Ikuti 40 Grup Baru, Khofifah Kaget Bahas "Seolah-olah" Merah Putih dan NKRI! Ini Langkah Antisipatif Gubernur

Editor: Fiqih Arfani

10 Jan 2026 14:10

Thumbnail Ikuti 40 Grup Baru, Khofifah Kaget Bahas "Seolah-olah" Merah Putih  dan NKRI! Ini Langkah Antisipatif Gubernur
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di sela menyampaikan sambutan sekaligus arahan di hadapan para pengurus Kwarda Pramuka Jatim, termasuk upaya pencegahan terpaparnya anak muda dalam ekstremisme di Gedung BPSDM Provinsi di Surabaya, Kamis, 8 Januari 2026. (Foto: Biro Adpim Setdaprov Jatim)

KETIK, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa terkejut saat mengikuti pembicaraan di sekitar 40 grup baru diikutinya, bahwa terdapat anak-anak muda yang arahnya kurang memiliki jiwa nasionalisme.

“Di 40 grup yang baru saya ikuti itu, saya agak kaget. Sebab ada secara smbolik bahwa mereka Merah Putih dan NKRI harga mati, tapi di situ seolah terbangun bagian strategi tersendiri,” ujarnya di Surabaya, Sabtu, 10 Januari 2026.

Menurut dia, dalam pembahasan di grup tersebut penguatan terhadap NKRI dan Merah Putih sekadar seolah-olah saja. Pihaknya sudah berencana melakukan diskusi khusus menangani hal ini.

Orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut juga meminta Dinas Kepemudaan dan Olahraga untuk punya peran penting dan tidak mengentengkan terhadap jaringan “kekiri-kirian” tersebut.

Baca Juga:
Gubernur Khofifah Resmikan Sarana Air Bersih di Bromo, Dukung Wisata Berkelanjutan dan Kenyamanan Pengunjung

“Seminggu kemarin ini saya baru dapat jaringan tentang mereka. Ini harus segera dicegah dan ditangani agar anak-anak muda, khususnya di Jatm, tidak terpapar,” katanya.

Sementara itu, di tingkat pusat, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri merilis temuan adanya 70 anak teridentifikasi terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui konten digital berkedok True Crime Community (TCC).

Komunitas daring tersebut diketahui menyebarkan paham ekstrem, seperti Neo-Nazi dan supremasi kulit putih, ideologi yang berakar pada sejarah panjang kekerasan rasial dan diskriminasi sistemik.

Dari jumlah anak yang teridentifikasi, Jawa Timur menempati urutan ketiga dengan 11 anak terpapar, setelah DKI Jakarta sebanyak 15 anak dan Jawa Barat 12 anak.

Baca Juga:
Bismillah! Gubernur Khofifah Groundbreaking Jalur Lingkar Kaldera Tengger, Bromo Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Kelas Dunia

Seluruh anak yang terpapar berada pada rentang usia 11 hingga 18 tahun, fase perkembangan yang rentan terhadap pencarian identitas, kebutuhan pengakuan sosial, dan eksplorasi ruang digital tanpa batas yang jelas.

Polri mengungkapkan bahwa paparan ideologi kekerasan tersebut tidak hanya bersifat wacana atau konsumsi konten semata. Sejumlah anak, bahkan telah memiliki pengetahuan dan ketertarikan terhadap berbagai jenis senjata berbahaya.

Kondisi ini dinilai berpotensi mengancam keselamatan lingkungan sekitar dan menjadi indikator serius bahwa ekstremisme digital telah memasuki tahap yang mengkhawatirkan.

Pengkaji budaya dan media dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Dr Radius Setiyawan menilai fenomena ini mencerminkan krisis produksi makna dalam ruang sosial digital.

“Ideologi, seperti Neo-Nazi dan supremasi kulit putih, sejatinya merupakan istilah dan simbol yang sangat terkait dengan sejarah kekerasan rasial di Eropa dan Amerika Serikat,” ucapnya.

Menurut dia, ideologi tersebut tidak hanya hadir sebagai gagasan, tetapi pernah terlembaga dan melakukan kekejaman secara struktural.

Dalam konteks ruang digital saat ini, lanjut Radius, simbol dan wacana tersebut kerap dipisahkan dari latar sejarah dan dimensi etisnya.

Ia menjelaskan konten ekstrem tampil dalam bentuk yang lebih samar sering kali dikemas melalui estetika meme, narasi sensasional atau diskusi komunitas yang tampak netral.

Akibatnya, anak-anak dan remaja dapat mengonsumsi simbol kekerasan, tanpa memahami konsekuensi ideologis dan historis yang melekat di dalamnya.

“Arena digital bukanlah ruang yang netral. Dalam banyak kasus, ruang ini justru menjadi arena produksi dan reproduksi kekerasan simbolik,” tutur Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja sama dan Digitalisasi Umsura tersebut.

“Simbol-simbol ekstrem berfungsi sebagai floating signifier, yakni tanda yang terlepas dari makna asalnya, lalu diisi ulang oleh budaya daring, humor gelap, dan narasi komunitas yang membangun rasa kebersamaan semu,” tambah Radius. (*)

Baca Sebelumnya

Masih 83 Desa Masuk Kategori Mandiri! Kepala DPMD Lumajang Sebut Pemberdayaan Masyarakatnya Bukan Fisik Semata

Baca Selanjutnya

Jaya Group Dukung Pelajar Berpikir Global via Program Open Mind for Student di Surabaya

Tags:

Gubernur Khofifah BPSDM Ekstremisme Radikalisme UMSURA radius setiawan Digitalisasi

Berita lainnya oleh Fiqih Arfani

Beranggotakan Profesor Perempuan Terbanyak se-Tanah Air, Muslimat NU Pecahkan 2 Rekor MURI

12 April 2026 14:32

Beranggotakan Profesor Perempuan Terbanyak se-Tanah Air, Muslimat NU Pecahkan 2 Rekor MURI

Ramah di Kantong Emak-Emak! Ini Daftar Harga Bahan Pokok di Pasar Murah ala Gubernur Khofifah

12 April 2026 13:55

Ramah di Kantong Emak-Emak! Ini Daftar Harga Bahan Pokok di Pasar Murah ala Gubernur Khofifah

Terbaik! Gubernur Khofifah Sudah 59 Kali Gelar Pasar Murah Jaga Stabilitas Harga Pangan

12 April 2026 13:20

Terbaik! Gubernur Khofifah Sudah 59 Kali Gelar Pasar Murah Jaga Stabilitas Harga Pangan

Berakhir Pekan di Surabaya! Luhut Pandjaitan: Selamat Datang di Dunia Tio, Cucu Opung

12 April 2026 13:00

Berakhir Pekan di Surabaya! Luhut Pandjaitan: Selamat Datang di Dunia Tio, Cucu Opung

Jalani Sidang Perdana! Bupati Ponorogo Nonaktif Didakwa Terima Suap dan Gratifikasi

10 April 2026 19:06

Jalani Sidang Perdana! Bupati Ponorogo Nonaktif Didakwa Terima Suap dan Gratifikasi

Emil Dardak Tinjau Pelebaran Jalan Akses ke Malang Selatan, Warga Diingatkan Jangan Ngebut

10 April 2026 17:36

Emil Dardak Tinjau Pelebaran Jalan Akses ke Malang Selatan, Warga Diingatkan Jangan Ngebut

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar