KETIK, MALANG – Rektor Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., resmi menyandang gelar profesor dalam bidang keilmuan teknologi setelah dinilai berhasil mengembangkan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) pada pembelajaran fisika.
Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting bagi dunia pendidikan tinggi, khususnya dalam mendorong inovasi pembelajaran berbasis teknologi yang mampu meningkatkan efektivitas, kreativitas, dan pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep fisika secara lebih interaktif dan adaptif di era digital.
Di era digital ini, Prof. Sudi Dul Aji ingin memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai media belajar fisika yang menciptakan pembelajaran menyenangkan dan tidak terasa sulit. Ia mengajak seluruh pengajar, baik dosen maupun guru, untuk dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dalam memahami konsep fisika maupun bidang lainnya.
“Kami nanti akan memberikan navigasi Artificial Intelligence untuk pembelajaran fisika. Jadi kita ingin memberikan arah bahwa AI itu sebenarnya teknologi yang berdampak luas, juga ada di bidang pembelajaran. Jadi bagaimana memanfaatkan AI di dalam pembelajaran fisika,” ungkap Prof. Sudi Dul Aji.
Pada penelitiannya, Rektor Unikama tersebut memang berfokus pada bidang teknologi yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Ia juga menyoroti kesiapan guru dalam mengajar, apakah sudah memanfaatkan AI atau belum.
Baca Juga:
Heroik Jaga Keamanan Lingkungan, Babinsa Dampingi Penyerahan Santunan Duka Untuk Keluarga Satpam Korban PenusukanDalam hal ini, ia menyampaikan bahwa AI merupakan alat pembelajaran digital yang sedang berkembang dan dapat membantu proses pembelajaran. Menurutnya, sebagai seorang pengajar harus mampu mengikuti perkembangan zaman dalam proses belajar mengajar.
Oleh karena itu, Prof. Sudi Dul Aji ingin mensosialisasikan penggunaan media digital, khususnya pemanfaatan AI, kepada para pengajar di lingkungan Unikama. Ia menemukan bahwa masih banyak guru atau calon guru (PPG) yang perlu ditingkatkan kemampuannya.
“Kami melihat, ternyata juga di dalam pemanfaatan AI ini tidak hanya bergantung dari aplikasinya, tetapi dari kesiapan gurunya. Kami meneliti guru-guru sekitar 300-an guru di seluruh Indonesia. Kami sebarkan angket bagaimana sebenarnya proses pembelajaran di kelas,” tutur Prof. Sudi Dul Aji.
“Apakah sudah memanfaatkan atau belum? Apakah sudah siap atau belum dengan teknologi yang baru? Nah, itu ternyata juga banyak yang perlu kita tingkatkan dalam kemampuan guru-gurunya itu,” imbuhnya.
Baca Juga:
Pemkot Malang Siapkan Pemekaran OPD, Dinas Damkar Jadi PrioritasDalam meraih gelar profesor, ia juga melewati tantangan, yakni harus menunggu jurnal ilmiah yang dikerjakannya terindeks Scopus. Ia sempat gagal pada tahun 2024 karena belum sesuai standar, dan pada tahun 2025, Prof. Sudi Dul Aji mengajukan dua jurnal ilmiah yang akhirnya keduanya lolos.
Selain itu, ia juga melakukan penelitian lain yang berfokus pada pengembangan teknologi untuk media pembelajaran fisika yang dapat diajarkan kepada siswa SD, SMP, hingga SMA.
“Semua dari SD, SMP, hingga SMA, saya kira ya, semua, tetapi tingkatannya memang agak berbeda. Katakanlah misalnya di SD, itu sama. Dia butuh pemahaman yang bersifat real, nyata. Nah itu barangkali dengan cara ini akan lebih mudah, tapi kalau di SMA, kenapa menggunakan Augmented Reality (AR) itu dilakukan? Karena memang harus diperhatikan,” jelas sang profesor.
Prof. Sudi Dul Aji menganggap gelar profesor tidak dapat disandang jika tidak ada implementasi di lapangan. Menurutnya, gelar tersebut menjadi pemicu untuk terus mengembangkan keilmuan.
Selain itu, ia juga menyatakan bahwa profesor bukan hanya sekadar gelar, tetapi harus memiliki peran nyata di dunia pendidikan hingga berdampak pada masyarakat.
“Saya kira gelar profesor tidak hanya sekadar gelarnya saja, tapi bagaimana kemudian implementasi setelah mendapatkan itu, tidak sekadar punya, tetapi kemudian bagaimana perannya di dunia pendidikan yang berdampak,” ujarnya.
Prof. Sudi Dul Aji juga menyampaikan bahwa fisika menjadi mudah ketika sudah dipahami maknanya tanpa harus langsung menghitung. Ia menuturkan bahwa fisika ada dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya selalu dalam proses mengajar itu fisika itu mudah, fisika itu ada di sekitar kita, fisika bisa kita pelajari. Persoalan menghitung rumus itu gampang, yang penting kita bisa paham. Untuk bisa memahami itu tidak perlu harus berhitung dulu, tetapi memahami maknanya dulu, baru nanti rumus itu mengikut,” ucap Prof. Sudi Dul Aji.
“Bahwa sejak kita bangun tidur sampai kita tidur lagi, semua itu adalah fisika, tidak ada yang tidak fisika. Ada udara di sekitar kita, ini adalah fisika juga. Ada partikel-partikel kecil, ada teori kinetik gas ideal itu seperti apa,” tambahnya.
Menurutnya, pembelajaran fisika bisa lebih mudah ketika divisualisasikan. Persoalan-persoalan fisika dalam kehidupan akan lebih mudah dipahami ketika ada gambaran visual, dan AI dapat dimanfaatkan untuk mengaplikasikan materi fisika tanpa hanya bergantung pada rumus.
“Jadi intinya di mana belajarnya jadi menyenangkan, ada di sekitar kita. Jangan yang terlalu muluk-muluk. Sesuatu yang abstrak, kita visualkan, supaya lebih mudah,” ucap Prof. Sudi Dul Aji. (*)