KETIK, JEMBER – Video seorang anggota DPRD Jember yang diduga bermain game Clash of Clans (COC) sambil merokok saat rapat resmi menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Jember, Ahmad Halim, menegaskan pentingnya menjaga etika dan profesionalisme dalam forum resmi pemerintahan.

Video tersebut memperlihatkan anggota Komisi D DPRD Jember asal Fraksi Gerindra, Achmad Syahri As Sidiqi, diduga bermain game melalui telepon genggam saat rapat bersama Dinas Kesehatan dan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) berlangsung di Ruang Badan Musyawarah DPRD Jember.

“Ya tentu etika kan yang paling tinggi dari norma menurut saya. Etika ketika kita mengikuti rapat, ya harus menyesuaikan dengan kondisi itu ada tempatnya, ada tempatnya,” kata Halim, Selasa, 12 Mei 2026.

Ia menilai anggota legislatif sebagai figur publik harus mampu menjaga sikap dan menempatkan diri sesuai situasi, terlebih dalam agenda resmi pemerintahan.

Baca Juga:
Viral Main Game saat Rapat, Anggota DPRD Jember Diproses Badan Kehormatan

“Kalau dalam situasi resmi ya tentu harus mengikuti aturan resminya. Kemudian kalau aturan santai, ya monggo disilakan seperti itu,” ujarnya.

Halim juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas viralnya video tersebut. Menurutnya, DPRD Jember akan menjadikan kejadian itu sebagai bahan evaluasi internal agar profesionalisme lembaga tetap terjaga.

“Tentu kami menyampaikan permohonan maaf atas viralnya anggota kami di hari kemarin,” katanya.

Selain menjadi sorotan etika, kasus tersebut juga akan diproses secara kelembagaan melalui Badan Kehormatan (BK) DPRD Jember. Pihak DPRD memastikan mekanisme etik akan dijalankan sesuai aturan yang berlaku.

Baca Juga:
Pakar Unej Kritik Anggota DPRD Main Game Saat Rapat Sambil Merokok, Dinilai Langgar Etika Pejabat Publik

“Kami akan proses sesuai dengan aturan secara kelembagaan melalui Badan Kehormatan,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Jember ini. 

Tak hanya itu, Fraksi Gerindra juga disebut akan memanggil anggota dewan yang bersangkutan untuk dimintai klarifikasi serta pembinaan internal partai.

Halim menyebut faktor usia muda dan minimnya pengalaman politik juga menjadi bahan evaluasi. Menurutnya, anggota dewan tersebut masih berusia sekitar 25 tahun dan belum mengikuti pelatihan kader partai di Hambalang.

“Karena beliau adalah orang baru masuk Gerindra dan baru terpilih, belum pernah mengikuti pelatihan kader di Hambalang,” tegasnya. (*)