KETIK, MALANG – Masyarakat kembali dibuat khawatir dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini menyentuh Rp17.743 per Rabu, 20 Mei 2026. Pakar Ekonomi Universitas Brawijaya (UB), Wildan Syafitri, menyebut dampak melemahkan rupiah bisa terasa hingga ke dapur warga. 

Wildan menjelaskan, pelemahan nilai rupiah tetap berpengaruh terhadap kebutuhan pokok masyarakat. Terlebih banyak bahan baku yang digunakan merupakan hasil dari impor, seperti tempe, terigu, dan lainnya. 

“Kalau harga kebutuhan pokok naik akibat pelemahan rupiah, itu baru akan sangat dirasakan masyarakat,” ujarnya, Rabu, 20 Mei 2026.

Ketergantungan sektor pangan dan industri terhadap bahan impor membuat Indonesia berada di posisi rentan terhadap gejolak nilai tukar rupiah. Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar membuat harga barang impor meningkat dan berdampak pada kenaikan biaya produksi di dalam negeri. 

“Ketergantungan impor kita terhadap kedelai, terigu, hingga bahan baku industri itu tinggi. Ketika rupiah melemah, biaya produksi meningkat dan akhirnya harga barang di masyarakat ikut naik,” lanjutnya.

Baca Juga:
Prabowo Rayu Pasar di Paripurna DPR, Ekonom UB: Kebijakannya Masih Jauh dari Angan

Wildan menjelaskan, kenaikan biaya produksi akhirnya akan dibebankan kepada konsumen. Apabila terus berlanjut maka daya beli masyarakat pun dapat menurun akibat harga yang semakin melambung namun pendapatan stagnan. 

Begitu pula dengan kenaikan harga BBM yang masih banyak bergantung pada impor. Dampak tak hanya dirasakan oleh masyarakat, namun juga hampir seluruh sektor ekonomi. 

“Meningkatnya harga BBM itu karena beberapa komponen BBM masih impor. Akhirnya biaya produksi naik dan produsen akan membebankan biaya itu kepada konsumen,” sebutnya.

Menurutnya, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik global maupun domestik. Kondisi perekonomian dunia, arus modal internasional, hingga ekspektasi masyarakat dan investor terhadap perekonomian di Indonesia memberikan andil besar terhadap kondisi rupiah. 

Baca Juga:
Perpustakaan UB Respons Cepat Keluhan Toilet Campur Mahasiswa

Ancaman krisis ekonomi sendiri baru terasa jika terjadi kontraksi terhadap pertumbuhan ekonomi selama 2 kuartal berturut-turut. Termasuk inflasi tinggi dan menurunnya daya beli masyarakat secara drastis. 

“Potensi krisis tentu ada setiap saat, tetapi kondisi sekarang masih relatif aman dan terkendali,” jelasnya.

Tak hanya itu, peningkatan capital outflow atau arus modal keluar dari Indonesia juga mempengaruhi pelemahan rupiah. Investor asing mulai menarik investasinya untuk dialihkan ke negara lain yang dinilai lebih aman dan menguntungkan. 

"Situasi ini biasanya dipengaruhi oleh perubahan kebijakan ekonomi global. Saat suku bunga di Amerika Serikat meningkat, investor cenderung memindahkan dananya ke negara tersebut karena dinilai memberikan keuntungan yang lebih besar dan risiko yang lebih kecil. Akibatnya, dana asing keluar dari Indonesia dan permintaan terhadap dolar meningkat signifikan," katanya. (*)