KETIK, LUMAJANG – Fenomena embun es kembali muncul di kawasan Ranu Pani, Kabupaten Lumajang, pekan lalu seiring suhu udara yang turun drastis saat musim kemarau. 

Salah seorang warga Ranu Pani, Tain, mengatakan embun es mulai terbentuk sejak dini hari ketika suhu mencapai titik terendah.

“Tengah pekan lalu muncul embun es, atau masyarakat sini bilangnya embun upas. Kalau pagi memang dingin, suhunya bisa sampai minus," kata Tain.

"Es mulai muncul sekitar jam 03.00 sampai matahari terbit. Setelah matahari terbit, es mencair,” sambungnya.

Menurut pria 66 tahun ini, fenomena embun es tidak hanya menjadi daya tarik alam, tetapi juga membawa dampak bagi vegetasi di sekitar kawasan.

Baca Juga:
Pawon Tengger, Perapian yang Menjadi Pusat Kehidupan Masyarakat Kaki Semeru

Tain menyebut embun es dapat merusak tanaman yang terpapar langsung karena suhu dingin ekstrem menyebabkan jaringan tanaman rusak.

“Kalau kena tanaman, mati. Rumput di tepi Ranu Pani sebelumnya rata dan hijau. Sekarang setelah kena embun es itu mati semua. Warnanya jadi kecokelatan dan ada yang menghitam seperti bekas terbakar,” katanya.

Ia menambahkan, tidak hanya rumput yang terdampak, tetapi juga sejumlah komoditas pertanian milik warga seperti kentang dan bawang.

“Bukan cuma rumput, tanaman seperti kentang dan bawang juga bisa mati karena kena embun es,” tuturnya.

Baca Juga:
Fenomena Embun Es Jadi Daya Tarik Pendaki Semeru, Wisatawan Asal Jakarta Rela Datang Saat Bediding

Meski demikian, warga setempat telah memiliki pola adaptasi yang diwariskan dari pengalaman menghadapi siklus musim dingin di kawasan pegunungan tersebut.

Menurut Tain, petani di Ranu Pani umumnya sudah memperhitungkan waktu tanam agar tidak bertepatan dengan periode bediding.

“Penduduk di sini sudah bisa mengantisipasi, jadi tidak banyak yang menanam saat kondisi seperti ini. Sudah dihitung. Kalau musim seperti ini biasanya tidak tanam,” jelasnya.

Embun es yang menempel di rumput, di Kawasan Ranu Pani, beberapa waktu lalu. (Foto: Dendy/Ketik.com)

Ia menyebut pengaturan waktu tanam menjadi salah satu strategi utama agar tanaman tetap dapat bertahan.

“Kalau musim seperti ini, biasanya tanaman sudah dalam fase besar. Kalau kentang, umbinya sudah terbentuk,” tuturnya.

Fenomena embun es atau yang kerap disebut “embun upas” memang beberapa kali muncul di kawasan Ranu Pani saat musim kemarau dengan suhu rendah. Meski terlihat indah, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap lahan pertanian dan vegetasi di sekitar kawasan.