KETIK, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian serius terhadap masa depan olahraga nasional. Salah satu langkah yang kini disiapkan pemerintah adalah membangun sistem pembinaan atlet sejak usia dini, bahkan mulai umur 8 tahun.

Rencana tersebut terungkap usai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir bersama pelatih Tim Nasional Indonesia John Herdman bertemu Presiden Prabowo Subianto di kediaman pribadinya di Hambalang, Jawa Barat, Jumat, 19 Juni 2026.

Menurut Erick, Presiden menilai prestasi olahraga tidak bisa dibangun secara instan. Diperlukan proses pembinaan yang panjang, terstruktur, dan berkelanjutan sejak usia sekolah dasar agar Indonesia mampu bersaing di level dunia.

Karena itu, pemerintah tengah menyiapkan Akademi Olahraga Nasional yang akan menjaring dan membina calon atlet potensial mulai jenjang SD, SMP hingga SMA.

"Bapak Presiden mendorong adanya Akademi Olahraga yang dimulai dari SD, SMP hingga SMA. Jadi siapa yang akan menjadi atlet masa depan bisa mulai dibina sejak usia 8 sampai 10 tahun," kata Erick Thohir.

Baca Juga:
Usai Bertemu Prabowo, Menpora Erick Thohir Bawa Kabar Baik untuk Timnas Indonesia

Pembinaan sejak usia dini dinilai menjadi kunci keberhasilan negara-negara besar dalam mencetak atlet kelas dunia. Melalui sistem tersebut, bakat olahraga dapat teridentifikasi lebih awal sehingga proses pelatihan bisa dilakukan secara maksimal.

Presiden Prabowo ingin Indonesia memiliki fondasi pembinaan yang kuat untuk menghadapi berbagai ajang internasional seperti SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade.

Selama ini, salah satu tantangan olahraga nasional adalah proses pembinaan yang kerap dimulai ketika atlet sudah memasuki usia remaja atau dewasa. Akibatnya, waktu pengembangan kemampuan menjadi lebih terbatas dibanding negara lain yang sudah melakukan pembinaan sejak anak-anak.

Dengan Akademi Olahraga Nasional, pemerintah berharap mampu mencetak generasi atlet baru yang lebih siap bersaing di tingkat global.

Baca Juga:
Ini Penjelasan Polda Metro Jaya Soal Penangkapan Roy Suryo dan dr Tifa

Selain pembinaan usia dini, Presiden Prabowo juga mendorong perubahan pola pembiayaan pemusatan latihan nasional (pelatnas).

Menurut Erick, Kepala Negara sepakat bahwa program pelatnas tidak bisa lagi bergantung pada anggaran tahunan karena persiapan atlet membutuhkan waktu panjang.

"Pelatnas tidak mungkin dianggarkan per tahun. Harus multi years. Presiden sepakat karena ini menyangkut persiapan atlet menuju Olimpiade, SEA Games, dan Asian Games," ujarnya.

Skema multiyears tersebut diharapkan membuat pembinaan atlet berjalan lebih stabil tanpa terganggu pergantian program atau keterbatasan anggaran tahunan.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo juga memberikan perhatian khusus terhadap olahraga disabilitas.

Erick mengungkapkan pemerintah akan memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk terlibat dalam pembinaan olahraga, salah satunya melalui program sertifikasi kepelatihan.

Data pemerintah menunjukkan terdapat sekitar 23,9 juta hingga 25,9 juta penyandang disabilitas di Indonesia yang aktif berolahraga atau sekitar 11 persen dari populasi.

"Presiden sangat peduli dengan olahraga disabilitas. Salah satu program yang kami sampaikan adalah sertifikasi kepelatihan bagi penyandang disabilitas," kata Erick.

Tak hanya fokus pada prestasi, pemerintah juga mulai memikirkan kesejahteraan atlet setelah pensiun dari dunia olahraga.

Erick menyebut Presiden turut menanyakan perkembangan kajian dana pensiun atlet yang saat ini masih terus disusun oleh pemerintah.

Selain itu, pemerintah juga berkomitmen memberikan penghargaan lebih besar kepada atlet yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Saat ini bonus bagi atlet berprestasi telah mencapai Rp1 miliar dan berpotensi meningkat pada ajang Asian Games maupun Olimpiade mendatang.(*)