Konten Pornografi Buatan AI, Pakar Ingatkan Bahaya Kekerasan Gender

Editor: Muhammad Faizin

17 Jan 2026 09:48

Thumbnail Konten Pornografi Buatan AI, Pakar Ingatkan Bahaya Kekerasan Gender
Ilustrasi melihat film porno. (Foto: Freepik)

KETIK, YOGYAKARTA – Masyarakat dunia dihebohkan oleh Grok, AI yang disebut-sebut bisa disalahgunakan untuk membuat konten pornografi artifisial. Akibatnya, sejumlah negara termasuk Indonesia, melarang penggunaan AI buatan Elon Musk tersebut. 

Fitur tersebut menuai kritik keras dan memicu pembatasan penggunaan di sejumlah negara serta pengawasan ketat di berbagai platform, termasuk di Indonesia. Polemik ini membuka kembali diskusi serius tentang bahaya kecerdasan buatan ketika digunakan tanpa kendali etis, terutama dalam produksi konten seksual palsu.

Grok bukan satu-satunya AI yang disebut-sebut bisa disalahgunakan untuk membuat konten pornografi artifisial. Di Indonesia, penyalahgunaan teknologi AI untuk memanipulasi foto dan video bermuatan seksual kian meresahkan. Teknologi ini memungkinkan pembuatan konten pornografi palsu secara instan, masif, dan sulit dilacak. Praktik tersebut tidak hanya melanggar privasi, tetapi juga memperparah objektifikasi tubuh, dengan perempuan dan anak sebagai korban utama.

Data tahun 2024 mencatat Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam kasus pornografi daring, dengan 1.450.403 laporan. Angka ini mencerminkan eskalasi serius eksploitasi seksual di ruang digital, termasuk yang melibatkan teknologi kecerdasan buatan.

Baca Juga:
Siapkan Generasi "Melek" AI, Polres Kendal Luncurkan Pilot Project AI Ready ASEAN

Akademisi pemerhati gender dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Ratna Noviani, menilai kecanggihan AI tidak bisa dipandang semata sebagai kemajuan teknologi. Menurutnya, teknologi ini telah menjadi alat baru untuk mereproduksi dan memperluas kekerasan berbasis gender secara sistemik.

“Ruang digital yang sering diglorifikasi sebagai ruang ‘kebebasan’ pada akhirnya menjadi medan baru bagi reproduksi kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan seksual yang menargetkan perempuan. Ini bukan hanya melanggengkan kekerasan lama, tetapi juga menjadi ruang bentuk-bentuk kekerasan baru, seperti kekerasan berbasis gender online yang bersifat masif, anonim, dan cenderung sulit dihentikan,” jelasnya seperti dikutip dari laman UGM, Sabtu, 17 Januari 2026. 

Ratna menjelaskan bahwa ruang digital bekerja sebagai pisau bermata dua bagi perempuan. Di satu sisi, media digital memberi ruang untuk tampil, bersuara, dan membangun visibilitas. Namun di sisi lain, visibilitas tersebut justru membuka celah bagi kekerasan seksual berbasis teknologi.

“Di sini terlihat kontradiksi mendasar, perempuan didorong untuk hadir dan visible di ruang digital, tetapi visibilitas itu justru membuat tubuh dan citra mereka menjadi objek untuk dikontrol, dieksploitasi, dan diserang,” tegasnya.

Baca Juga:
Pemerintah Atur Penggunaan AI di Dunia Pendidikan

Ia menilai maraknya praktik manipulasi visual berbasis AI sebagai kelanjutan dari budaya mengintip yang telah lama hidup dalam relasi kuasa berbasis gender. Menurut Ratna, perempuan sejak awal diposisikan dalam kerangka male gaze, sebagai objek tatapan dan konsumsi visual.

“Praktik morphing tidak mengubah logika male gaze ini, ia memperhalus dan melanggengkannya dalam bentuk visual digital yang semakin rapi, realistis, dan invasif,” ujarnya.

Ratna juga menekankan bahwa teknologi dan AI tidak pernah sepenuhnya netral. Sistem AI dibangun dari data, desain, dan imajinasi sosial yang sarat bias, termasuk bias maskulin. Dalam praktik sehari-hari, banyak asisten AI bahkan digenderisasi sebagai feminin, dengan karakter yang merepresentasikan kepatuhan dan pelayanan.

“Hal ini menunjukkan bahwa logika teknologi itu sendiri telah lama mereproduksi posisi perempuan sebagai objek. Oleh karena itu, kekerasan visual digital seperti morphing tidak sekadar evolusi dari voyeurisme, tetapi kelanjutan dari problem struktural yang sama,” jelasnya.

Untuk memutus rantai kekerasan ini, Ratna menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif di ruang digital. Ia mengingatkan bahwa tindakan sederhana seperti menyukai, mengomentari, atau membagikan konten manipulasi AI dapat menjadikan seseorang sebagai pelaku sekunder kekerasan seksual digital.

“Membangun kesadaran kolektif berarti menggeser posisi kita, dari penonton pasif menjadi bagian aktif dari solusi. Kita perlu bersama-sama menjadi pengguna teknologi digital dan AI yang kritis, yang sadar bahwa setiap klik, like, dan share punya konsekuensi etis dan politis,” pungkasnya. (*)

Baca Sebelumnya

Surabaya dan Bondowoso Diprakirakan Hujan Ringan Hari Ini, Cek Info Cuaca Jawa Timur

Baca Selanjutnya

Peringati Hari Jadi ke-348, Bupati Brebes Pimpin Ziarah ke Makam Tokoh dan Mantan Bupati

Tags:

AI Grok Elon Musk Konten Pornografi konten seksual Artificial Intellegence Kecerdasan Buatan penyalahgunaan AI

Berita lainnya oleh Muhammad Faizin

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

12 April 2026 11:40

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

12 April 2026 11:00

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

Mahasiswa UNEJ Ciptakan Insinerator Pengolah Sampah Jadi Listrik, Solusi Limbah dan Energi Terbarukan

12 April 2026 09:40

Mahasiswa UNEJ Ciptakan Insinerator Pengolah Sampah Jadi Listrik, Solusi Limbah dan Energi Terbarukan

Adik Bupati Tulungagung Ikut Terjaring OTT KPK, Lolos Status Tersangka

12 April 2026 08:21

Adik Bupati Tulungagung Ikut Terjaring OTT KPK, Lolos Status Tersangka

Sosok Ahmad Baharudin, Wabup yang Pernah Konflik Terbuka dengan Bupati Tulungagung

11 April 2026 07:30

Sosok Ahmad Baharudin, Wabup yang Pernah Konflik Terbuka dengan Bupati Tulungagung

BRIN Ungkap Objek Langit di Lampung-Banten Bekas Roket China, Pakar: Pengawasan Sampah Antariksa Harus Diperkuat

10 April 2026 06:40

BRIN Ungkap Objek Langit di Lampung-Banten Bekas Roket China, Pakar: Pengawasan Sampah Antariksa Harus Diperkuat

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar