KETIK, MALANG – UPT Pengembangan Karier Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Evaluasi Capaian Tracer Study dalam Menguatkan Akreditasi Unggul” pada Jumat, 18 September 2026 di Same Hotel Malang.

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bahwa trace study bukan hanya sekadar sebagai pekerjaan administratif kebutuhan akademik, tetapi harus menjadi pijakan penting bagi perguruan tinggi untuk mengevaluasi kurikulum dan memastikan lulusan dapat tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja. 

FGD tersebut dibuka Plt. Rektor UIN KHAS Jember Prof. Sahiron, didampingi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr. Khoirul Faizin, M.Ag., Kepala Biro AUPK, serta Kepala UPT Pengembangan Karier Dr. Rusydi Baya’gub, S.Ag., M.Pd.I.

Sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas perwakilan wakil dekan bidang kemahasiswaan, ketua program studi, perwakilan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), dan PTIPD.

Forum diskusi ini secara khusus menghadirkan Kepala Pusat Pengembangan Karier UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Ahmad Ghozi, M.A., sebagai narasumber. Ia berbagi pengalaman UIN Maliki Malang dalam mengelola trace study.

Baca Juga:
SMPN 7 Malang Terbakar, Kepsek Pastikan Tak Ganggu Operasional Sekolah

Menurutnya, pusat karier memiliki tiga tugas besar, yakni pengembangan karier, kewirausahaan, dan tracer study. Dari ketiganya, tracer study menjadi salah satu tantangan yang dihadapi hampir seluruh perguruan tinggi.

“Hasil tracer study bukan sekadar angka untuk laporan. Data tersebut sangat penting sebagai bahan evaluasi dan perbaikan kurikulum,” ujar Ghozi.

Namun, keberhasilan tracer study tidak cukup hanya dengan mengandalkan kerja teknis tim pusat karier. Dukungan pimpinan universitas, terutama rektor turut menjadi faktor penting. Kebijakan, koordinasi lintas unit, hingga keterlibatan fakultas dan program studi membutuhkan dukungan kelembagaan dari level pimpinan tertinggi.

“Kalau tidak ada dukungan pimpinan, keberhasilan tracer study akan sulit dicapai. Tracer study harus menjadi agenda institusi, bukan hanya tugas unit pengembangan karier,” jelasnya.

Baca Juga:
Momentum 1 Abad Gontor, Rektor UIN Malang Prof. Ilfi Bertemu Wakil Grand Syekh Al-Azhar, Jajaki Penguatan Kolaborasi

Ia menyebut capaian tracer study membutuhkan kolaborasi antara pusat karier, fakultas, program studi, unit teknologi informasi, serta seluruh sivitas akademika. Komunikasi dengan alumni juga perlu dibangun secara berkelanjutan agar tingkat respons semakin baik.

Bagi Ghozi, ketika data alumni dikelola secara serius dan mendapat dukungan penuh pimpinan, tracer study dapat bergerak dari sekadar instrumen akreditasi menjadi instrumen pengambilan kebijakan dan peningkatan mutu perguruan tinggi.(*)