Isu Kesehatan Mental Bukan Hal Tabu

Editor: Mustopa

5 Mar 2026 16:28

Thumbnail Isu Kesehatan Mental Bukan Hal Tabu
Oleh: Maria Terry Ana*

Apa itu Kesehatan Mental? Menurut WHO (World Health Organization) kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan mental ýang memungkinan seseorang untuk mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuan mereka, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi terhadap masyarakat.

Dewasa ini isu-isu masalah kesehatan mental marak kita dengar, mulai dari ‘anxiety’, bipolar, ADHD dan lain sebagainya. Namun, apa yang terjadi di Indonesia? Menurut survei dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, pada tahun 2021 sebanyak 28% remaja Indonesia usia 15-19 tahun menunjukkan gejala-gejala depresif. 

Bukan hanya itu, menurut survei I-NAMHS tadi, Indonesia menunjukkan kondisi yang memprihatinkan, yaitu 1 dari 3 remaja (15,5 juta) memiliki gangguan kesehatan mental dan 1 dari 20 (5,5 %) mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Sedang hanya 2,6 % remaja yang mencari bantuan profesional. 

Mari kita kilas balik dengan beberapa kasus yang terjadi di Indonesia baru-baru ini. Misalnya siswa SD yang bunuh diri di NTT diduga karena tidak mampu membeli buku. Ada juga siswi di Demak yang bunuh diri karena kekerasan verbal yang dialaminya.

Baca Juga:
Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Sementara itu siswa SD di Banyuwangi yang nekat mengakhiri hidupnya karena mengalami perundungan di lingkungan sekolah. Di Denpasar ada pemuda yang loncat dari gedung karena sering di-bully dan kesepian. 

Tentunya masih banyak kejadian yang bisa jadi tak diberitakan oleh media. Tentu saja kejadian-kejadian itu membuat kita miris. Dan ternyata, sebagaimana diakui oleh KPAI, kasus bunuh diri anak/remaja di Indonesia adalah kasus tertinggi di Asia Tenggara. 

Isu-isu kesehatan mental tentunya bukan hanya masalah yang sederhana misal, kemiskinan semata atau karena ‘baper’. Kasus-kasus bunuh diri cenderung dilatarbelakangi hal-hal kompleks meliputi sistem masyarakat itu sendiri. Tekanan sosial, ekonomi, pengaruh pendidikan dan teknologi, bahkan bisa saja pengaruh arah kebijakan pemerintah. 

Kebijakan pemerintah yang menyengsarakan, pidato-pidato pejabat yang terdengar tidak masuk akal, bahkan kata-katanya menyakitkan, kurang mendidik dan penuh ancaman bagi orang-orang yang kritis. Apatisme terhadap negara karena para pemimpin dan pejabatnya tidak bisa diharapkan dan seakan tak ada jalan juga bisa memicu pikiran depresi. 

Baca Juga:
Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Bagi mereka yang tertekan secara ekonomi, tapi memandang ke arah kebijakan negara yang seakan masih "ruwet", kadang juga bisa menambah beban pikiran. Pandangan bahwa tak ada harapan bagi kebaikan hidup, harapan baik dari lingkungan terdekat maupun dari pihak negara, adalah dasar bagi apatisme sosial yang menjadi latar belakang maraknya penyakit mental.

Perlunya Keterbukaan

Lantas bagaimana pandangan masyarakat sendiri tentang isu-isu kesehatan mental? Meski tren isu ini mengatakan kesadaran masyarakat mulai meningkat dari tahun ke tahun (dikutip dari Stigma toward people with mental health problems in Indonesia Journal), namun masih banyak juga masyarakat yang menganggap bahwa orang-orang yang mengalami masalah kesehatan adalah aib. 

Bahkan masih banyak juga remaja atau bahkan orang dewasa yang sengaja “menyembunyikan” masalah kesehatannya hanya karena takut dianggap “gila”. Stigma-stigma negatif inilah membuat penderita yang sebenarnya butuh pertolongan profesional semakin menutup diri. Takut disalahkan, takut dianggap lemah, takut dianggap kurang beriman, takut tidak diterima oleh lingkungan. 

Padahal tidak hanya skizofrenia saja, ada beberapa isu kesehatan mental seperti kecemasan yang berlebih atau sekedar depresi ringan (dismitik). 

Perlunya sosialisasi bersama agar pemahaman di lingkungan masyarakat tentang isu kesehatan mental semakin meningkat serta mencegah penilaian satu pihak yang berbau “nasehat religius yang dipaksakan”. 

Dengan demikian tidak banyak jiwa-jiwa yang terkungkung atau malu menceritakan saat ada sesuatu dalam dirinya yang salah. Dukungan lingkungan bagi penderita mental harus kondusif. Agar tidak menyebabkan masalah-masalah krusial yang menyebabkan manusia-manusia ini menyerah akan dirinya sendiri. 

Jika, ada yang mengalami ini, sebaiknya tidak usah takut. Sebaiknya segera meminta bantuan profesional. Jika teman/keluarga ada yang mengalami sakit mental, tidak tepat jika melabelinya. Justru mereka seharusnya dibantu untuk membuka diri dan diberi penguatan—tidak malah dicap dan di-bully, tidak dijadikan bahan pergunjingan.

Semua orang bisa saja terkena masalah kesehatan mental, di arus dunia yang serba cepat ini, berita-berita negatif yang setiap hari kita lihat di televisi dan media sosial, kondisi lingkungan pekerjaan, kondisi keluarga, kondisi keuangan, dan lainnya mampu menjadi pemicu. 

Bukan berarti mereka adalah orang yang lemah, bukan juga karena kurang Iman, Masalah kesehatan mental bukanlah hal yang tabu untuk dibicarakan. 

Masalah kesehatan mental tidak bisa diremehkan dan tidak bisa diabaikan meski sekecil apapun gejala dan pemicunya. Bergandengan tangan, saling membuka diri, serta tidak berpikiran sempit itu perlu. Mari menjadi masyarakat yang melek menanggapi isu-isu kesehatan mental!

*) Maria Tery Ana merupakan Ketua Jaringan Muda Keranjingan Ilmu dan Filsafat Trenggalek

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

Masjid Cheng Hoo Salurkan Zakat, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Minta Disalurkan Tepat Sasaran

Baca Selanjutnya

PAC Ansor Lenteng Gelar Ramadan Expo, Ada Beragam Lomba hingga Bazar

Tags:

opini kesehatan mental Maria Terry Ana

Berita lainnya oleh Mustopa

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

13 April 2026 21:26

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

11 April 2026 13:38

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

10 April 2026 22:10

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

10 April 2026 18:49

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

8 April 2026 00:00

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

7 April 2026 08:00

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar