KETIK, JAKARTA – Otomatisasi dan pertumbuhan industri yang belum memadai menjadi tantangan dalam penciptaan lapangan kerja di Indonesia. Di tengah bertambahnya jumlah lulusan baru, pasar kerja juga harus menampung penganggur lama, korban pemutusan hubungan kerja (PHK), serta masyarakat yang ingin mendapatkan pekerjaan baru.
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), R. Agus Sartono, menilai persoalan ketenagakerjaan tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan kemampuan industri menyerap tenaga kerja.
Setiap tahun, lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah memasuki pasar kerja. Namun, ketika pertumbuhan industri tidak mampu mengimbangi penambahan pencari kerja, persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat. Sebagian lulusan perguruan tinggi bahkan harus bersaing untuk memperoleh pekerjaan yang sebelumnya dapat diisi lulusan sekolah menengah.
Otomatisasi Mengubah Kebutuhan Tenaga Kerja
Baca Juga:
Kadin Kabupaten Bandung Kembali Satu, Bupati KDS Tantang Undang Investasi dan Lapangan KerjaAgus menjelaskan, perkembangan teknologi memungkinkan perusahaan meningkatkan efisiensi melalui penggunaan mesin dan sistem digital. Namun, perubahan tersebut juga dapat mengurangi kebutuhan tenaga manusia untuk sejumlah pekerjaan.
“Memang teknologi juga membuka ruang untuk perusahaan, tapi berapa banyak orang yang bergantikan dengan mesin,” ujar Agus dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Ketik.com, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Ia mencontohkan layanan pelanggan dan perbankan yang kini semakin mengandalkan mesin serta layanan daring. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan interaksi langsung dengan pegawai mulai beralih ke sistem otomatis. Akibatnya, kemajuan teknologi tidak selalu diikuti peningkatan kebutuhan tenaga kerja.
Menurut Agus, perubahan tersebut perlu menjadi perhatian karena pasar kerja harus menyediakan pekerjaan bagi masyarakat dengan latar belakang pendidikan dan keterampilan yang beragam. Ketika sejumlah pekerjaan beralih ke mesin, penciptaan pekerjaan baru perlu mampu mengimbangi perubahan kebutuhan industri.
Baca Juga:
Investasi Tembus Rp1.010 Triliun, Ekonom Bongkar Pekerjaan Rumah Ekonomi Indonesia
Industri Penyerap Tenaga Kerja Menghadapi Tekanan
Selain otomatisasi, perlambatan industrialisasi juga membatasi peluang penciptaan pekerjaan. Agus menilai Indonesia membutuhkan sektor industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja untuk menampung pertumbuhan angkatan kerja.
Namun, sejumlah sektor yang berpotensi menyerap banyak pekerja menghadapi tantangan. Ia mencontohkan industri tekstil yang harus bersaing dengan produk impor. Agus juga menyoroti industri rokok yang menghadapi kampanye pengendalian konsumsi, meskipun sektor tersebut turut menyediakan pekerjaan bagi banyak orang.
“Jadi industri-industri yang menyerap kerja yang cukup besar ini, tidak cukup tumbuh untuk menampung sumber daya manusia yang besar,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mendorong pertumbuhan industri yang mampu membuka kesempatan kerja secara luas. Jika pertumbuhan industri tertinggal dari penambahan jumlah pencari kerja, sebagian masyarakat berisiko kesulitan memperoleh pekerjaan dan penghasilan.
Persoalan ini juga berkaitan dengan arah investasi. Agus menilai besarnya modal yang masuk ke Indonesia belum tentu menghasilkan penyerapan tenaga kerja yang sebanding, terutama jika investasi tersebut lebih mengandalkan mesin dan teknologi daripada tenaga manusia.
Di sisi lain, penciptaan pekerjaan perlu berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi daerah dan penguatan pasar domestik. Perguruan tinggi juga perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis agar mereka siap menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja, termasuk perkembangan kecerdasan buatan (AI). (*)