KETIK, MALANG – Kasus bunuh diri di Kota Malang yang kian meningkat menjadi sorotan khusus bagi para akademisi. Salah satunya Dosen Psikologi Universitas Negeri Malang (UM), Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi., menekankan bahwa pencegahan paling ampuh dalam tindakan bunuh diri adalah perhatian dari orang-orang terdekat.
Kawasan Jembatan Cangar beberapa waktu terakhir menjadi alarm serius bagi masyarakat mengenai perhatian terhadap kesehatan mental.
Hal ini menunjukkan bahwa isu bunuh diri bukan hanya permasalahan personal tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga, lingkungan, lembaga pendidikan, pemerintah, hingga media massa untuk bersama-sama mencegahnya.
“Lokasi seperti Jembatan Cangar yang relatif sepi dan jauh dari perhatian orang lain dapat memberikan persepsi aman bagi individu yang sedang berada dalam kondisi psikologis rentan. Karena itu, faktor lingkungan juga perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan,” ujarnya.
Menurutnya, perilaku manusia tercipta dari faktor lingkungan. Dalam perspektif psikologi lingkungan, lokasi yang minim pengawasan, jauh dari keramaian, dan memberikan kesan pribadi dapat mendorong terjadinya tindakan bunuh diri pada individu yang sedang mengalami krisis psikologis.
Baca Juga:
Disdikbud Kota Malang Pastikan Zonasi SPMB Akurat 100 PersenSehingga, langkah preventif yang haris diprioritaskan adalah penguatan sistem keamanan dan pengawasan pada titik-titik yang dianggap rawan menjadi tempat terjadinya bunuh diri.
Kajian psikologi juga menunjukkan adanya perbedaan kecenderungan perilaku bunuh diri berdasarkan gender. Dari beberapa penelitian, perempuan lebih sering melakukan percobaan bunuh diri ataupun tindakan menyakiti diri sendiri atau self-harm.
Sebaliknya, angka kematian disebabkan bunuh diri lebih banyak ditemukan pada laki-laki karena cenderung menggunakan cara atau metode yang lebih ekstrem serta berisiko fatal.
Dalam perbedaan ini, Shanti menjelaskan jika self-harm dengan bunuh diri adalah tindakan yang berbeda dan keduanya memiliki motif psikologis yang berbeda.
Baca Juga:
Pojok Curhat Hadir di MCC Malang, Indonesia Sehat Jiwa Siapkan Ruang Aman dan Hotline KonselingSelf-harm umumnya adalah bentuk pelampiasan emosi atau ekspresi penderitaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sedangkan bunuh diri berkaitan dengan keinginan untuk mengakhiri hidup.
Menurut Shanti, pemahaman terkait perbedaan ini sangat penting untuk diketahui agar proses penanganan dan pendampingan dapat dilakukan secara lebih efektif.
Di sisi lain, paparan informasi melalui media massa juga memiliki pengaruh besar terhadap pandangan masyarakat mengenai tindakan bunuh diri. Selain itu, pemberitaan yang sensasional dan terlalu rinci berpotensi memunculkan efek imitasi pada individu yang rentan.
Menurut Shinta, media perlu mengedepankan jurnalisme yang berempati dengan memperbanyak edukatif, layanan bantuan, serta langkah-langkah pencegahan.
Tak hanya itu, kesehatan mental di Indonesia juga masih dihadapkan pada tingginya stigma sosial. Tak sedikit lingkungan yang menilai negatif pada individu yang memiliki tekanan psikologis.
Mereka kerap dianggap kurang bersyukur, kurang beriman, atau sekadar mencari perhatian sehingga enggan mencari bantuan profesional.
“Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kesehatan mental masih perlu ditingkatkan. Banyak individu yang mengalami tekanan psikologis justru mendapat stigma, misalnya dianggap kurang bersyukur atau kurang beriman, sehingga mereka enggan mencari bantuan,” ungkap Shanti.
Shanti juga mengatakan jika tanda-tanda kerentanan psikologis dapat dikenali sejak dini, mulai dari perubahan perilaku secara drastis, menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan harapan, perubahan suasana hati yang ekstrem, hingga munculnya kebiasaan yang tidak biasa. Hal ini perlu diketahui sebagai sinyal bahwa seseorang membutuhkan perhatian dan dukungan.
Lebih jauh lagi, edukasi terkait kesehatan mental memberikan manfaat besar dalam mencegah risiko bunuh diri. Pribadi dnegan literasi kesehatan mental yang baik akan lebih mudah dalam mengenali gejala awal gangguan psikologis, memberi dukungan emosional, serta mendorong agar bisa mendapatkan bantuan profesional sebelum kondisi mereka memburuk.
Dalam hal ini, upaya pencegahan bunuh diri harus dilakukan secara komperhensif melalui pendekatan kesehatan, pendidikan, dan sosial.
Pemerintah daerah juga harus ikut serta dalam pencegahan tindakan bunuh diri, dapat dengan mengoptimalkan layanan darurat seperti 112 dan 119. Sementara institusi pendidikan terus memperluas akses konseling yang mudah dijangkau oleh masyarakat.
Sebagai bentuk upaya pelayanan kampus, mahasiswa UM telah mendapatkan akses layanan pendampingan melalui Badan Pelayanan Konseling, Konsultasi, dan pengembangan karakter (BPK3), Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK), serta Tim Kesehatan Mental.
Beberapa layanan ini tentunya memberikan manfaat nyata dalam memperluas akses dukungan psikologis, meningkatkan kesadaran kesehatan mental, serta mencegah munculnya masalah psikologis yang lebih serius di kalangan mahasiswa.
Mesti begitu, hal yang paling penting dalam mencegah tindak bunuh diri adalah dukungan keluarga, sahabat, dan teman sebaya yang selalu menjadi tempat bercerita dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka memiliki peluang besar dalam mengenali perubahan perilaku seseorang dan bisa memberikan pertolongan lebih awal.
“Walaupun sudah banyak layanan dan satuan tugas yang tersedia, orang yang paling dekat dengan individu rentan tetaplah teman dan lingkungan sekitarnya. Cobalah lebih peduli, karena kepedulianmu bisa menyelamatkan nyawa seseorang,” tegasnya.
Fenomena bunuh diri yang terjadi di kawasan Jembatan Cangar menjadi pengingat bahwa kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama.
Kepedulian sosial, literasi kesehatan mental, serta akses layanan psikologis menjadi kunci utama dalam mencegah hilangnya nyawa akibat bunuh diri.
Upaya tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 tentang Kehidupan Sehat dan Kesejahteraan (Good Health and Well-being).
Dengan lingkungan yang lebih inklusif, suportif, dan peduli terhadap kesehatan mental, masyarakat sapat menciptakan kualitas hidup yang lebih baik sekaligus menekan angka bunuh diri secara berkelanjutan.(*)