Halalbihalal: Tradisi Idulfitri yang Hanya Ada di Indonesia, Bermula dari Ketegangan Politik

Jurnalis: Muhammad Faizin
Editor: Fisca Tanjung

21 Mar 2026 13:00

Headline

Thumbnail Halalbihalal: Tradisi Idulfitri yang Hanya Ada di Indonesia, Bermula dari Ketegangan Politik
KH Abdul Wahab Chasbullah, sosok ulama terkemuka yang memberi saran kepada Presiden Sukarno agar tradisi Halalbihalal dilakukan di tingkat kenegaraan formal. (Foto: NU Online)

KETIK, SURABAYA – Halalbihalal menjadi salah satu ciri khas perayaan atau tradisi Lebaran di Indonesia. Setelah Hari Raya Idulfitri, masyarakat biasanya menggelar acara silaturahmi untuk saling memaafkan dalam suasana kebersamaan.

Kegiatan ini dapat berlangsung dalam berbagai bentuk, mulai dari pertemuan keluarga, reuni warga kampung, hingga acara resmi di kantor atau lembaga pemerintahan. Meski sangat populer di Indonesia, istilah halalbihalal sebenarnya tidak ditemukan dalam tradisi Islam di Timur Tengah.

Para peneliti budaya menyebut halalbihalal sebagai tradisi khas Indonesia yang lahir dari perpaduan ajaran Islam dengan budaya lokal masyarakat Nusantara.

Asal-usul Istilah Halalbihalal

Baca Juga:
Gelar Halalbihalal dan Peringati Hari Kartini, DWP Diknas Bojonegoro Gelar Lomba Busana Kebaya

Secara etimologis, istilah halalbihalal berasal dari kata “halal” yang berarti sesuatu yang diperbolehkan atau tidak terlarang dalam ajaran Islam. Dalam konteks sosial, istilah ini dimaknai sebagai proses saling memaafkan sehingga hubungan antarindividu kembali “halal” atau bersih dari kesalahan.

Dalam tata bahasa Arab, tidak dikenal istilah Halalbihalal ataupun Halal bil Halal (jika menggunakan tata bahasa Arab murni). Hal ini bisa dimaklumi karena tradisi ini juga tidak dikenal di Timur Tengah.

Menurut sejumlah kajian bahasa dan budaya Jawa, istilah halalbihalal diduga berkembang dari permainan kata dalam tradisi masyarakat Jawa yang kerap menggabungkan istilah Arab dengan ungkapan lokal.

Budayawan Umar Kayam dalam buku “Seni, Tradisi dan Masyarakat (1981)” pernah menjelaskan bahwa halalbihalal merupakan contoh bagaimana masyarakat Jawa mengolah konsep Islam menjadi tradisi sosial yang khas.

Baca Juga:
Gelar Gathering Media, Plt Wali Kota Madiun Minta Pers Kawal Pemerintah

Dalam praktiknya, tradisi ini tidak sekadar menjadi ritual saling memaafkan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Peran Tokoh Nahdlatul Ulama dalam Lahirnya Halalbihalal

Sejarah populer tentang halalbihalal sering dikaitkan dengan masa awal kemerdekaan Indonesia pada akhir 1940-an.

Dikutip dari buku “KH Abdul Wahab Chasbullah: Dari Pesantren untuk Indonesia” tulisan Choirul Anam, dikisahkan bahwa pada saat itu, Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, menghadapi situasi politik yang cukup rumit. Hubungan antar elite politik nasional mengalami ketegangan akibat perbedaan pandangan setelah kemerdekaan.

Untuk meredakan situasi tersebut, Sukarno meminta saran kepada ulama besar Nahdlatul Ulama, KH Abdul Wahab Chasbullah.

Kiai Wahab kemudian mengusulkan agar para tokoh bangsa dipertemukan dalam sebuah acara silaturahmi setelah Lebaran. Pertemuan tersebut dimaksudkan sebagai ajang saling memaafkan dan memperbaiki hubungan yang sempat tegang.

Menurut sejumlah catatan sejarah organisasi Islam, gagasan tersebut kemudian diwujudkan dalam sebuah pertemuan di Istana Negara pada masa Idulfitri sekitar tahun 1948.

Pertemuan itu dikenal sebagai acara halalbihalal dan dihadiri oleh para tokoh politik, ulama, serta pemimpin masyarakat.

Sejak saat itu, istilah halalbihalal mulai populer dan digunakan secara luas oleh masyarakat Indonesia.

Halalbihalal dalam Perspektif Antropologi

Dalam kajian antropologi, halalbihalal dipandang sebagai tradisi sosial yang memiliki fungsi penting dalam menjaga harmoni masyarakat.

Antropolog Indonesia, Koentjaraningrat, menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia memiliki banyak mekanisme budaya untuk memulihkan hubungan sosial setelah terjadi konflik atau kesalahpahaman.

Tradisi saling memaafkan saat Lebaran merupakan salah satu mekanisme tersebut. Dengan adanya ritual sosial seperti halalbihalal, masyarakat memiliki ruang untuk memperbaiki hubungan tanpa harus memperpanjang konflik.

Sejumlah peneliti juga menilai bahwa tradisi ini mencerminkan nilai budaya gotong royong dan kekeluargaan yang kuat dalam masyarakat Indonesia.

Perkembangan Tradisi Halalbihalal di Masyarakat Modern

Seiring berjalannya waktu, tradisi halalbihalal tidak lagi terbatas pada lingkup keluarga atau tokoh masyarakat. Praktik ini kini berkembang luas di berbagai sektor kehidupan.

Banyak kantor, perusahaan, sekolah, hingga instansi pemerintah menggelar acara halalbihalal sebagai ajang mempererat hubungan kerja dan membangun suasana kebersamaan.

Bahkan di era modern, halalbihalal juga dilakukan secara daring melalui pertemuan virtual, terutama ketika masyarakat tidak dapat berkumpul secara langsung.

Hal ini menunjukkan bahwa tradisi halalbihalal terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan makna utamanya.

Simbol Persaudaraan dalam Budaya Lebaran Indonesia

Tradisi halalbihalal menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia memiliki cara unik dalam merayakan Idulfitri.

Melalui tradisi ini, nilai-nilai keagamaan seperti saling memaafkan dipadukan dengan budaya lokal yang menekankan pentingnya kebersamaan dan harmoni sosial.

Karena itu, halalbihalal tidak hanya menjadi kegiatan seremonial setelah Lebaran, tetapi juga menjadi simbol kuat persaudaraan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Tradisi yang lahir dari perpaduan agama dan budaya ini pada akhirnya menjadi salah satu identitas khas perayaan Lebaran di Indonesia. (*)

Baca Sebelumnya

Tak Melulu Nasi Pecel, Ini 5 Kuliner Legendaris di Madiun yang Wajib Dicoba Saat Libur Lebaran

Baca Selanjutnya

Jadwal Buka Puasa Malang Raya Hari Ini 15 Maret 2026 dan Tips Amalan 10 Malam Terakhir

Tags:

KH Abdul Wahab Chasbullah halalbihalal nu Umar Kayam tradisi lebaran tradisi idulfitri

Berita lainnya oleh Muhammad Faizin

Kembangkan Teknologi RFID Tanpa Baterai untuk Pertanian Cerdas, Dosen Unmuh Jember Raih Gelar Doktor di Jepang

16 April 2026 08:00

Kembangkan Teknologi RFID Tanpa Baterai untuk Pertanian Cerdas, Dosen Unmuh Jember Raih Gelar Doktor di Jepang

Penugasan Agrinas via Inpres Disorot, Akademisi Nilai Berpotensi Langgar Prinsip Pasal 33 UUD 1945

16 April 2026 06:58

Penugasan Agrinas via Inpres Disorot, Akademisi Nilai Berpotensi Langgar Prinsip Pasal 33 UUD 1945

Penugasan Agrinas Kelola Koperasi Merah Putih Tuai Sorotan, Potensi Langgar Konstitusi dan Aturan Lain

16 April 2026 05:50

Penugasan Agrinas Kelola Koperasi Merah Putih Tuai Sorotan, Potensi Langgar Konstitusi dan Aturan Lain

Kerusuhan di Polsek Panipahan imbas Kemarahan Warga Terkait Narkoba, Polda Riau Lakukan Evaluasi Besar

15 April 2026 08:50

Kerusuhan di Polsek Panipahan imbas Kemarahan Warga Terkait Narkoba, Polda Riau Lakukan Evaluasi Besar

So Sweet! Dari Paris, Presiden Prabowo Sampaikan Ucapan Ulang Tahun ke-67 untuk Titiek Soeharto

15 April 2026 08:07

So Sweet! Dari Paris, Presiden Prabowo Sampaikan Ucapan Ulang Tahun ke-67 untuk Titiek Soeharto

Pemerintah Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Akademisi: Langkah Mendesak

15 April 2026 05:41

Pemerintah Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Akademisi: Langkah Mendesak

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H