KETIK, MALANG – Komitmen menjaga kelestarian lingkungan terus digaungkan warga RW 13 Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Sebagai kelanjutan Program Kampung Iklim (Proklim), mereka menggelar edukasi dan pelatihan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bersama Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Minggu 28 Juni 2026.
Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi praktis dalam memanfaatkan sumber daya alam sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Agenda strategis ini dihadiri langsung oleh staf Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Camat Kedungkandang, Sekretaris Kelurahan Madyopuro, serta dosen dan mahasiswa ITN Malang. Hadir pula perwakilan komunitas Proklim Kota Malang dari RW 5 Arjowinangun dan kelembagaan masyarakat RW 13 Madyopuro.
Ketua RW 13 Madyopuro, Muhammad Sutanto, mengungkapkan bahwa pelatihan ini dilatarbelakangi oleh pencapaian wilayahnya yang sukses meraih predikat Proklim Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2025 lalu.
"Melalui pencapaian tersebut, RW 13 mulai menjalin kolaborasi dan memperluas networking dengan berbagai pihak," ujar Sutanto.
Baca Juga:
DLH Kota Malang Dukung Warga Pakai PLTS, Emisi Gas Rumah Kaca Siap DipangkasIa menambahkan, kegiatan ini berhasil terealisasi berkat dukungan small grant (dana hibah kecil) dari Kerajaan Norwegia melalui Kementerian Lingkungan Hidup, yang juga bekerja sama dengan Indonesia VOLU.
Dalam acara ini, pemaparan materi dan diskusi teknis terkait perangkat PLTS dipandu langsung oleh pakar dari Prodi Teknik Elektro ITN Malang, Dr. Ir. Widodo Pudji Muljanto, MT. Warga tidak hanya menerima teori, tetapi juga langsung mempraktikkan pengoperasian alat PLTS yang dibawa oleh tim ITN Malang.
Sutanto menilai edukasi energi terbarukan sangat mendesak bagi wilayahnya. Warga RW 13 Madyopuro sejauh ini telah memiliki kesadaran mitigasi lingkungan yang baik, sehingga perlu didorong ke tahap aksi nyata.
Baca Juga:
Meriahkan HUT Ke-65 Kostrad, Ribuan Pelari Ikuti Cakra Fun Run 2026 di Malang"Sudah sepantasnya masyarakat diberikan pemahaman, diberikan pelatihan, diberikan edukasi terkait dengan energi terbarukan dan melalui pelatihan PLTS pada kali ini. Sekaligus memahamkan bahwa konsep pengurangan dampak polusi serta hubungannya dengan PLTS itu juga menjadi bagian dari gerak lanjutan dari program kampung iklim," jelas Sutanto.
Tak berhenti pada edukasi, program ini akan langsung diimplementasikan dalam bentuk pemasangan perangkat solar cell (tenaga Surya) di Balai RW 13 sebagai fasilitas umum.
“Jadi setelah solar cell terpasang, kami akan membuat stasiun pengisian listrik umum berbasis solar cell. Nantinya, warga yang ingin ngecas (mengisi daya) sepeda listrik maupun motor listrik bisa memanfaatkannya secara gratis di Balai RW 13," tambahnya.
Langkah sinergis ini diharapkan mampu menekan emisi gas buang kendaraan di tingkat lokal, sekaligus menjadi wujud nyata dukungan warga terhadap program pemerintah dalam transisi energi bersih.
Pemilihan ITN Malang sebagai mitra strategis bukan tanpa alasan. Kampus ini dikenal memiliki barisan akademisi yang ahli di bidang teknologi terbarukan dan teknologi tepat guna.
"Kami bermitra dengan ITN yang rencananya kami anggap semacam inkubator. Jadi RW 13 perlu pengembangan terhadap teknologi terbarukan, teknologi tepat guna. Kami memerlukan bimbingan atau semacam inkubator, di situlah peran ITN sebagai bagian dari universitas yang melalui program pemberdayaan masyarakatnya di LPM-nya itu bisa bersinergi dengan RW 13," ujar Sutanto.
Ia berharap kerja sama antara warga, pemerintah, dan akademisi ini bisa menstimulasi perubahan perilaku warga secara masif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.
"Sehingga kerjasama antara RW 13, kampus, universitas dalam hal ini ITN bisa terealisasi dan mendapatkan manfaat bagi perubahan perilaku dan perubahan sikap warga RW 13 terhadap perubahan iklim," imbuhnya.
Menariknya, pelatihan ini juga melibatkan penuh anggota Karang Taruna setempat. Keterlibatan generasi muda dinilai krusial agar tongkat estafet pelestarian lingkungan tidak berhenti di generasi tua.
Anak-anak muda diharapkan mampu melahirkan inovasi dan kreativitas baru untuk mengembangkan program Proklim di masa depan.
"Konsep pembangunan lingkungan itu harus berkelanjutan. Peran Karang Taruna dan generasi penerus harus kami ajak sejak dini agar mereka memahami kebutuhan serta dinamika permasalahan lingkungan di sekitar mereka. Jadi saat nanti mereka mengambil alih peran kepemimpinan, mereka sudah siap," tegas Sutanto.
Melalui edukasi ini, Sutanto berharap pola pikir dan sikap masyarakat terhadap lingkungan dapat bertransformasi ke arah yang lebih baik, demi mewujudkan lingkungan yang nyaman, asri, dan sejahtera.(*)