KETIK, SURABAYA – Proses evakuasi pendaki yang terperosok jurang Gunung Semeru kembali dilanjutkan, usai sebelumnya Tim SAR menunda karena alasan visibilitas dan tambahan alat untuk melakukan proses evakuasi.
Berdasarkan keterangan resmi Kantor SAR Surabaya, pihaknya kembali melakukan evakuasi pendaki,.Cakra (18) menggunakan metode slope rescue.
Keputusan menggunakan metode ini karena Cakra dievakuasi dari jurang dengan kedalaman kurang lebih 375 meter. Selain itu, Cakra mengalami dislokasi ankle kaki kanan. Hal ini yang membuat Tim SAR Gabungan memakai metode slope rescue.
Tim SAR Gabungan juga melakukan pemindaian untuk imobilisasi bagian ankle kaki kanan yang dicurigai mengalami dislokasi sebagai bentuk penanganan awal terhadap survivor.
“Supaya meminimalisir pergerakan dan agar tidak semakin bengkak maka kaki survivor memang harus dibidai” ungkap Nanang Sigit P. H,Kepala Kantor SAR Surabaya, selaku SAR Mission Coordinator (SMC) pada operasi SAR ini dikutip dari keterangan resmi, Jumat, 5 Mei 2026.
Baca Juga:
PPIH Debarkasi Surabaya Laporkan 2 Jemaah Haji Wafat dan 3 Masih Dirawat di Arab SaudiLebih lanjut Nanang menjelaskan metode slope rescue sering dilakukan untuk proses evakuasi di medan miring, seperti di gunung. Pada saat evakuasi, survivor diposisikan dalam kondisi terlentang di flexible/rolling stretcher, kemudian diamkan dengan sistem tali.
Alasan itulah Tim SAR Gabungan memakai metode slope rescue untuk mengevakuasi pendaki tersebut, karena terperosok ke jurang dengan kedalaman sekitar 374 meter, di atas lokasi survivor tidak ada pijakan aman yang dapat digunakan sebagai anchor.
"Kemiringan medan juga dirasa lebih cocok untuk evakuasi dengan metode slope rescue dan dengan metode ini evakuasi bisa dilakukan secara bertahap" imbuh Nanang.
Sebagai informasi, proses evakuasi yang dilakukan tim SAR Gabungan dilaksanakan pada Kamis, 4 Juni 2026 siang. Tim tiba di lokasi tempat survivor dan lima orang lainnya berada.
Baca Juga:
SAR Surabaya Kirim Tambahan, Evakuasi Pendaki Terperosok di Jurang Pendakian Gunung SemeruTim dengan sigap langsung melakukan evakuasi, setelah survivor diposisikan di atas flexible stretcher, proses evakusai dilakukan dengan menarik survivor dengan pangawalan di sisi kanan dan kirinya.
Proses penarikan dilakukan secara bergantian dan memerlukan kewaspadaan mengingat medan yang terjal dan curam. Proses evakuasi hingga tiba di Posko diperkirakan selesai pada Jumat, 5 Juni 2026 malam dengan melihat kondisi fisik survivor maupun tim SAR gabungan dan juga cuaca di lokasi.
"Dari jurang, survivor dievakuasi dengan slope rescue menuju titik kumpul tim SAR Gabungan yang ada diatas baru kemudian dari atas akan ditandu untuk turun menuju ke posko" jelas Nanang. (*)