KETIK, JAKARTA – Dari kawasan timur Indonesia, sebuah merek busana lokal tumbuh dengan membawa sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar desain. Halmaroots hadir untuk menempatkan warisan Halmahera dan Maluku Utara di ruang yang paling dekat dengan generasi muda: pakaian yang mereka kenakan dalam keseharian.
Meski baru berjalan beberapa bulan, Halmaroots mulai mencuri perhatian pencinta fashion. Rilisan-rilisannya menawarkan tampilan kontemporer dengan identitas daerah yang kuat, menjadikan kebudayaan lokal bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan bagian dari gaya hidup masa kini.
Di balik lahirnya Halmaroots ada Adi Mulyo dan Mujiono, kakak beradik asal Desa Kupal, Bacan. Keduanya merantau demi menimba ilmu di salah satu universitas di Jakarta. Dalam perjalanan pendidikan tersebut, dua putra Bacan itu kemudian menciptakan brand Halmaroots dengan menjadikan akar budaya daerah sebagai fondasi kreativitas sekaligus arah pengembangannya.
Kehadiran Halmaroots berawal dari kegelisahan terhadap minimnya unsur budaya Maluku Utara dalam tren busana sehari-hari. Dari keresahan itulah lahir gagasan untuk membangun lini pakaian yang tidak semata mengejar nilai komersial, tetapi juga membawa misi pelestarian sejarah, penguatan jati diri, dan promosi pariwisata daerah.
Nama Halmaroots merupakan perpaduan kata Halmahera dan roots yang berarti akar. Pilihan nama tersebut menjadi penegasan tentang arah merek ini: terus bertumbuh mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan pijakan pada tanah, sejarah, dan kebudayaan yang melahirkannya.
Baca Juga:
Aisha Askar Aljaidi Raih Piala Pertama di Usia Satu Tahun, Dapat Penghargaan Gorgeous Baby 2026Semangat itu diterjemahkan ke dalam berbagai rancangan bernuansa Maluku Utara. Jejak tarian tradisional, simbol historis kesultanan, hingga pesona alam Kepulauan Halmahera diolah menjadi grafis yang modern dan elegan. Setiap produk dirancang agar mudah diterima anak muda, sekaligus tetap menyimpan cerita tentang daerah asalnya.
Gagasan tersebut berangkat dari keyakinan pendirinya: busana dapat bergerak melampaui fungsi penutup tubuh, lalu menjelma ruang perjumpaan bagi identitas daerah dengan selera generasi masa kini. Optimisme tersebut kemudian dirangkum sang pendiri dalam pernyataannya.
“Kami ingin membuktikan bahwa memakai atribut kebudayaan lokal itu keren. Melalui Halmaroots, setiap orang yang mengenakan pakaian ini tidak hanya tampil gaya, tetapi juga turut serta menjadi ‘duta’ yang mengenalkan sejarah dan kekayaan budaya Maluku Utara ke kancah nasional,” ujar Mujiono pemuda penyandang gelar S2 Rabu, 23 September 2026.
Pesan tersebut mulai menemukan jalannya. Dalam beberapa bulan sejak diluncurkan, produk Halmaroots tidak hanya diminati masyarakat Maluku Utara, termasuk mereka yang tinggal di perantauan, tetapi juga mulai mendapat tempat di kalangan konsumen Jakarta.
Baca Juga:
Lesti Kejora dan Rizky Billar Raih Penghargaan Gorgeous Mom dan Gorgeous DadJangkauan itu memperlihatkan terbukanya ruang bagi karya kreatif daerah untuk hadir di pasar yang lebih luas. Bagi Halmaroots, setiap pakaian menjadi cara sederhana untuk membawa nama Halmahera ke tengah percakapan tentang fashion, budaya, dan identitas Indonesia.
Ke depan, Halmaroots merencanakan kolaborasi dengan seniman tradisional di Maluku Utara serta pelaku industri kreatif nasional. Kerja bersama tersebut diarahkan untuk memperkaya lini produk, memperluas pengenalan budaya daerah, dan membuka dampak yang lebih besar bagi pertumbuhan komunitas kreatif di Maluku Utara.