Morula IVF Ungkap 10–15 Persen Pasangan Usia Reproduksi Alami Masalah Kesuburan, Usia Jadi Faktor Penting

8 Agustus 2026 19:46 8 Agt 2026 19:46

Nur Fadli, Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Morula IVF Ungkap 10–15 Persen Pasangan Usia Reproduksi Alami Masalah Kesuburan, Usia Jadi Faktor Penting

Prof. Budi Santoso, Konsultan Fertilitas Morula IVF Indonesia saat diwawancarai awak media, Sabtu, 8 Agustus 2026. (Foto: Fadli/Ketik.com)

KETIK, JEMBER – Persoalan kesuburan masih menjadi tantangan bagi sebagian pasangan suami istri. Konsultan Fertilitas Morula IVF Indonesia, Prof. Budi Santoso, menyebut sekitar 10 hingga 15 persen pasangan pada usia reproduksi belum mendapatkan keturunan.

Ia menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber seminar “Menjemput Harapan, Menyambut Buah Hati” yang digelar Morula IVF Surabaya di Hotel Aston Jember, Sabtu, 8 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kunjungan Morula IVF Surabaya untuk memberikan edukasi mengenai layanan bayi tabung kepada masyarakat Jember.

Dalam seminar itu, Prof. Budi menjelaskan pasangan yang mengalami kendala memperoleh keturunan masih memiliki sejumlah pilihan penanganan. Dokter dapat mempertimbangkan pemberian obat untuk induksi ovulasi, mengatur waktu hubungan seksual, hingga menjalani prosedur inseminasi.

Namun, apabila berbagai upaya tersebut belum membuahkan hasil, pasangan dapat mempertimbangkan program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) sebagai salah satu pilihan penanganan.

"Kalau semua usaha-usaha itu masih belum berhasil, maka bayi tabung merupakan suatu final effort, usaha akhir untuk mendapatkan momongan," tutur mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini. 

 

Usia Perempuan Berpengaruh pada Kesuburan

Prof. Budi menekankan pentingnya pasangan memahami hubungan antara usia dan kesuburan. Menurut dia, pasangan sebaiknya tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami kesulitan mendapatkan keturunan karena faktor usia berkaitan erat dengan kondisi reproduksi perempuan.

"Karena masalah infertilitas ini sangat related sekali dengan usia," ujar Dekan FK Unusa Surabaya ini. 

Ia menjelaskan, cadangan sel telur atau ovarian reserve perempuan cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Penurunan tersebut juga dapat diikuti perubahan kualitas sel telur.

"Kualitas oositnya itu semakin turun. Kalau hamil, angka abortusnya meningkat dan angka kelainan kongenitalnya meningkat," ucapnya.

Menurut Prof. Budi, usia 35 tahun ke bawah menjadi periode yang relatif baik bagi perempuan untuk menjalani proses reproduksi.

"(Umur) 35 tahun itu adalah golden periode di bawahnya. Kalau di atasnya (umur) ini biasanya ovarian reservenya turun, kualitasnya turun," tegasnya.

Karena itu, ia menilai edukasi dan pemeriksaan sejak dini penting agar pasangan dapat mengetahui kondisi fertilitas mereka sebelum menghadapi keterlambatan reproduksi akibat faktor usia.

Morula IVF Surabaya sendiri telah bekerja sama dengan Rumah Sakit IHC Perkebunan Jember Klinik untuk memberikan edukasi dan mendekatkan akses layanan fertilitas kepada masyarakat Jember.

 

Teknologi Bantu Pasangan dengan Kualitas Sperma Rendah

Selain faktor usia perempuan, kualitas sperma juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan fertilitas. Direktur Scientific Morula IVF Indonesia, Prof. Arief Boediono, mengatakan perkembangan teknologi reproduksi berbantu kini memungkinkan dokter menangani kondisi kualitas sperma yang kurang optimal.

Ia mencontohkan kondisi ketika jumlah sperma berada di bawah standar normal. Teknologi yang tersedia memungkinkan proses pembuahan tetap diupayakan meskipun jumlah sperma sangat rendah.

"Kualitas sperma, ya. Kalau normal itu sekitar 15 juta per mili, ternyata banyak yang di bawah itu. Maka dengan teknologi ini memungkinkan, bahkan yang di bawah 5 juta pun. Kalau awalnya kita hanya mempertemukan biasa saja gitu, kita perlu sekitar 100 juta sperma, untuk satu sel telur," kata dia.

Menurut Prof. Arief, perkembangan teknologi juga memberikan peluang bagi pasangan dengan kualitas sel telur maupun sperma yang kurang baik. Proses pembuahan dapat dilakukan di luar tubuh hingga menghasilkan embrio yang dinilai memiliki kualitas baik.

"Kualitas sel telur, sperma yang kurang bagus itu dengan teknologi yang sekarang kita lakukan itu, sangat memungkinkan di kultur di luar tubuh. Kita dapatkan embrio yang cukup bagus atau bahkan sebelum ditransfer itu kita bisa lakukan biopsi," ujarnya.

Ia menilai teknologi yang digunakan Morula IVF Surabaya telah berkembang dan melalui berbagai pengujian. Menurutnya, layanan reproduksi berbantu di Indonesia juga mampu bersaing dengan fasilitas serupa di negara lain.

"Tidak perlu barangkali kalau kita bandingkan dengan negara tetangga, itu juga sudah tidak kalah, bahkan mungkin di beberapa hal lebih dari itu begitu," ujarnya.

 

Disarankan Konsultasi Setelah Setahun Menikah

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Arief mengingatkan pasangan suami istri agar tidak terlalu lama menunggu ketika kehamilan belum kunjung terjadi. Pemeriksaan dapat dilakukan untuk mengetahui faktor yang mungkin menyebabkan pasangan belum memperoleh keturunan.

Ia mengimbau pasangan yang telah menikah selama satu tahun dan aktif melakukan hubungan seksual tetapi belum mendapatkan tanda-tanda kehamilan untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau layanan fertilitas.

Seminar di Jember tersebut menghadirkan tiga narasumber dari Morula IVF Indonesia, yakni Prof. Budi Santoso sebagai Konsultan Fertilitas, Prof. Arief Boediono sebagai Direktur Scientific, serta dr. Achmad Rheza yang juga merupakan Konsultan Fertilitas Morula IVF Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut, Morula IVF Surabaya berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai masalah kesuburan sekaligus mengenalkan berbagai pilihan penanganan yang dapat dipertimbangkan pasangan sesuai kondisi medis masing-masing. (*)

Tombol Google News

Tags:

Morula IVF Bayi tabung Infertilitas program hamil Kesuburan Perempuan Kualitas Sperma Ivf Jember