KETIK, LUMAJANG – Fenomena bediding yang terjadi di kawasan Ranu Pani, Kabupaten Lumajang, ternyata tidak menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung. Aktivitas wisata, termasuk pendakian menuju Gunung Semeru, masih berjalan normal.

Buk Sunjati, salah seorang pedagang di tepi Ranu Pani, mengatakan jumlah wisatawan yang menginap dan melakukan pendakian masih cukup ramai dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya, banyak pengunjung tetap memilih berkemah di kawasan Ranu Kumbolo meski suhu udara pada dini hari turun cukup ekstrem.

“Masih banyak yang kemping di Ranu Regulo, di Ranu Kumbolo juga banyak. Mereka rata-rata menginap semalam. Alhamdulillah, pendapatan tetap ada setiap hari,” ujarnya.

Kondisi serupa juga disampaikan Tono, seorang porter di kawasan Ranu Pani. Ia menilai fenomena bediding justru menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana dingin dan menyaksikan kemunculan embun es.

Baca Juga:
Ranu Pani Terancam Hilang, Sedimentasi dan Kiambang Picu Penyusutan Danau di Kaki Semeru

“Masih banyak yang kemping di Kumbolo. Tadi saja ada beberapa rombongan besar yang naik,” katanya.

Menurut Tono, cuaca dingin yang memicu munculnya embun es tidak memberikan dampak signifikan terhadap jumlah kunjungan wisatawan.

Ia menyebut sebagian pengunjung justru tertarik datang karena ingin menyaksikan langsung fenomena alam yang hanya muncul pada periode tertentu tersebut.

“Jadi bediding tidak berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan. Mereka justru semakin tertarik dengan adanya embun es ini,” tambahnya.

Baca Juga:
Pawon Tengger, Perapian yang Menjadi Pusat Kehidupan Masyarakat Kaki Semeru

Fenomena embun es di kawasan Ranu Pani umumnya terjadi saat musim kemarau ketika suhu udara di kawasan pegunungan turun drastis pada malam hingga pagi hari. Meski memberikan tantangan bagi aktivitas pertanian warga, kondisi tersebut tetap menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan dan pendaki yang berkunjung ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.