KETIK, MALANG – Di tengah konflik geopolitik, ketegangan Amerika Serikat dan Iran semakin memanas hingga meramaikan kondisi global. Dalam isu perselisihan antar dua negara ini, akademisi UM, Dr. Akhirul Aminulloh selaku dosen Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang (UM) turut memberikan respons berdasarkan kajian komunikasi politik.
Perang antar Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung sekitar 4 bulan. Semakin hari, konflik ini semakin jauh dari kata damai. Ketegangan kembali mengguncang panggung global. Saat ini kedua negara tersebut tengah memasuki fase gencatan senjata. Meski demikian, situasi tersebut belum sepenuhnya menjamin berakhirnya konflik.
Kondisi ini justru menunjukkan bahwa perebutan pengaruh geopolitik dunia masih terus berlangsung dan berpotensi memunculkan krisis baru. Keadaan ini tak hanya menjadi sorotan dunia, namun para akademisi juga mulai memberikan tanggapan dan solusi untuk konflik yang berkepanjangan ini.
Akhirul Aminulloh, dosen Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang (UM) yang berfokus pada kajian komunikasi politik menilai konflik ini tak hanya sekadar kekuatan militer antar dua negara, namun dominasi politik, kepentingan strategis, hingga perebutan pengaruh negara-negara besar juga turut serta dalam ketegangan ini.
“Konflik seperti ini tidak hanya berbicara tentang perang dalam arti fisik, tetapi juga mengenai bagaimana negara mempertahankan pengaruh dan kepentingannya,” ujarnya.
Baca Juga:
Cegah Kecelakaan, KAI Upgrade 20 Perlintasan Kereta di Malang RayaAkademisi UM tersebut menyambungkan dalam perspektif geopolitik, fase gencatan senjata ini menunjukkan dua sisi pandangan, yakni peluang deskalasi dan jalan menuju perdamaian. Sementara di sisi lain, gencatan senjata juga dapat menjadi ruang konsolidasi strategi sebelum masing-masing negara dapat menentukan langkah politik dana keamanan.
Menurutnya, kemenangan konflik internasional tidak harus ditentukan oleh superioritas militer. Namun, pemerintahan yang stabil, dukungan publik, hingga kemampuan menjaga legitimasi politik juga menjadi faktor terpenting untuk menentukan posisi suatu negara di mata dunia.
Adanya konflik antar negara di era globalisasi dapat memicu efek domino terhadap negara lain, termasuk Indonesia. Sektor yang paling rentan mengalami perubahan drastis adalah ekonomi global, seperti distribusi energi hingga jalur perdagangan internasional.
“Ketika terjadi gangguan pada jalur distribusi energi atau perdagangan internasional, dampaknya tidak hanya dirasakan negara yang berkonflik, tetapi juga negara lain yang memiliki keterkaitan ekonomi,” ungkap dosen Program Studi S1 Ilmu Komunikasi UM tersebut.
Baca Juga:
Warga Kota Malang Bersiap! Dishub Sebut Angkot Bakal Masuk Kawasan Perumahan, Akses Makin MudahHal tersebut tentunya akan memberikan potensi menyebabkan kenaikan harga pada energi bumi, rantai pasok global akan terganggu, hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas geopolitik mempunyai hubungan langsung pada kesejahteraan masyarakat internasional.
Selain ekonomi negara yang terdampak, konflik berkepanjangan ini juga dapat mengubah keseimbangan politik global. Akhirul mengungkapkan bahwa semakin dinamis peta kekuatan dunia, khususnya ketika negara-negara besar, seperti Rusia dan Tiongkok yang memiliki kepentingan stategis ikut terlibat.
“Perubahan fokus dan prioritas negara-negara besar dapat memunculkan dinamika baru dalam tatanan global,” ungkapnya.
Dengan demikian, dosen Ilmu Komunikasi UM tersebut menilai jika jalur diplomasi tetap menjadi instrumen paling rasional untuk menekan eskalasi konflik. Menurutnya, ketika berbagai negara ikut terlibat dalam mediasi dan ruang dialog akan dapat membuka peluang penyelesaian yang lebih konstruktif dibandingkan dengan pendekatan konfrontatif.
“Semakin banyak pihak yang mendorong ruang dialog, maka semakin besar peluang untuk mencapai penyelesaian damai,” ujarnya.
Akhirul yang juga menjadi Kepala Komite Laboratorium Pancasila (Lapasila) UM juga menekankan konsistensi politik luar negeri aktif yang selama ini dipegang Indonesia menjadi sangat penting.
Di tengah memanasnya kondisi geopolitik dunia, Indonesia dirasa perlu mempertahankan posisi strategis sebagai negara yang mendorong perdamaian dunia tanpa masuk dan terjebak dalam kepentingan blok tertentu.
“Indonesia sejak awal memiliki tradisi untuk mendorong perdamaian dan menjaga posisi yang tidak terjebak pada kepentingan blok tertentu,” tuturnya.
Akhirul menilai tantangan Indonesia ke depan tidak lagi hanya mempertahankan prinsip tersebut, namun juga kapasitas diplomasi harus terus dikuatkan agar mampu mengambil peran lebih aktif dalam merespons berbagai isu global.
Konflik Amerika Serikat dan Iran yang berkepanjangan menjadi bukti bahwa stabilitas dunia saat ini semakin rapuh hingga ketegangan geopolitik tidak hanya berdampak lokal, melainkan ekonomi, keamanan, hingga hubungan antar negara juga turut terkena imbasnya.(*)