Kasus Keracunan MBG Masih Terus Terjadi, Pakar: Hasil Uji Lab Seharusnya Diumumkan Secara Terbuka

Editor: Muhammad Faizin

24 Jan 2026 12:05

Thumbnail Kasus Keracunan MBG Masih Terus Terjadi, Pakar: Hasil Uji Lab Seharusnya Diumumkan Secara Terbuka
Foto menu paket MBG. (Foto: Istimewa/Ketik.com)

KETIK, SLEMAN – Serangkaian kasus dugaan keracunan makanan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menyita perhatian publik. Sejumlah daerah melaporkan keluhan serupa, termasuk kasus terbaru di Grobogan, Jawa Tengah, yang melibatkan 803 siswa. Para siswa tersebut mengalami gejala seperti pusing, mual, muntah, hingga diare setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.

Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) Universitas Gadjah Mada, Prof. Sri Raharjo, menjelaskan bahwa keracunan makanan umumnya dipicu oleh kontaminasi bakteri yang berasal dari bahan pangan dan proses pengolahan yang tidak sesuai standar.

“Keracunan bisa muncul akibat adanya bakteri yang terdapat di bahan makanan, yang kemudian tidak dikelola sesuai prosedur,” ujarnya, Sabtu, 24 Januari 2026. 

Ia menuturkan bahwa dugaan sementara memang mengarah pada konsumsi abon dan telur, namun penyebab pastinya belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar. Menurutnya, bahan pangan hewani memiliki risiko lebih tinggi memicu keracunan jika proses pengolahannya keliru, karena bakteri secara alami terdapat di saluran pencernaan hewan.

Baca Juga:
SPPG Lajolor Diresmikan, Layani 800 Penerima Manfaat di Singgahan Tuban

Sri Raharjo menekankan pentingnya penerapan standar pengolahan pangan yang ketat untuk mencegah kejadian serupa. Ia menyebut kebersihan fasilitas produksi serta ketepatan proses pengolahan menjadi kunci utama.

“Pengolahan makanan paling aman dilakukan dengan suhu panas yang merata,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan agar jumlah makanan yang diproduksi benar-benar disesuaikan dengan kapasitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Produksi yang melebihi kemampuan fasilitas dan tenaga kerja berisiko menurunkan kualitas dan keamanan pangan. Dalam hal ini, SPPG bersama mitra pelaksana memegang tanggung jawab utama memastikan makanan tetap memenuhi standar keamanan.

Ia juga menilai pengawasan internal dan pencatatan distribusi pangan harus dilakukan secara konsisten. Menurutnya, sistem pencatatan yang rapi memungkinkan setiap SPPG memiliki rekam jejak kondisi pangan, sehingga potensi masalah dapat dilacak lebih cepat.

Baca Juga:
WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

“Sistem pengawasan dan pencatatan memang harus benar-benar berjalan, supaya setiap SPPG yang beroperasi memiliki rekam jejak kondisi pangan yang layak ataupun tidak layak untuk dikonsumsi,” ujarnya.

Sri Raharjo menyoroti pola pemberitaan kasus keracunan MBG yang selama ini cenderung berhenti pada tahap pengambilan sampel dan pengujian laboratorium. Ia menilai hasil uji tersebut sering tidak disampaikan secara terbuka dan tuntas kepada publik.

Ia mendorong agar hasil pemeriksaan laboratorium diumumkan secara jelas, sehingga SPPG dan pemangku kepentingan mengetahui penyebab pasti keracunan serta langkah pencegahan yang harus dilakukan ke depan.

“Media selalu memberitakan jika sampel pangan ‘sedang diuji,’ namun belum pernah diberitahukan hasilnya kepada publik. Hal tersebut perlu ditindaklanjuti lagi, supaya SPPG bisa mengetahui penyebab dan tindakan pencegahannya,” pungkasnya. (*)

Baca Sebelumnya

Bupati Bandung Targetkan 5.000 Rutilahu Direhab Tahun 2026

Baca Selanjutnya

Mutasi Polri Januari 2026, Kapolda Sumsel Resmi Berganti

Tags:

SPPG MBG Program prioritas presiden UGM Pakar pangan Uji Lab

Berita lainnya oleh Muhammad Faizin

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

12 April 2026 11:40

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

12 April 2026 11:00

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

Mahasiswa UNEJ Ciptakan Insinerator Pengolah Sampah Jadi Listrik, Solusi Limbah dan Energi Terbarukan

12 April 2026 09:40

Mahasiswa UNEJ Ciptakan Insinerator Pengolah Sampah Jadi Listrik, Solusi Limbah dan Energi Terbarukan

Adik Bupati Tulungagung Ikut Terjaring OTT KPK, Lolos Status Tersangka

12 April 2026 08:21

Adik Bupati Tulungagung Ikut Terjaring OTT KPK, Lolos Status Tersangka

Sosok Ahmad Baharudin, Wabup yang Pernah Konflik Terbuka dengan Bupati Tulungagung

11 April 2026 07:30

Sosok Ahmad Baharudin, Wabup yang Pernah Konflik Terbuka dengan Bupati Tulungagung

BRIN Ungkap Objek Langit di Lampung-Banten Bekas Roket China, Pakar: Pengawasan Sampah Antariksa Harus Diperkuat

10 April 2026 06:40

BRIN Ungkap Objek Langit di Lampung-Banten Bekas Roket China, Pakar: Pengawasan Sampah Antariksa Harus Diperkuat

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar