KETIK, MALANG – Harga beras premium di Pasar Bunul Kota Malang kini telah mencapai Rp83.000 per 5 kilogram. Bahkan dari 20 merk beras yang ada, 15 di antaranya telah mengalami kelangkaan. 

Hal tersebut disampaikan oleh salah satu pedagang Toko Prancangan, Supri. Sebelumnya harga beras premium masih berada di angka Rp79.000 per 5 kilogram. 

"Naik semua harga beras premium, terus enggak ada barangnya. Kita ada 20 merek yang tadinya dijual, sekarang tinggal 5 saja. Naiknya yang dari premium itu saya jual kemarin Rp79.000, sekarang tertingginya Rp83.000," ujarnya, Kamis 13 Agustus 2026.

Kenaikan harga beras terjadi secara bertahap sejak bulan Agustus 2026. Kendati demikian kenaikan harga tidak berdampak pada minat pembeli. 

Ia juga menyebut kelangkaan tak hanya terjadi pada beras premium namun juga beras medium. Kelangkaan ini sudah terjadi sekotar 2 minggu lamanya. 

Baca Juga:
Harga Daging Sapi di Malang Tak Kunjung Turun, Pedagang Kian Resah Penjualan Anjlok

"Medium hilang sekarang dari pasar, kaya Topas, Anak Tani itu saya dijanjiin dari seminggu tapi enggak datang barangnya. Terus Tugu, itu kan kelas-kelas medium, enggak ada barangnya di pasar. Kalau Topas sudah 2 minggu yang lalu sudah enggak ada di pasar," katanya. 

Sementara itu, Kepala Diskopindag Kota Malang Eko Sri Yuliadi menjelaskan kenaikan harga terjadi mulai di tingkat produsen. Salah satunya dipicu oleh biaya produksi yang meningkat. 

"Misal kantong plastik, transportasi, dan lain sebagainya berpengaruh terhadap harga jual di pasar," kata Eko.

Menurut Eko, meskipun banyak harga bahan pokok mengalami kenaikan, daya beli masyarakat tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi di Kota Malang pun dinilai cukup baik sehingga masyarakat tetap memiliki kemampuan membeli kebutuhan pokok. 

Baca Juga:
Berkah HUT Kemerdekaan RI, Permintaan Sewa Baju Adat dan Karnaval di Kota Malang Meningkat

"Kalau saya melihat sampai hari ini daya beli masyarakat tetap berjalan, masyarakat tetap belanja di pasar. Dengan kenaikan ini masyarakat masih bisa membeli beras maupun daging. Artinya ada pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus juga," pungkasnya. (*)