KETIK, SURABAYA – Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Surabaya, Siti Maryam, menegaskan tidak ada pungutan liar dalam program Pramuka Garuda maupun kegiatan pemecahan rekor MURI yang dijadwalkan digelar pada 6 Juni 2026.

Penegasan ini disampaikan sebagai respons atas isu yang beredar terkait dugaan penarikan biaya kepada peserta didik.

Siti Maryam yang akrab disapa Kak Uti menegaskan, seluruh kegiatan kepramukaan tersebut tidak membebani siswa dengan biaya apa pun, baik dari Kwarcab, sekolah, maupun Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

“Pramuka itu tidak ada pungutan sama sekali. Kalau untuk atribut seperti TKK dan SKU, orang tua bisa membeli sendiri. Sekarang sudah banyak tersedia secara online atau di Pasar Turi. Saya juga sudah menginstruksikan pembina agar tidak menerima apa pun,” tegasnya.

Ia memastikan, proses menuju Pramuka Garuda merupakan hak setiap siswa yang harus difasilitasi tanpa adanya tambahan biaya. “Tidak boleh ada penarikan dana sekecil apa pun dari murid. Ini hak mereka dan harus kita dukung,” ujarnya.

Baca Juga:
Tujuh Kloter! Sebanyak 2.612 Jemaah Haji Sudah Diberangkatkan dari Embarkasi Surabaya

Menanggapi isu bahwa pungutan digunakan untuk membiayai kegiatan pemecahan rekor MURI, Uti menegaskan bahwa seluruh kebutuhan kegiatan tersebut ditanggung secara pribadi olehnya.

“Untuk kegiatan MURI ini saya gunakan uang pribadi. Ini bagian dari pengabdian saya di usia 64 tahun, sebagai bentuk Amar Ma’ruf untuk memberi kenang-kenangan dan membentengi generasi muda Surabaya,” katanya.

Sementara itu, untuk kegiatan besar lainnya seperti Jambore Cabang dan Lomba Tingkat (LT), ia menjelaskan bahwa pendanaan dilakukan melalui mekanisme resmi dengan pengajuan proposal kepada Disbudporapar dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

“Semua penggunaan anggaran negara dilakukan secara transparan, mulai dari monitoring, dokumentasi kegiatan, hingga laporan pertanggungjawaban,” jelasnya.

Baca Juga:
1 JCH Asal Pasuruan Diduga Alami Gejala TBC, Dirujuk ke Rumah Sakit Asrama Haji Surabaya

Rencana pemecahan rekor MURI tersebut akan melibatkan sekitar 65.000 peserta, menyesuaikan momentum peringatan HUT Pramuka ke-65. Kegiatan ini diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat kepramukaan di kalangan pelajar.

“Pramuka harus inovatif. Kalau diam, idealisme Pramuka bisa hilang tergerus zaman. Kami ingin membentengi anak-anak dari narkoba dan pergaulan bebas,” tuturnya.

Uti Maryam juga menyayangkan adanya pihak yang menyebarkan isu negatif tanpa melakukan konfirmasi langsung. Ia berharap seluruh anggota Pramuka tetap memegang teguh nilai Dasadharma, terutama kejujuran dalam perkataan dan tindakan. (*)