan melalui penyaluran dana urunan anggota untuk membantu masyarakat Surabaya yang kurang beruntung, seperti renovasi sekolah hingga pemberian bantuan bagi siswa kurang mampu.
Hal ini membuktikan bahwa jaringan bisnis yang terbangun di dalam SFC selalu berjalan beriringan dengan misi kepedulian sosial.
“Bahkan hingga bisa merenovasi dan membangun sekolah, kita juga bisa memberikan bantuan untuk siswa yang kurang mampu dan Masyarakat Surabaya yang kurang beruntung, ini luar biasa untuk saya. Salut, bangga dan hormat sekali dengan paguyuban seperti Surabaya Frienship Community ini,” jelasnya.
Kehadiran eks Anggota Komisi IX DPR RI, Indah Kurnia, turut menambah kekhidmatan acara yang menekankan pentingnya pertemuan fisik di era digital. Indah menilai bahwa silaturahmi tatap muka seperti ini memiliki nilai emosional yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar berinteraksi melalui grup pesan singkat dalam menjaga semangat kehidupan.
“jadi ini cara yang paling baik untuk tetap kita mengakrabkan diri, menjaga semangat dan harapan kita menjalani kehidupan bersama dengan teman-teman, hadir secara fisik seperti ini, tidak hanya di grub WhatsApp,” jelasnya.
Selain menjadi ajang silaturahmi, acara buka bersama ini juga diperkaya dengan sesi seminar edukatif yang menghadirkan empat pembicara ahli di bidangnya. Dimoderatori oleh Kiagus Firdaus, founder sekaligus CEO Keti.com, para narasumber memberikan wawasan strategis mengenai tantangan dunia usaha dan perkembangan ekonomi terkini kepada seluruh anggota yang hadir.
Inovasi bisnis dibahas secara mendalam oleh Perry Angglishartono yang mewakili CEO Jamu Iboe, Stephen Walla, sementara kondisi makro ekonomi dipaparkan oleh Revi Adiana, Dewan Pengawas Dapen BJTM. Revi menjelaskan secara mendetail mengenai dinamika perkembangan ekonomi global dan domestik yang perlu diantisipasi oleh para pelaku usaha di Surabaya.
Perspektif teknis mengenai regulasi juga disampaikan oleh Dedy Sidarta, Founder DConsulting.id, yang mengupas tuntas mengenai sistem perpajakan terbaru atau coretax. Melengkapi sesi tersebut, Didin Noor Ali selaku Group CEO & Founder Infesta Corp memberikan gambaran mengenai masa depan sistem pembayaran yang semakin digital.
Rangkaian acara ini ditutup dengan ramah tamah yang memperkuat posisi SFC sebagai simbol harmoni warga Surabaya. Melalui perpaduan antara diskusi bisnis dan aksi sosial, Surabaya Friendship Community membuktikan diri sebagai komunitas yang tidak hanya visioner dalam profesi, tetapi juga tulus dalam menjaga kerukunan bangsa. (*)
