KETIK, BATU – Kerukunan antarumat beragama di RW 10 Kampung Hendrik, Kelurahan Ngaglik, Kota Batu, telah terbangun sejak awal berdirinya kawasan tersebut.
Lingkungan yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang agama itu hingga kini dikenal sebagai salah satu contoh kehidupan sosial yang harmonis di tengah keberagaman.
Ketua RW 10 Kampung Hendrik, Hendrik Sugianto, menjelaskan bahwa sejarah terbentuknya Kampung Hendrik tidak lepas dari peran seorang tokoh bernama Tuan Hendrik, seorang warga Belanda yang dahulu memiliki lahan di wilayah Kota Batu.
Pada masa itu, sebagian tanahnya diberikan secara cuma-cuma kepada beberapa warga sehingga kemudian berkembang menjadi permukiman yang kini dikenal sebagai Kampung Hendrik.
“Dulu ada beberapa orang yang diberi tanah secara gratis oleh Tuan Hendrik. Beliau merupakan orang Belanda yang memiliki lahan di Kota Batu. Dari situlah awal mula terbentuknya Kampung Hendrik,” ujarnya.
Dalam perjalanan sejarahnya, kawasan tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pihak lintas agama.
Menurut Hendrik Sugianto, bantuan dari komunitas nonmuslim turut berperan dalam perkembangan lingkungan Kampung Hendrik, termasuk dukungan dari lembaga keagamaan seperti gereja maupun yayasan keagamaan.
“Sejak awal berdirinya kampung ini, tidak lepas dari bantuan saudara-saudara nonmuslim. Misalnya dari gereja maupun dari susteran Yayasan Karmelites. Karena itu, sejak dulu hingga sekarang kami berusaha menjaga kerukunan antarumat beragama di sini,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat Kampung Hendrik menjunjung tinggi sikap saling menghormati antarumat beragama. Hingga saat ini, menurutnya, tidak pernah terjadi konflik keagamaan di lingkungan tersebut.
“Alhamdulillah selama saya berkecimpung di Kampung Hendrik ini, tidak pernah ada saling menjelekkan antaragama. Masyarakat di sini sangat menjunjung tinggi kebersamaan,” katanya.
Salah satu bentuk kebersamaan tersebut terlihat dari kegiatan perayaan keagamaan yang dilakukan bersama.
Setiap dua tahun sekali, warga yang beragama Nasrani di RW 10 menyelenggarakan kegiatan Natal bersama yang melibatkan masyarakat setempat.
“Kebetulan pada 3 Januari 2026 lalu, warga Nasrani di RW 10 mengadakan Natal bersama di lingkungan kampung. Kegiatan itu juga menjadi momen untuk mempererat kebersamaan antarwarga,” tuturnya.
Menurut Hendrik Sugianto, menjaga kerukunan di lingkungan yang majemuk memerlukan peran aktif seluruh pengurus dan tokoh masyarakat.
Ia menyebut masyarakat di RW 10 terdiri dari berbagai latar belakang agama, mulai dari Islam, Kristen, Katolik, hingga kepercayaan lainnya.
“Karena masyarakat di sini majemuk, pengurus RW harus benar-benar mampu ‘momong’ atau membina seluruh warga. Tujuannya agar kerukunan antarumat beragama tetap terjaga,” jelasnya.
Selain itu, pembinaan terhadap generasi muda juga menjadi perhatian utama dalam menjaga keharmonisan sosial.
Menurutnya, keterlibatan langsung dalam kegiatan positif menjadi salah satu cara efektif untuk mencegah pengaruh paham radikalisme di kalangan pemuda.
“Kami berusaha mendampingi para pemuda dengan memberikan berbagai kegiatan positif. Dengan begitu mereka bisa tetap solid dan memiliki aktivitas yang bermanfaat,” ujarnya.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah membentuk komunitas Generasi Indonesia Peduli Lingkungan (GIPL) di lingkungan RW 10.
Melalui wadah tersebut, para pemuda dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial dan lingkungan.
“Kami berharap melalui kegiatan ini para pemuda bisa memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekaligus memperkuat kebersamaan di masyarakat,” tambahnya.
Semangat toleransi juga tercermin dalam kerja sama lintas agama saat perayaan hari besar keagamaan.
Warga, khususnya para pemuda, secara sukarela membantu menjaga keamanan maupun mendukung kelancaran kegiatan ibadah.
“Misalnya saat perayaan Natal di gereja paroki, para pemuda di lingkungan kami langsung membantu pengamanan secara sukarela. Tanpa diminta pun mereka siap membantu dengan ikhlas,” ungkapnya.
Menurut Hendrik Sugianto, semangat gotong royong dan saling membantu tersebut menjadi kunci utama dalam menjaga kerukunan yang telah terbangun sejak lama di Kampung Hendrik.
Dengan nilai kebersamaan yang terus dipelihara, ia berharap harmoni antarumat beragama di wilayahnya dapat terus terjaga hingga generasi mendatang.
