Halloween Bersama Cure (1997): Saat Keheningan Jadi Sumber Ketakutan

Jurnalis: Athaya Khaisyah Azira
Editor: Muhammad Faizin

31 Okt 2025 05:30

Thumbnail Halloween Bersama Cure (1997): Saat Keheningan Jadi Sumber Ketakutan
Potongan adegan dalam film Cure (1997) (Foto: MUBI)

KETIK, SURABAYA – Menjelang Halloween, banyak orang mencari film yang bisa memacu adrenalin atau menghadirkan ketakutan lewat jumpscare. Namun, Cure (1997) karya sutradara Jepang Kiyoshi Kurosawa menawarkan jenis teror yang berbeda, yakni lebih sunyi, lebih lambat, dan justru karena itulah terasa jauh lebih mencekam. 

Hampir tiga dekade lebih sejak perilisannya, film ini masih menjadi contoh sempurna bagaimana horor psikologis dapat menembus ruang kesadaran penonton tanpa perlu menampilkan makhluk gaib atau darah berlebihan.

Film ini mengikuti detektif Takabe (Koji Yakusho) yang menyelidiki rangkaian pembunuhan brutal di Tokyo. Setiap korban ditemukan dengan luka berbentuk ‘X’ di bagian leher hingga dada, dan yang lebih membingungkan, para pelaku selalu tampak tidak sadar mengapa mereka melakukannya. Di balik semua itu, muncul sosok misterius bernama Mamiya (Masato Hagiwara), seorang yang diduga kehilangan ingatan dan tidak diketahui asal-usulnya, yang nantinya akan menjadi ‘kunci’ dari seluruh alur kisah ini.

Kurosawa menciptakan ketegangan bukan melalui teriakan atau musik keras, melainkan lewat hal-hal sederhana yang biasanya kita abaikan. Dalam Cure, korek api, tetesan air, dan tanda ‘X’ bukan sekadar properti, melainkan simbol-simbol ketakutan yang perlahan menelusup masuk ke alam bawah sadar penonton. 

Baca Juga:
5 Taman Favorit di Surabaya, Pilihan Wisata Asri di Tengah Hiruk Pikuk Kota

Saat Mamiya menyalakan korek api, gerakan lambat dan bunyi percik apinya terasa seperti mantra. Benda mati itu menjadi alat pemicu, sesuatu yang memisahkan kewarasan dan kegilaan. Begitu pula dengan tetesan air serta noise yang terus terdengar di latar belakang, menjadi representasi waktu yang mengalir, mengikis ketenangan hingga berubah menjadi kegelisahan.

Tidak ada teriakan histeris, tidak ada kejar-kejaran dramatis. Justru dalam keheningan dan pengulangan, penonton mulai merasakan ketakutan paling murni: kehilangan kendali atas diri sendiri. 

Kurosawa menempatkan penonton di antara realitas dan ilusi, membuat penonton mempertanyakan "Apa yang sebenarnya nyata?" Di akhir film, ketika Takabe mulai menunjukkan perubahan halus dalam perilakunya, Cure meninggalkan sensasi yang lebih dingin daripada sekadar jumpscare, seolah keheningannya turut menjalar ke luar layar.

Kekuatan Cure terletak pada cara Kurosawa menggambarkan bahwa kejahatan bukan datang dari luar, tetapi dari dalam diri manusia itu sendiri. Setiap detik filmnya terasa seperti meditasi tentang kehilangan identitas dan rapuhnya kesadaran. 

Baca Juga:
Weekend Anti Gabut: 6 Film Horror Komedi Indonesia yang Siap Menghibur Kamu

Hampir tiga puluh tahun berlalu, Cure tetap relevan hingga saat ini, terlebih dalam dunia modern yang serba cepat, film ini mengingatkan bahwa teror paling menakutkan tidak selalu datang dari hantu, kadang justru melalui pikiran kita sendiri.

Bagi sobat Ketikers yang ingin merayakan Halloween dengan sesuatu yang mencekam sekaligus penuh makna, film ini adalah pilihan sempurna; sebuah pengalaman yang membuat penonton bukan hanya takut, tetapi juga berpikir. Karena setelah menonton Cure, bahkan bunyi tetesan air pun tak lagi terdengar sama.

Baca Sebelumnya

Atap Ambruk dan Santri Terjatuh, Kemenag Beri Pendampingan Dua Pesantren Jawa Timur

Baca Selanjutnya

Soal Participating Interest Sektor Panas Bumi, Peluang Daerah Tingkatkan PAD di Tengah Pengurangan TKD

Tags:

Cure Film horor rekomendasi Film Halloween Horror Film Jepang

Berita lainnya oleh Athaya Khaisyah Azira

Oshogatsu-asobi: Saat Karuta dan Gasing Menjadi Jembatan Tradisi di Tengah Modernitas Jepang

4 Januari 2026 15:01

Oshogatsu-asobi: Saat Karuta dan Gasing Menjadi Jembatan Tradisi di Tengah Modernitas Jepang

Osechi Ryōri: Menumpuk Doa dan Harapan dalam Kotak Tradisi Tahun Baru Jepang

1 Januari 2026 23:01

Osechi Ryōri: Menumpuk Doa dan Harapan dalam Kotak Tradisi Tahun Baru Jepang

Filosofi di Balik Kenyalnya Mochi, Benang Merah Tradisi Tahun Baru di Negeri Sakura

1 Januari 2026 11:01

Filosofi di Balik Kenyalnya Mochi, Benang Merah Tradisi Tahun Baru di Negeri Sakura

Mengintip Tradisi Hatsumode, Kunjungan Pertama ke Kuil Saat Tahun Baru di Jepang

1 Januari 2026 10:02

Mengintip Tradisi Hatsumode, Kunjungan Pertama ke Kuil Saat Tahun Baru di Jepang

Mengenal Bōnenkai dan Shinnenkai, Tradisi Pesta Menutup dan Membuka Tahun dengan Kebersamaan di Jepang

31 Desember 2025 23:01

Mengenal Bōnenkai dan Shinnenkai, Tradisi Pesta Menutup dan Membuka Tahun dengan Kebersamaan di Jepang

Kota Surabaya dan Lamongan Diprediksi Hujan Ringan Hari Ini! Cek Daerahmu Sekarang

31 Desember 2025 11:32

Kota Surabaya dan Lamongan Diprediksi Hujan Ringan Hari Ini! Cek Daerahmu Sekarang

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar