KETIK, BATU – Tingkat hunian hotel di Kota Batu selama masa cuti Idulfitri 2026 tercatat berada di kisaran 70 persen.
Angka tersebut menunjukkan tren stabil dibandingkan periode Lebaran tahun sebelumnya, meski pelaku industri perhotelan berharap adanya peningkatan seiring panjangnya masa libur tahun ini.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengungkapkan bahwa okupansi mulai bergerak sejak akhir pekan lalu dan hingga saat ini masih berada pada level yang relatif sama.
“Sampai hari ini, tingkat hunian hotel masih di kisaran 70 persen, mulai terlihat sejak hari Minggu kemarin,” ujarnya, Selasa, 24 Maret 2026.
Jika dibandingkan dengan Idulfitri tahun lalu, Sujud menyebutkan tidak terdapat perbedaan signifikan. Pada periode tersebut, tingkat okupansi juga berada di rentang 70 hingga 80 persen.
“Kurang lebih hampir sama dengan tahun lalu, saat itu okupansi berada di kisaran 70 sampai 80 persen,” jelasnya.
Meski demikian, pihaknya optimistis tingkat hunian masih berpotensi meningkat mengingat durasi libur Lebaran tahun ini lebih panjang.
Ia berharap momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong kunjungan wisatawan ke Kota Batu.
“Kami berharap libur Idulfitri tahun ini bisa lebih panjang, bahkan lebih dari tujuh hari. Tahun lalu hanya sekitar lima hari,” katanya.
Ia juga memperkirakan periode libur panjang dapat berlangsung hingga akhir Maret 2026, yang berpotensi mendongkrak okupansi hotel.
“Harapannya libur panjang ini bisa berlangsung sampai Sabtu, tanggal 28 Maret,” tambahnya.
Di sisi lain, Sujud mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang memengaruhi tingkat hunian hotel. Salah satunya adalah daya beli masyarakat yang dinilai belum sepenuhnya pulih.
“Memang daya beli masyarakat masih relatif lemah. Saat ini tamu hotel didominasi wisatawan reguler, sementara tamu dari grup pemerintah hampir tidak ada. Kalaupun ada, lebih banyak dari kalangan korporasi,” ungkapnya. (*)
